mimbarumum.go.id – Suara lalu lintas yang ramai di sekitar Jembatan Kali Mas, Surabaya, perlahan-lahan mereda, tergantikan oleh suara bariton Cak Seno, seorang pemandu wisata berpengalaman, yang mulai bercerita. “Di sinilah denyut nadi Surabaya kolonial berdetak, Tuan dan Nyonya,” ujarnya, membuka tur wisata budaya yang membawa puluhan peserta Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-34 diselenggarakan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) menyelami lapis-lapis waktu Kota Pahlawan, Minggu (12/10/25).
Tur dimulai dari kawasan yang sama sekali berbeda atmosfernya: Peneleh. Gang-gang sempit dan suasana yang lebih hening menyambut peserta. Cak Seno memulai penjelajahan di rumah tempat Presiden Soekarno dilahirkan (foto).
Tidak jauh dari rumah orang tua presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, Cak Seno menunjukkan Sumur Jobong Majapahit, sumur tua peninggalan Kerajaan Majapahit (foto) dengan konstruksi pipa tanah liat yang unik. “Ini teknologi sederhana tapi canggih pada masanya untuk penyediaan air bersih. Jejak kehidupan sehari-hari yang sering terlupakan,” jelasnya didampingi juru kunci Sumur Jobong Majapahit, Bli Agus.

Selanjutnya peserta dibawa ke Makam Peneleh (foto), kompleks pemakaman modern pertama bagi warga Eropa yang dibuka sejak 1847.

“Di sini tidur para mantan tuan dari Belanda. Tapi, yang menarik, kawasan di sekitarnya justru melahirkan para pemimpin yang mengusir para tuan itu,” ucap Cak Seno dengan kalimat yang penuh metafora, mengantarkan peserta ke destinasi utama: Rumah H.O.S. Tjokroaminoto (foto).

Dengan khidmat, Cak Seno didampingi pramutamu Museum Rumah H.O.S. Tjokroaminoto, Bening Ken Bidayah, bercerita tentang Sang Guru Bangsa. “Rumah ini adalah ‘kawah candradimuka’-nya para pendiri bangsa. Soekarno, Semaun, Kartosuwiryo, mereka pernah mondok di sini, belajar pemikiran dan pergerakan dari Tjokro. Dari gang kecil inilah ide-ide besar tenntang Indonesia merdeka disemai,” tuturnya, membuat semua peserta diam mendengarkan, mencoba menyerap energi sejarah di lokasi yang sangat otentik tersebut.
Cak Seno yang bernama Dimas Okidhana Putro Seno dari Mijelajahtourindonesia mengajak peserta untuk merasakan cita rasa khas Surabaya di Oleh-Oleh Bu Rudi. Tempat legendaris yang telah berdiri sejak 1995 ini ramai dikunjungi wisatawan yang ingin membawa pulang sambal botol “setopan”, petis udang, udang goreng kering, dan aneka kue tradisional seperti lapis Surabaya.
”Tidak afdal pulang dari Surabaya tanpa ole-ole dari sini. Ini bukan sekadar oleh-oleh, tapi juga bagian dari memori dan budaya kuliner kota kita,” ujar Cak Seno sambil membantu peserta memilih produk terbaik.
Cak Seno, dengan khasnya yang bersahaja dan kocak, dengan lancar memandu peserta melintasi bangunan-bangunan tua Kota Lama Surabaya yang bisu, namun sarat cerita. Dia berhenti di depan Gedung Internatio, yang megah dengan arsitektur kolonialnya.
“Gedung ini dulu kantor perusahaan dagang Belanda yang sangat besar. Tapi, jangan cuma lihat cantiknya. Di sinilah salah satu percikan Pertempuran 10 November 1945 dimulai, ketika arek-arek Suroboyo nekat menyerbu untuk menurunkan bendera Belanda,” paparnya, membuat para peserta terpana, membayangkan gegap gempita peristiwa bersejarah di balik fasad yang kini terlihat tenang.
Dari sana, rombongan berjalan kaki menuju Museum De Javasche Bank. Cak Seno menjelaskan, gedung bergaya neoklasik ini adalah simbol kekuatan ekonomi Hindia Belanda. “Ini bank sentralnya zaman kolonial. Sekarang kita bisa lihat langsung sejarah uang dan perbankan di masa lalu. Dari sini, kita bisa lihat bagaimana ekonomi menjadi salah satu senjata penjajahan,” ujarnya.
Perjalanan kemudian bergeser ke pengalaman yang berbeda: Sungai Kalimas. ”Sungai ini dulu adalah urat nadi perdagangan. Sekarang, kita bisa menikmatinya dengan cara yang lebih santai. Lihat spot-spot bersejarah yang kita lewati dari perspektif yang berbeda,” ajaknya sambil sesekali menyebutkan nama bangunan tua yang mereka lewati.
Bagi Cak Seno, memandu tur seperti ini bukan sekadar pekerjaan. “Saya ingin orang-orang tidak hanya melihat Surabaya sebagai kota metropolitan yang sibuk. Ada begitu banyak cerita di setiap sudutnya. Dari gedung megah di Kota Lama sampai rumah sederhana di Peneleh. Semuanya adalah puzzle yang membentuk identitas kita sebagai orang Surabaya dan orang Indonesia,” tutupnya.
Melalui panduan Cak Seno, peserta diajak bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk memahami. Memaknai setiap jejak peninggalan, baik kolonial maupun pergerakan, sebagai bagian dari narasi besar yang membentuk Indonesia hari ini. Dan dalam narasi itulah, peran seorang pemandu seperti Cak Seno menjadi jembatan yang menghidupkan kembali masa lalu untuk pelajaran di masa depan.
• Suyadi San/Dzaky


