HISKI Gelar Lokakarya Buku Seabad Setahun Asrul Sani: 52 Penulis Bahas Warisan Intelektual Sang Maestro

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) menggelar lokakarya penulisan buku bersama bertajuk “Seabad Setahun Asrul Sani: Identitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia” secara daring melalui platform Zoom, Jumat (20/2/2026). Kegiatan yang berlangsung dari pukul 08.30 hingga 17.45 WIB ini merupakan tindak lanjut dari penerimaan abstrak para penulis yang akan berkontribusi dalam proyek buku tentang maestro sastra dan film Indonesia tersebut.

Lokakarya dibuka dengan sambutan Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., yang menegaskan pentingnya penyamaan persepsi akademik dalam penulisan buku ini. “Asrul Sani bukan hanya sastrawan Angkatan ’45, tetapi juga sineas dan intelektual humanis yang pemikirannya melintasi batas-batas disiplin ilmu. Melalui lokakarya ini, kami ingin memastikan bahwa warisan intelektual beliau dapat dikaji secara komprehensif dan multidisipliner,” ujar Prof. Novi dalam sambutannya.

Sambutan hangat juga disampaikan Mutiara Sani, Ketua Sanggar Pelakon sekaligus istri almarhum Asrul Sani, melalui Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang bertemu sebelum pelaksanaan lokakarya. Mutiara Sani Sarumpaet itu mengapresiasi inisiatif HISKI dalam melanjutkan pemikiran dan karya sang suami.

“Semoga buku ini menjadi monumen hidup yang terus menginspirasi generasi muda untuk mengenal dan mencintai karya-karya Asrul Sani,” tutur Mutiara sebagaimana ditirukan Novi Anoegrajekti.

52 Penulis Lintas Institusi, Topik Beragam

Lokakarya menghadirkan 52 penulis dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta HISKI Komisariat di sejumlah daerah. Mereka secara bergiliran mempresentasikan abstrak penelitiannya dalam sesi-sesi paralel yang direviu tim editor, yakni Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, Prof. Dr. Aprinus Salam, Dr. M. Yoesoef, M.Hum., dan Prof. Novi Anoegrajekti.

Topik yang diangkat sangat beragam, mulai dari ekologi sastra, humanisme universal, sinema Indonesia, religiositas dalam puisi Asrul Sani, hingga kritik ideologi kebudayaan modern. Beberapa judul presentasi yang menarik perhatian antara lain kajian film legendaris Naga Bonar, puisi ikonik “Surat dari Ibu”, hingga adaptasi transkultural karya Shakespeare oleh Asrul Sani.

Empat penulis asal Sumatra Utara turut memperkaya diskusi akademik ini. Muhammad Hafidz Assalam yang sedang menempuh S3 di Universitas Gadjah Mada mempresentasikan kajian berjudul “Apa Kata Dunia?”: Objet Petit A dan Hasrat Pengakuan dalam Tokoh Nagabonar Karya Asrul Sani”. Sementara itu, Raka Gunaika dari Universitas Sriwijaya bersama timnya mengangkat tema “Asrul Sani dan Dinamika Sastra Indonesia”.

Dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN, Suyadi bersama tim menyoroti “Dari Surat Kepercayaan Gelanggang ke Panggung Teater Modern: Melacak Visi Artistik Asrul Sani sebagai Perintis Teater Indonesia”. Adapun Wan Syaifuddin dari Universitas Sumatera Utara mengkaji “Realitas Akulturasi Etniksitas Batak dan Melayu Teks Naskah dan Skenario Film Naga Bonar Karya Asrul Sani”.

Reaktualisasi Warisan Intelektual Asrul Sani

Kegiatan ini dirancang sebagai forum diskusi ilmiah dan ruang produksi pengetahuan kolektif yang memperluas kajian sastra Indonesia klasik, khususnya dalam perspektif ideologi, humanisme, dan kritik budaya. Tim editor buku ini dikoordinasi oleh Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, didukung Prof. Yoseph Yapi Taum, Prof. Aprinus Salam, Dr. Sastri Sunarti, M.Hum., Dr. M. Yoesoef, M.Hum., dan Sudartomo Macaryus, M.Hum. — menunjukkan bobot ilmiah dan kuratorial yang kuat dalam proyek ini.

Lokakarya ini akan ditindaklanjuti dengan proyek penulisan buku yang direncanakan diluncurkan pada puncak peringatan “Seabad Setahun Asrul Sani’, 10 Juni mendatang. Selain para akademisi, kontributor naskah lainnya juga melibatkan tokoh nasional, sastrawan, dan sineas Indonesia.

Antusiasme Tinggi, Kajian Lintas Disiplin

Lokakarya yang berlangsung selama hampir sembilan jam ini diwarnai diskusi dinamis antarpenulis dan reviewer. Beragam judul presentasi—mulai dari kajian film Naga Bonar, puisi “Surat dari Ibu”, Julius Ceasar dalam adaptasi transkultural, hingga analisis wacana kritis naskah drama Mahkamah—menunjukkan bahwa karya-karya Asrul Sani terus dibaca ulang dalam konteks kebudayaan kontemporer.

“Pemikiran Asrul Sani masih sangat relevan sebagai objek kajian lintas disiplin, yaitu sastra, teater, film, budaya, dan kritik sosial. Ini membuktikan bahwa beliau adalah intelektual organik yang gagasannya melampaui zamannya,” ujar Dr. Sastri Sunarti, M.Hum., pengurus HISKI Pusat yang juga Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, dalam sambutan penutupnya.

Lokakarya resmi ditutup pada pukul 17.45 WIB setelah menyelesaikan seluruh rangkaian presentasi yang mencerminkan tingginya antusiasme akademisi terhadap kajian Asrul Sani secara lintas perspektif keilmuan. Melalui lokakarya ini, HISKI menunjukkan komitmennya untuk mereaktualisasi warisan intelektual Asrul Sani sebagai sastrawan, sineas, dan intelektual humanis Angkatan ’45 yang karyanya tetap membumi hingga hari ini.

• Suyadi San

 

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Jelajah Kuliner Etnik FORKALA Medan Cicipi Nikmatnya Masakan Khas Jogja

mimbarumum.co.id - Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (FORKALA) Kota Medan menggelar kegiatan bertajuk 'Jelajah Kuliner Etnik' di Warung Jogja...