Harga Cabai di Tingkat Petani Tapsel Hanya Rp8 Ribu/Kilo

mimbarumum.co.idProduktivitas panen petani cabai merah di Kabupaten Tapanuli Selatan dimasa pandemi COVID-19 khususnya di Kecamatan Arse terbilang menurun akibat harga turun.

“Harga sekilo (1 kg) tingkat petani cuma Rp8 ribu,” kata Ketua Kelompok Tani Wanita (KWT) Mawar Desa Nanggar Jati, Kecamatan Arse Rennida Batubara kepada ANTARA, Jumat (26/6).

Kemudian harga jual cabai merah yang Rp8 ribu sekilo tidak lagi sebanding dengan biaya produksi sekitar 3-4 juta rupiah/rante ( 80 -100 juta rupiah) per hektare (25 rante).

Hasil panen cabai merah KWT Mawar dua hari lalu (24/6) berkisar 70 kwintal/ha dijual seharga 8-10 ribu rupiah/kg atau senilai 56-70 juta rupiah/ha.

Baca Juga : Dua Tahun Tanaman Kopi Diserang Hama

“Panen sebelumnya mencapai 90,7 kwintal/ha harga jual diatas Rp20 ribu, atau ada penurunan produktivitas kali ini sekitar 27 persen,” ujarnya.

Selisih harga jual terhadap biaya produksi juga berdampak terhadap defisiensi unsur hara menjadikan petani enggan melakukan pemupukan. Alhasil produktivitas juga menurun.

Nataliana, petugas BPP Arse mengatakan, selain faktor nilai harga jual petani menurun, faktor alam juga kali ini memengaruhi penurunan produktivitas cabai merah KWT Mawar.

“Dimana saat pertumbuhan vegetatif air berkurang akibat curah hujan rendah mengakibatkan proses pemeliharan tanaman oleh petani menjadi terganggu,” tambahnya.

Belum lagi gangguan hama penyakit seperti kutu kebul (menghisap cairan daun) dan virus kuning (pepper yellow leaf curl) yang menyebabkan tulang daun tanaman cabai memutih dan berkembang menguning serta daunnya menebal mengeriting ke atas.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Tapanuli Selatan Anuar Aidin Harahap yang juga turut dalam pemanenan cabai merah KWT Mawar tidak memungkiri terjadinya penurunan tingkat produktivitas cabai petani itu.

Dijelaskan Aidin bahwa bibit cabai merah yang dibudidayakan KWT Mawar Desa Nanggar Jati, Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan itu merupakan bantuan APBD I Tahun 2019. (ant)

Editor : Masrin