mimbarumum.co.id – Di tengah hiruk-pikuk arus informasi digital yang serba cepat, ada sebuah fenomena mengkhawatirkan, bencana yang melanda ribuan nyawa di Sumatera Utara dan Aceh perlahan tenggelam dalam “kelelahan berita” atau sering disebut news fatigue. Begitu headline berganti, perhatian publik dan media arus utama pun beralih, meninggalkan ribuan penyintas yang masih bergelut di tengah puing-puing.
Namun, di Auditorium Bung Karno Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Medan, Sabtu (7/3/2026), sebuah perlawanan dilakukan. Bukan dengan spanduk atau demonstrasi, melainkan melalui panggung teater.
Pementasan bertajuk “Ketika Air Datang, Perempuan Bertahan” bukan sekadar tontonan seni. Ia adalah manifestasi dari Performance Journalism atau jurnalisme pertunjukan, di mana para jurnalis yang biasanya duduk di balik meja redaksi, turun langsung ke atas panggung. Mereka menggunakan tubuh, suara, dan emosi untuk menghidupkan kembali kisah-kisah yang mulai dilupakan.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), Rumah Literasi Ranggi (RLR), dan komunitas teater Medan Teater Tronic (MTT). Ide ini muncul sebagai respons langsung atas temuan lapangan para jurnalis yang melihat kesenjangan antara data statistik dan realitas kemanusiaan.

“Awalnya kami melihat data dari media, lalu turun langsung melihat kondisi para korban. Sekarang suara mereka sudah jarang terdengar di televisi, radio, atau media lainnya, padahal dampak bencana itu masih belum selesai,” ungkap Khariah Lubis, Ketua Umum FJPI, yang akrab disapa Awi, Sabtu (7/3/2026).
Menurut Awi, hingga awal Ramadan, sekitar 13.000 warga masih bertahan di pengungsian. Sebagian besar hidup di tenda, sementara yang lain menyewa rumah sementara atau bertahan di rumah rusak. “Kondisinya belum banyak berubah, apalagi menjelang Lebaran,” tambahnya.

Jurnalis Menjadi Aktor, Data Menjadi Emosi
Berbeda dari liputan konvensional yang kaku, pementasan ini melibatkan 20 pemain, termasuk lima jurnalis perempuan yang telah berlatih intensif selama dua bulan. Sutradara teater, Hafiz Taadi, menilai langkah ini menghadirkan medium baru dalam menyampaikan pesan sosial.
“Pagelaran ini bukan untuk membuat orang menangis, tetapi untuk mengingatkan bahwa ada manusia di balik peristiwa bencana itu. Ketika berita sudah senyap, mereka masih ada dan masih berjuang,” tegas Hafiz.
Naskah yang ditulis Ranggini Krisna ini meramu kegelisahan nyata, dengan fokus khusus pada peran perempuan. Salah satu adegan paling menyentuh diperankan oleh Ema Martondang, yang memerankan sosok ibu kehilangan hampir segalanya akibat banjir namun tetap berusaha menjadi kuat demi anak-anaknya.
“Dalam cerita ini, seorang ibu mencoba tetap tegar, menenangkan anak-anaknya meski dirinya sendiri sedang berduka,” kata Ema.
Sebagai pelengkap teater, kegiatan ini juga menghadirkan Pameran Foto Bencana oleh fotografer freelance, Mafa Yuli. Foto-foto yang diambil langsung di lokasi bencana tiga minggu lalu menjadi bukti visual yang menampar realitas.
“Pemulihan di sana belum banyak terjadi. Anak-anak penyintas bahkan banyak yang masih belum kembali bersekolah,” kata Mafa.

Dalam sambutannya, Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dan Pendiri YPSIM, dr. Sofyan, menekankan bahwa bencana alam bukan sekadar takdir.
“Bencana alam yang terjadi di Sumatera Utara, Padang dan yang lainnya bukan karena kutukan Tuhan tapi karena perbuatan manusia, manusialah yang mencederai. Kegiatan ini bukan hanya mengumpulkan donasi tetapi merupakan penyadaran bahwa pentingnya menjaga alam,” pungkasnya.
Melalui pementasan dan pameran foto ini, panitia berharap masyarakat tidak melupakan para korban bencana yang hingga kini masih berjuang untuk bangkit. Selain sebagai media edukasi, kegiatan ini juga membuka pintu penggalangan donasi untuk korban bencana di Sumatera, menandai peringatan International Women’s Day 2026 yang jatuh keesokan harinya.
Di balik tarian cahaya dan dialog di atas panggung, pesan yang tersampaikan jelas: selama media mainstream beralih, seni dan jurnalisme harus tetap menjadi pengeras suara bagi mereka yang tak bersuara.
Reporter : Siti Amelia


