Iksaka Banu Buka Suara Soal Pencalonannya di BRICS Literature Award: “Saya Bingung, dan Akan Menolak Jika Terpilih”

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Geger pencalonan tiga sastrawan Indonesia untuk BRICS Literature Award 2025 memantik respons dari salah satu nama yang tersangkut dalam kontroversi tersebut. Iksaka Banu, penulis komik dan prosa ternama, secara terbuka menyatakan kebingungan dan penolakannya terhadap proses pencalonan yang dinilainya tidak transparan dan penuh tanda tanya.

Dalam pernyataan panjang yang dikeluarkan melalui akun media sosialnya dan disampaikan kepada Mimbar Umum Online, Selasa (28/10/2025), Iksaka mengaku awalnya enggan ikut serta dalam keributan di dunia maya. Namun, hujanan pertanyaan melalui WhatsApp dan inbox Facebook, serta komentar-komentar yang mulai “miring” yang menuduhnya sebagai bagian dari “permainan kurang waras” ini, akhirnya mendorongnya untuk angkat bicara.

Kronologi dimulai sekitar dua minggu lalu, ketika seorang temannya mengirimkan tautan berita dari media luar negeri disertai ucapan selamat. Tautan tersebut mengabarkan, namanya masuk dalam longlist BRICS Literature Award bersama dua sastrawan Indonesia lainnya: Intan Paramaditha dan Denny JA.

“Reaksi pertama saya setelah membaca adalah: bingung,” tulis Iksaka. Serangkaian pertanyaan langsung memenuhi benaknya. “Apa itu BRICS Literature Award? Bagaimana dan mengapa nama saya dan dua nama lagi dari Indonesia bisa muncul? Siapa yang mencalonkan? Siapa yang memilih? Dasar pemilihannya apa?”

Kebingungannya semakin menjadi ketika ia menyadari berita bertanggal 24 September 2025 itu sama sekali tidak diangkat media massa dalam negeri. Dunia sastra Indonesia seolah tidak menyentuh kabar tersebut. Rasa penasarannya mendorongnya untuk bertanya kepada rekan-rekan sastrawan, penerbit, dan wartawan.

“Rata-rata mereka memang tahu berita tentang hubungan Indonesia dengan BRICS yang baru mulai dijalin oleh pemerintah, tetapi sama sekali tidak tahu ada award sastra dari BRICS,” ungkapnya.

Rekan Iksaka kemudian meyakinkannya, berita itu bukan hoaks dengan menunjukkan tautan situs resmi BRICS Award dan sebuah video pengumuman di YouTube yang menampilkan Sastri Bakry berbicara dalam bahasa Inggris. Video yang diunggah sejak September itu nyaris tidak memiliki komentar, sebuah fenomena yang aneh untuk sebuah pengumuman penghargaan sastra internasional.

“Padahal, bukankah ini berita penting bagi dunia sastra?” tanya Iksaka retoris. Apalagi, hadiah yang dijanjikan tidak main-main: satu juta rubel (sekitar Rp209 juta) untuk pemenang utama yang akan diumumkan di Rusia pada November 2025.

Di tengah kegelapan informasi, sebuah kecurigaan mulai mengemuka, terutama setelah melihat nama Denny JA dalam daftar tersebut. Seorang temannya berkomentar, “Jangan-jangan ini mainan barunya Denny JA setelah hoaks Nobel Sastra dan geger buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.” Temannya yang lain menambahkan, “Sebaiknya hati-hati. Uang bisa membeli dan menciptakan apa saja demi keternaran. Termasuk award abal-abal.”

Kecurigaannya semakin menjadi ketika Kamis (23/10/2025), seorang rekan penerbit mengirimi salinan undangan Konferensi Pers BRICS Literature Award. Konferensi pers untuk mengumumkan shortlist akan digelar di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin pada 27 Oktober.

“Beneran nih, Mas. Mereka menepati janji… Tapi nama Mas Banu tergeser ke nomor dua. Denny JA jadi nomor satu,” kata si penerbit.

Mendengar itu, Iksaka justru menyahut dengan tawa, “Ooo, ya berarti sudah makin jelas siapa yang akan terpilih di pengumuman shortlist nanti.” Dengan tegas, ia menyatakan posisinya, “Tapi kalaupun saya yang terpilih, walaupun rasanya itu hal yang sangat mustahil, akan saya tolak. Karena award ini sudah menjurus ke skandal yang justru akan merugikan dan merusak saya seumur hidup.”

Puncaknya, ketika Sabtu (25/10/2025), muncul pernyataan sikap kritikus sastra Maman S. Mahayana, salah satu juri yang ditunjuk. Pernyataan yang berisi kronologi ketidaktransparan proses seleksi dan perubahan urutan kandidat itu semakin mengonfirmasi kekhawatiran Iksaka.

“Makin yakinlah saya bahwa award ini tampaknya hanya suatu permainan dari seorang megalomaniak berkelebihan uang, yang tanpa malu mencatut nama orang semena-mena untuk sebuah skenario drama murahan demi obsesi pribadi yang aneh di dunia sastra,” tulis Iksaka dengan nada kesal.

Ia menegaskan sebuah prinsip dasar dalam dunia seni, “Kita semua tahu, tidak ada jalan pintas dalam dunia seni dan sastra.” Pesan khusus ia sampaikan kepada Denny JA, “Name or recognition is earned and fought. Not bought!” (Nama atau pengakuan itu diperoleh dan diperjuangkan. Tidak dibeli!).

Ketika shortlist akhirnya diumumkan dan, seperti dugaan banyak pihak, Denny JA yang keluar sebagai nominator tunggal dari Indonesia, Iksaka mengaku sama sekali tidak heran. Pernyataannya ini bukan sekadar klarifikasi, tetapi juga sebuah sikap tegas terhadap integritas dunia sastra yang ia junjung tinggi. Ia memilih untuk tidak menjadi bagian dari sebuah “penghargaan” yang prosesnya gelap, dipaksakan, dan beraroma transaksi, meskipun iming-imingnya adalah pengakuan internasional dan hadiah ratusan juta rupiah.

Langkah Iksaka Banu ini mengingatkan kita semua bahwa dalam sastra, kejujuran dan proses kreatif yang autentik adalah segalanya, jauh lebih berharga daripada segala bentuk mahkota yang dibeli dengan uang atau rekayasa.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Sultan Deli XIV: Pembangunan Rendah Karbon Keniscayaan, Kolaborasi Multi-Pihak Jadi Kunci

mimbarumum.co.id - Sultan Deli XIV, Seri Paduka Tuanku Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam Shah, menegaskan bahwa Pembangunan Rendah Karbon...