“TIDAK ada momen khusus yang membawa saya ke dunia arkeologi,” ujar Retno, yang akrab disapa Mbak Pur, dengan nada rendah hati, saat ditemui di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Selasa (21/10/25). “Saya tumbuh dalam keluarga yang hobi jalan-jalan ke tempat-tempat tidak biasa – gua-gua dan pantai di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Timur,” katanya lagi.
Ya, di antara puing-puing batu candi dan naskah kuno yang berdebu, sosok Dr. Retno Purwanti, M.Hum. bergerak lincah. Tangannya yang cekatan mencatat setiap detail, matanya yang tajam mengamati setiap pola relief, seolah sedang berbicara dengan masa lalu. Perempuan kelahiran Sleman, 31 Oktober 1965 ini telah menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk menyibak tabir sejarah peradaban Hindu-Buddha, khususnya Sriwijaya.
Minatnya pada arkeologi berawal dari kebiasaannya menjelajahi candi-candi di Yogyakarta dan ketertarikannya untuk mengetahui kehidupan di balik pembangunan candi tersebut. Dua momen spesifik semasa SMA semakin mengukuhkan pilihannya. Pertama, di Candi Borobudur, ketika seorang turis Belanda bertanya tentang sejarah candi dan puas dengan jawabannya. Kedua, di Candi Prambanan, ketika turis asing lain bertanya tentang logam penanda batu baru hasil pemugaran.
“Dari situlah saya ingin mempelajari lebih jauh sejarah masa lalu, terutama kemampuan membaca aksara prasasti,” kenang peneliti senior di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN ini.
Retno memulai karier profesionalnya di Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Wilayah Sumatra Barat dan Riau. Namun, ia merasa belum menemukan passion untuk penelitian intensif tentang kesejarahan. Pada Maret 1994, ia memutuskan pindah ke Balai Arkeologi Palembang, yang kemudian membawanya menjadi bagian dari BRIN.

Selama lebih dari 30 tahun, Retno telah memimpin berbagai survei dan penggalian arkeologi di situs era Hindu-Buddha. Proyek terakhir yang dipimpinnya adalah penelitian Jalur Rempah di Daerah Aliran Sungai Musi, Sumatra Selatan tahun 2025. Tak hanya meneliti, ia juga berbagi ilmu sebagai dosen luar biasa di UIN Raden Fatah Palembang (1999-2022) dan Universitas Negeri Jambi (2014-2019).
Perjuangan Melestarikan Warisan Budaya
Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan kariernya adalah ketika menjadi relawan dalam upaya pencegahan penggusuran perkampungan Arab di Palembang, sebuah situs urban heritage, pada 2003-2005.
“Saat itu, justru warga yang meminta saya membantu agar perkampungan mereka tidak digusur untuk pembangunan Jembatan Musi III,” cerita Retno. Sebagai tokoh kunci dalam perjuangan ini, ia berkolaborasi dengan berbagai LSM dan media. Perjuangan panjang itu akhirnya berhasil – kampung tidak jadi digusur dan pembangunan jembatan dibatalkan.
Atas dedikasinya, Kompas menampilkan profilnya dengan judul “Retno Purwanti: Pahlawan Arkeologi Publik” pada 2005 – sebuah julukan yang dianggapnya berlebihan. Media lokal seperti Sriwijaya Post (2001), Berita Pagi (2007, 2009), Sumatera Ekspress (2016), dan kembali Kompas (2020) juga menulis tentang perjuangannya.
Kontribusi Retno dalam dunia arkeologi tercermin dari puluhan karya tulisnya. Menurut repositori Kemendikbud, ia telah menulis berbagai karya penting, termasuk buku “Bengkulu Riwayatmu Dulu” yang mendokumentasikan sejarah Bengkulu. Karya-karyanya menjadi rujukan penting dalam studi arkeologi dan sejarah Sumatra.
Sebagai peneliti, Retno memiliki fokus khusus pada Peradaban Hindu-Buddha, dengan keahlian utama pada periode Sriwijaya. Lebih dari 100 artikelnya telah terbit di prosiding dan jurnal ilmiah nasional maupun internasional. Ia juga aktif sebagai pembicara dalam forum-forum ilmiah sejak 1993 hingga sekarang.
“The first step is the difficult one,” ujar Retno tentang prinsip hidupnya. “Dan selama kita melangkah ke jalur yang benar, Insya Allah akan selalu mendapatkan solusi.”
Perempuan berdarah Jawa ini mengaku sangat beruntung memiliki keluarga yang mendukung penuh setiap langkahnya. “Suami selalu menemani saat saya melakukan aktivitas di luar pekerjaan, ketika beliau tidak ada aktivitas,” tutur ibu tiga putri yang ditinggal suami tercinta ini.
Di waktu senggang, Retno menikmati jalan-jalan dan ngobrol dengan teman-teman komunitas. Tak jarang, mahasiswa S2 arkeologi dan sejarah mengajaknya menelusuri situs-situs di Yogyakarta dan sekitarnya untuk “menimba ilmu” darinya.
Retno berpesan kepada generasi muda: “Lakukan apapun yang menjadi kesenanganmu dan jangan berhenti untuk terus berjuang. Sejarah dipelajari bukan untuk mengenang kejayaan masa lalu, namun untuk bercermin dan mencari hal terbaik yang pernah dilakukan leluhur kita.”
Ia menekankan pentingnya melestarikan cagar budaya. “Masyarakat wajib menjaga kelestarian cagar budaya yang ada di lingkungannya masing-masing,” tegas perempuan yang menyukai tongseng kambing dan tiwul ini.
Dengan semangat yang tetap membara di usianya yang ke-60, Retno Purwanti terus berkontribusi dalam pelestarian warisan budaya Indonesia. Perjalanan panjangnya membuktikan bahwa passion yang diikuti dengan konsistensi mampu menghasilkan karya yang bermakna tidak hanya bagi dunia akademis, tetapi juga bagi masyarakat luas.
“Tetap bisa bermanfaat bagi masyarakat luas” – impian sederhana dari seorang perempuan yang telah mendedikasikan hidupnya untuk merawat memori bangsa, melestarikan warisan nenek moyang, dan menginspirasi generasi penerus untuk terus mencintai sejarah dan budaya Indonesia.
• Suyadi San


