Kalibata: Permukiman Padat Warisan Budaya Jakarta

Berita Terkait

 

mimbarumum.co.id – Kalibata adalah salah satu kawasan terkenal di Jakarta Selatan, tepatnya berada di Kecamatan Pancoran. Kawasan ini dikenal karena berbagai fasilitas penting seperti Makam Pahlawan Kalibata, Apartemen Kalibata, dan pusat perbelanjaan. Namun, di balik popularitasnya, sejarah penamaan Kalibata masih jarang diketahui masyarakat luas.

Sejak hijrah dinas ke Ibu Kota Republik Indonesia ini, penulis indekos di kawasan ini. Konon, nama “Kalibata” memiliki akar sejarah yang menarik, terkait dengan masa kolonial Belanda, budaya Betawi, dan perkembangan Jakarta sebagai ibu kota.

Secara etimologi kata ini berasal dari bahasa Belanda, yakni “Kali Bata” yang berarti “Sungai Batu Bata”. Teori ini paling banyak dipercaya mengenai asal nama Kalibata. Kali dalam bahasa Indonesia berarti sungai, sementara bata berasal dari kata “Baksteen” (bahasa Belanda) yang berarti batu bata.

Pada masa kolonial, daerah ini dikenal sebagai lokasi pembuatan batu bata untuk pembangunan Batavia. Sungai yang mengalir di kawasan tersebut digunakan untuk mengangkut material batu bata, sehingga disebut Kali Bata. Seiring waktu, pengucapan “Kali Bata” berubah menjadi “Kalibata” karena penyesuaian lidah masyarakat setempat.

Anshary (2018) dalam buku “Jakarta Tempo Doeloe: Sejarah Kawasan Kota” menyebutkan bahwa banyak nama tempat di Jakarta berasal dari penamaan Belanda yang kemudian dilafalkan secara lokal. Shahab (2009) dalam “Robin Hood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe” juga menyinggung bahwa beberapa wilayah di Jakarta, termasuk Kalibata, memiliki sejarah terkait industri kolonial.

Pada abad ke-18 dan ke-19, Batavia berkembang pesat, dan pembangunan gedung-gedung membutuhkan material batu bata. Pabrik batu bata didirikan di sekitar wilayah yang kini disebut Kalibata karena tanahnya yang subur dan adanya aliran sungai untuk transportasi material. Sungai Ciliwung (atau anak sungainya) digunakan untuk mengangkut batu bata ke pusat kota.

De Haan (1922) dalam “Oud Batavia” mencatat bahwa daerah sekitar Meester Cornelis (kini Jatinegara) dan sekitarnya menjadi pusat industri batu bata. Meneer ini menyebutkan adanya industri batu bata di wilayah selatan Batavia. Heuken SJ (2007) dalam “Historical Sites of Jakarta, menjelaskan bahwa kawasan Kalibata termasuk dalam wilayah pengembangan industri kolonial.

Beberapa sejarawan juga mengaitkan nama Kalibata dengan bahasa Sunda atau dialek Betawi. “Kali” berarti sungai, sedangkan “bata” bisa merujuk pada “bata-bata” (bekas atau sisa-sisa). Ada kemungkinan daerah ini dahulunya merupakan bekas aliran sungai yang mengering atau sisa-sisa aktivitas masyarakat.

Namun, sepertinya teori tersebut kurang kuat dibandingkan dengan teori etimologi Belanda karena kurangnya bukti arsip kolonial. Almarhum budayawan Saidi (2013) dalam “Glosari Bahasa Betawi”, menyebut bahwa beberapa nama tempat di Jakarta memiliki akar dari bahasa Sunda Kuno.

Kalibata awalnya merupakan daerah pinggiran Batavia yang digunakan untuk pertanian dan industri. Pembangunan rel kereta api pada akhir abad ke-19 meningkatkan aksesibilitas kawasan ini.

Setelah kemerdekaan, Kalibata mulai berkembang sebagai kawasan permukiman. Pada 1954, didirikan Taman Makam Pahlawan Kalibata oleh pemerintah Indonesia untuk menghormati pejuang kemerdekaan. Nama Kalibata semakin terkenal karena makam ini menjadi tempat peristirahatan para pahlawan nasional. Kementerian Sosial RI (2015) dalam “Sejarah TMP Kalibata” menjelaskan bahwa pemilihan lokasi ini karena letaknya yang strategis.

Pada 1980-an, pemerintah mengembangkan perumahan dan apartemen di Kalibata. Kawasan ini menjadi salah satu pusat bisnis dan permukiman padat di Jakarta Selatan. Kalibata telah bertransformasi menjadi kawasan urban yang penting, tetapi sejarah penamaannya tetap menjadi bagian dari warisan budaya Jakarta.

mimbarumum.ci id – Kalibata adalah salah satu kawasan terkenal di Jakarta Selatan, tepatnya berada di Kecamatan Pancoran. Kawasan ini dikenal karena berbagai fasilitas penting seperti Makam Pahlawan Kalibata, Apartemen Kalibata, dan pusat perbelanjaan. Namun, di balik popularitasnya, sejarah penamaan Kalibata masih jarang diketahui masyarakat luas.

Sejak hijrah dinas ke Ibu Kota Republik Indonesia ini, penulis indekos di kawasan ini. Konon, nama “Kalibata” memiliki akar sejarah yang menarik, terkait dengan masa kolonial Belanda, budaya Betawi, dan perkembangan Jakarta sebagai ibu kota.

Secara etimologi kata ini berasal dari bahasa Belanda, yakni “Kali Bata” yang berarti “Sungai Batu Bata”. Teori ini paling banyak dipercaya mengenai asal nama Kalibata. Kali dalam bahasa Indonesia berarti sungai, sementara bata berasal dari kata “Baksteen” (bahasa Belanda) yang berarti batu bata.

Pada masa kolonial, daerah ini dikenal sebagai lokasi pembuatan batu bata untuk pembangunan Batavia. Sungai yang mengalir di kawasan tersebut digunakan untuk mengangkut material batu bata, sehingga disebut Kali Bata. Seiring waktu, pengucapan “Kali Bata” berubah menjadi “Kalibata” karena penyesuaian lidah masyarakat setempat.

Anshary (2018) dalam buku “Jakarta Tempo Doeloe: Sejarah Kawasan Kota” menyebutkan bahwa banyak nama tempat di Jakarta berasal dari penamaan Belanda yang kemudian dilafalkan secara lokal. Shahab (2009) dalam “Robin Hood Betawi: Kisah Betawi Tempo Doeloe” juga menyinggung bahwa beberapa wilayah di Jakarta, termasuk Kalibata, memiliki sejarah terkait industri kolonial.

Pada abad ke-18 dan ke-19, Batavia berkembang pesat, dan pembangunan gedung-gedung membutuhkan material batu bata. Pabrik batu bata didirikan di sekitar wilayah yang kini disebut Kalibata karena tanahnya yang subur dan adanya aliran sungai untuk transportasi material. Sungai Ciliwung (atau anak sungainya) digunakan untuk mengangkut batu bata ke pusat kota.

De Haan (1922) dalam “Oud Batavia” mencatat bahwa daerah sekitar Meester Cornelis (kini Jatinegara) dan sekitarnya menjadi pusat industri batu bata. Meneer ini menyebutkan adanya industri batu bata di wilayah selatan Batavia. Heuken SJ (2007) dalam “Historical Sites of Jakarta, menjelaskan bahwa kawasan Kalibata termasuk dalam wilayah pengembangan industri kolonial.

Beberapa sejarawan juga mengaitkan nama Kalibata dengan bahasa Sunda atau dialek Betawi. “Kali” berarti sungai, sedangkan “bata” bisa merujuk pada “bata-bata” (bekas atau sisa-sisa). Ada kemungkinan daerah ini dahulunya merupakan bekas aliran sungai yang mengering atau sisa-sisa aktivitas masyarakat.

Namun, sepertinya teori tersebut kurang kuat dibandingkan dengan teori etimologi Belanda karena kurangnya bukti arsip kolonial. Almarhum budayawan Saidi (2013) dalam “Glosari Bahasa Betawi”, menyebut bahwa beberapa nama tempat di Jakarta memiliki akar dari bahasa Sunda Kuno.

Kalibata awalnya merupakan daerah pinggiran Batavia yang digunakan untuk pertanian dan industri. Pembangunan rel kereta api pada akhir abad ke-19 meningkatkan aksesibilitas kawasan ini.

Setelah kemerdekaan, Kalibata mulai berkembang sebagai kawasan permukiman. Pada 1954, didirikan Taman Makam Pahlawan Kalibata oleh pemerintah Indonesia untuk menghormati pejuang kemerdekaan. Nama Kalibata semakin terkenal karena makam ini menjadi tempat peristirahatan para pahlawan nasional. Kementerian Sosial RI (2015) dalam “Sejarah TMP Kalibata” menjelaskan bahwa pemilihan lokasi ini karena letaknya yang strategis.

Pada 1980-an, pemerintah mengembangkan perumahan dan apartemen di Kalibata. Kawasan ini menjadi salah satu pusat bisnis dan permukiman padat di Jakarta Selatan. Kalibata telah bertransformasi menjadi kawasan urban yang penting, tetapi sejarah penamaannya tetap menjadi bagian dari warisan budaya Jakarta.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

BPS dan Bank Dunia Jelaskan Perbedaan Angka Kemiskinan Indonesia, Bukan Berarti Kondisi Makin Miskin

mimbarumum.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Bank Dunia memberikan penjelasan terkait perbedaan angka kemiskinan Indonesia yang menggunakan garis kemiskinan...