MBG: Ketika Sepiring Nasi Membawa Harapan

Berita Terkait

Tulisan ini masih tetap membicarakan apa yang tersaji di dalam omprengan MBG. Dan memang, persoalannya bukan semata pada rasa makanan. Karena anak-anak itu makhluk yang sederhana. Hari ini mereka bilang kurang suka. Besok bisa saja mereka bilang enak. Lidah mereka masih berubah-ubah. Selera mereka juga belum tentu sama.

Tetapi persoalan lainnya adalah tentang kecukupan.

Karena MBG sejak awal lahir bukan sekadar untuk memastikan anak-anak tidak lapar di sekolah. Program ini datang dengan cita-cita yang jauh lebih besar. Ada soal gizi. Ada soal stunting. Ada soal kualitas sumber daya manusia. Ada juga cerita besar tentang masa depan bangsa.

Artinya yang sedang dibagikan bukan sekadar nasi, lauk, dan buah. Yang sedang dibagikan adalah harapan. Harapan bahwa anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah akan tumbuh lebih sehat. Akan belajar lebih baik. Akan memiliki masa depan yang lebih baik.

Karena itulah pertanyaannya juga menjadi lebih besar. Apakah ukuran keberhasilan MBG hanya sekadar makanan sampai ke sekolah? Atau justru keberhasilannya diukur dari apakah anak-anak benar-benar mendapatkan apa yang mereka butuhkan?

Sebab kenyang dan bergizi ternyata dua perkara yang kadang tidak selalu berjalan bersama.

Semangkuk mi instan juga bisa membuat perut terasa penuh. Segelas minuman manis juga bisa menghilangkan lapar sesaat. Tetapi tubuh anak-anak tidak dibangun hanya dengan rasa kenyang.

Tubuh mereka sedang menyusun tulang. Sedang membangun otot. Sedang membentuk sel-sel baru setiap hari. Mereka sedang tumbuh. Dan pertumbuhan tidak bisa dinegosiasikan.

Sesungguhnya perjalanan sepiring makanan itu sebelum sampai ke meja anak-anak kita ternyata menyusuri rute yang tidak pendek. Di situlah mulai muncul kekhawatiran kecil bahwa anggaran yang semestinya hadir di atas piring anak-anak justru banyak berceceran di jalan.

Ada tahap pembelian bahan. Ada orang yang memasak. Ada wadah yang harus disiapkan. Ada kendaraan yang mengangkut. Ada petugas yang membagikan. Ada sekolah yang menerima.

Di setiap titik itu ada biaya. Ada tenaga. Ada proses. Dan semakin panjang rantainya, semakin banyak juga titik yang harus dijaga.

Karena kita semua tahu, dalam perjalanan yang panjang, selalu ada kemungkinan sesuatu berkurang di tengah jalan. Kadang berkurang karena biaya. Kadang berkurang karena proses. Kadang juga berkurang karena hal-hal yang tidak pernah terlihat oleh mata orang tua.

Maka wajar jika ada yang mulai bertanya, dari sepiring makanan yang diterima anak-anak itu, sebenarnya berapa yang benar-benar berubah menjadi makanan, dan berapa yang habis di perjalanan?

Saya tidak sedang menuduh siapa-siapa.

Saya hanya sedang mencoba menjadi orang tua biasa. Karena orang tua memang sering berpikir terlalu jauh ketika urusannya menyangkut anak.

Sebab jika negara sudah memutuskan masuk sampai ke isi piring anak-anak kita, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar rasa makanan.

Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan. Dan kepercayaan, seperti halnya gizi, harus benar-benar sampai utuh ke tangan anak-anak.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https:///www.myedisi.com/mimbarumum

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Kapolri Akhirnya Berganti, Tapi Apa yang Sebenarnya Berubah?

Pergantian Kapolri akhirnya terjadi. Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyerahkan tongkat komando kepada Jenderal Suyudi Ario Seto. Presiden Prabowo melantik...