Kami Kehilangan: Ulama Yang Penulis Itu Kini Telah Tiada

Seperti biasa, pagi-pagi aku nyalakan android lalu mengaktifkan fasilitas internetnya. Dan seperti biasanya pula,  sistem loading android yang ku genggam ini bermasalah, agak lelet. Kata orang-orang, itu disebabkan banyaknya  pesan-pesan WA dan FB yang tiba-tiba masuk ke dalam sistem komunikasiku dalam waktu yang bersamaan  sehingga perangkat menjadi sempoyongan. Tapi kalau kataku, memang ponselnya juga layak diganti. He… he…

Memang, di android ku ini banyak sekali grup-grup WA. Meski aku tak pernah merasa diajak atau diminta ijin ikut  bergabung, tetapi entah bagaimana nomor WA ini dimasukkan dalam belasan grup. Mau keluar, ada rasa tak enak  dengan orang yang telah berbaik hati mengajakku menjadi bagian dari grup itu. Akhirnya aku tetap bertahan dan  memilih bersabar ketika fungsi perangkat komunikasi ini tak normal.

Aku lebih memilih memeriksa dahulu pesan-pesan yang masuk via WA ketimbang pesan melalui FB. Alasannya,  pesan WA lebih mudah dilihat dan biasanya lebih banyak. Lalu, aku pilih mana yang pertama harus dibuka. Pilihan  jatuh pada sebuah pesan dari nomor seorang staff-ku. Ini aku pilih, karena dia termasuk yang jarang  menyampaikan pesan- sehingga aku berfikir pasti ada hal sangat penting disampaikannya.

Benar saja, pesan itu  membuat aku nyaris tidak percaya. Ia mengabarkan bahwa Ustadz Sofyan Saha, yang notabene adalah penulis kolom Hidayah Harian Mimbar Umum  telah meninggal dunia tadi malam sekira pukul 23.23 WIB di sebuah Rumah Sakit swasat di Kota Binjai.

Aku nyaris tidak yakin, namun aku cenderung percaya dengan yang diucapkannya. Pertama, karena dia  berdomisili di Kota Binjai yang artinya berdekatan dengan alamat Sang Ustadz. Kedua, pesan yang  disampaikannya itu adalah pesan terusan dari Ustadz Latief Khan yang saat itu sedang melaksanakan umrah.  Ketiga, dia staffku dan aku telah memberikan kepercayaan padanya.

Spontan ku hubungi staff tadi via panggilan seluler untuk memastikan pesan itu. Dia malah menyebutkan, di FB juga  sudah ramai. Segera ku tutup pembicaraan dan bergegas membuka FB. Lah, ternyata benar yang  disampaikannya. Seorang teman sudah memposting kabar itu, bahkan sudah ada yang memberikan komentar.  Begitu juga seorang teman di Tanjung Balai sana, dia juga sudah memajang foto kenangan bersama almarhum  dalam sebuah acara. Aku benar-benar ketinggalan kabar ini, sesalku.

Pesan-pesan lain di grup lain ku abaikan.  Aku segera menghubungi rekan kerjaku Pak Jalaluddin. Aku berfikir  beliau pasti sudah mengetahui informasi ini sehingga aku tidak mencoba mengabarkan hal itu tetapi langsung  menanyakan posisinya dan mengajaknya segera berangkat ke alamat duka. Eh, ternyata beliau  juga belum  mendapat informasi duka ini. Dia meminta waktu sekira satu jam untuk bersiap-siap karena dirinya baru saja selesai  jogging.

Sembari menanti persiapan rekan tadi, aku mencoba menghubungi seorang sahabat yang agak jauh di Tanoh  Pakpak Sidikalang sana. Bukan tanpa alasan aku menghubunginya. Teman yang juga kuanggap orangtua  sekaligus guru ini yang adalah seorang pengusaha Kopi Tanpak Sidikalang, juga sangat mengenal almarhum.  Sehari sebelum kabar duka ini, pengusaha ini menelpon saya tentang sesuatu keperluan lalu berlanjut  menyampaikan informasi tentang rencana pelaksanaan walimahan anaknya yang kelima.

“Insya Allah. Hari Kamis antum datang. Yang isi Ustadz Saha (Dr. Sofyan Saha-red.),” ucap H. Sabilal Rasyad  Maha, Senin (12/3) siang memintaku bisa berhadir ke Sidikalang pada momentum itu.

Ponselku masih berdering melakukan panggilan. Panggilan pertama disebutkan sedang sibuk. Lalu aku ulangi lagi  memanggil nomor seluler milik pengusaha kopi itu. Telpon ku pun berjawab dan aku langsung menanyakan perihal  kabar duka itu. Alhamdulillah beliau juga sedang bersiap-siap berangkat ke Medan untuk melayat. Padahal,  sebelumnya sahabat itu merencanakan baru akan ke Medan pada Hari Jum’at mendatang sekaligus mengajak  aku untuk bertemu.

Kaki kanan ku masih terus menekan gas dan sesekali meredam laju kendaraan.  Rekan kerjaku tadi, Pak Jalaluddin sudah bersamaku. Sesampai di Jalan Medan-Binjai Km.10 arus lalulintas agak  tumpat. Laju kendaraan hanya bisa dengan sangat perlahan. Fikirku, mungkin ini karena banyaknya kendaraan  pelayat yang parkir di kiri kanan bahu jalan. Dugaan kami ternyata benar bahkan kami pun kesulitan memarkirkan  kendaraan. Kami harus rela berjalan kaki lebih jauh untuk menuju rumah duka.

Sayangnya, kami tidak menemukan aparat kepolisian berupaya melakukan pengaturan lalu lintas agar kemacetan  di kawasan itu bisa terurai. Jikapun kami melihat aparat, mereka berada di tempat lain yang dekat dengan rumah  duka. Pengaturan lalulintas itu hanya mengandalkan sejumlah masyarakat dan petugas parkir.

Kami dapat lokasi parkir yang lumayan jauh dari Jalan Suka Bumi Baru yakni jalan masuk menuju Gang I di mana  rumah duka berada. Memasuki gang itu, kami sungguh takjub dengan jumlah pelayat  yang meluber. Saking  banyaknya, para pelayat kesulitan untuk keluar atau masuk. Persis seperti kemacetan di Jalan Medan-Binjai  Km.11,2 tadi.

Berjalan dengan sangat lambat dan berhimpitan di dalam gang kecil, kami berpapasan dengan sejumlah tokoh  dan ulama.  Mereka berjalan keluar dari rumah duka sementara kami berjalan masuk. Ada Ketua MUI Sumut, Prof.Abdullahsyah, Ketua MUI Medan Prof. M. Hatta, Sekjen MUI Medan Hasan Maksum, Prof. Ramli Wakid dan  beberapa tokoh lainnya. Sebelum itu, mungkin juga sudah banyak pejabat atau tokoh-tokoh lain melayat. Kami  mungkin tak sempat berjumpa.

Akhirnya, sampai jua kami di sebuah halaman sekolah yang bernama Baitul Qur’an. Ini persis berada di belakang  rumah almarhum. Agaknya ini adalah ladang pahala almarhum dalam membina generasi qur’ani. Di sini sudah  sangat padat pelayat. Ketika kami sampai, mereka sedang bersiap-siap melakukan sholat jenazah.

“Ayo, silakan ambil wudhu di sana,” ucap seseorang memandu setiap pelayat yang baru memasuki halaman  sekolah itu. Kami pun antri untuk berwudhu di kamar mandi sekolah itu. Belum lagikami mendapat giliran berwudhu,  tiba-tiba sholat jenazah sudah dimulai. “Waduh”, fikirku. “Aku tak sempat ini menyolatkan,” gumamku dalam hati.

Selesai kami berwudhu, ternyata kami lihat ruangan sekolah sudah penuh sesak jamaah sholat jenazah. Sementara  masih banyak lagi yang berdiri belum berkesempatan melaksanakan sholat. Usai sholat, orang yang tadi  memandu untuk berwudhu, kembali menguatkan suaranya, “Ayo, sekarang termin keempat. Yang belum berwudhu  cepat,” katanya. Masya Allah, pelaksanaan sholat jenazah itu ternyata sudah tiga kali dilakukan. Dan kini giliran  kami, termin keempat.

Pemandu sudah mengatakan bahwa ini yang terakhir karena jenazah akan segera dibawa ke masjid sebelum  diberangkatkan ke pemakaman. Tapi tiba-tiba, setelah kami selesai sholat, dibagian belakang kami masih ada  beberapa orang yang bersiap untuk melaksanakan shalat jenazah. Maka, termin kelimapun dilaksanakan.

Ketika jenazah dibawa ke masjid, terlihat pelayat sembari mengiringi  juga mengabadikan momentum itu dengan  kamera ponsel. Lagi. lagi Masya Allah ruangan Masjid Istiqomah yang berlokasi di Jalan Medan – Binjai Km.11,2 itu  tak mampu menampung. Sebagian terpaksa tidak ikut sholat berjamaah. Mereka menanti giliran untuk  melaksanakan sholat fardhu Zuhur.
Usai sholat Zuhur, ternyata masih banyak lagi jamaah yang berkeinginan melaksanakan sholat jenazah. Maka  sholat jenazah termin keenam pun dilaksanakan. Sungguh,pemandangan itu menjadi bukti bahwa Dr. Sofyan Saha  benar-benar sosok ulama yang dicintai umatnya.

Dalam setiap ceramahnya, beliau selalu mampu memberikan motivasi kepada para jamaah untuk bangkit menuju  kebaikan. Suaranya yang khas mampu menghipnotis jamaah. Aku teringat sekali ketika Ketua Da’i  Asia Tenggara  ini memberikan tausyiahnya kepada kami awak redaksi Harian Mimbar Umum. Beliau begitu cerdas dalam  menyampaikan nilai-nilai Islam dikaitkan dengan profesi kami sebagai seorang jurnalis maupun karyawan  perusahaan. Ia bangkitkan kami untuk bekerja dengan niat ikhlas agar bernilai ibadah.

Kemampuan Dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara itu ternyata tidak hanya hebat dalam retorika  ceramahnya, ia juga mumpuni dalam dunia tulis menulis. Di tengah kesibukannya sebagai penceramah, sebagai  dosen, sebagai pengurus MUI Sumut, sebagai aktifis gerakan, sebagai pengelola lembaga pendidikan dan  pesantren, Sofyan Saha juga masih sempat setiap hari menorehkan tintanya di Kolom Hidayah Harian Mimbar  Umum. Setiap hari. Sekali lagi saya katakan setiap hari. Ya, setiap hari dia menulis untuk Mimbar Umum. Ini  membuktikan bahwa ia sosok yang luar biasa.

Tulisannya yang singkat, padat dan bermakna itu telah menjadi semacam cirikhas Mimbar Umum. Tak ada media  lain yang memiliki ke-khas-an seperti itu. Bisa jadi karena memang tidak mudah menulis dengan bahasa ringan,  cerdas, singkat namun sarat makna seperti yang dituliskan almarhum. Maka tak heran, setiap edisi penerbitan  Mimbar Umum, pembaca selalu menantikannya.

Pernah suatu kali, posisi Kolom Hidayah bergeser. Maka tak lama kemudian, telepon kami terus berdering  mempertanyakan tentang kolom yang diasuh Ustadz Sofyan Saha itu. Malahan kami pernah berjumpa langsung  dengan beberapa pembaca setia kami, mereka mengaku kolom yang pertama kali mereka baca hingga tuntas  adalah Kolom Hidayah. Masya Allah, beliau memang bernas.

Sebelum ketentuan berupa dipanggilnya Ustadz Sofyan Saha di sisi-Nya, aku sempat beberapa kali terlibat  komunikasi dengannya. Mulai dari niat mulianya mendirikan sebuah pesantren di Kabupaten Langkat, hingga  rencana untuk menerbitkan buku yang berisi tulisan-tulisan beliau di Harian Mimbar Umum.

Almarhum juga sosok yang suka membimbing dan mengarahkan. Aku teringat ketika suatu kali dia bersama  seorang anak muda menjumpaiku di kantor. Dia berucap (maaf kalau aku keliru menirukannya), “Pak. Ini dulu  mahasiswa saya dan baru saja menyelesaikan S2 nya. Dia anak muda yang potensial. Cocok ini untuk nulis-nulis di  Mimbar Umum”.

Anak muda itu adalah Fuji Rahmadi yang baru saja meraih gelar doktor belum lama ini. Ketika itu aku  mempercayakannya untuk mengasuh rubrik Hukum Islam yang terbit setiap hari Jum’at. Ini aku anggap paling tepat  karena sesuai dengan latarbelakang pendidikannya pada hukum Islam. Rubrik ini berjalan hingga bertahun,  sampai akhirnya Fuji Rahmadi pun semakin padat kesibukannya  sebagai pencermah dan sedang menyelesaikan  pendidikannya ketika itu, rubrik itu pun terhenti.

Setelah itu, almarhum Sofyan Saha juga sempat mempromosikan seorang mahasiswanya juga yang dianggap  potensial dan memiliki semangat entrepreuner yang tinggi. Sayangnya, ini belum sempat ditindaklanjuti. Terakhir,  beliau juga pernah menghubungkan aku sebagai representasi Mimbar Umum dengan seorang temannya yang  mengelola sebuah badan amil zakat. Dia berharap ada kerjasama yang bisa dibangun antar institusi kami.

Sungguh. Kami sangat kehilangan atas kepergiannya. Sosok luar biasa yang memberikan keteladanan bagi  semuanya. Semoga Allah Swt menempatkan beliau di tempat yang terbaik. Mengampuni segala kesalahan dan  melipatgandakan amal kebaikannya. Wassalam. (Ngatirin)