GALERI: Mengapa Nilai Tradisi Digugat?

Berita Terkait

MENGAPA nilai tradisi dalam karya sastra mulai digugat? Pertanyaan ini menggelitik perasaan saya sejak tahun 1989? Saat itu, ketika saya menyajikan makalah dalam Seminar Kritikus Sastra Muda se-Sumatra di Taman Budaya Padang, tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan, terutama dalam kasus legenda Malin Kundang: siapakah yang durhaka di antara dua tokoh, Malin Kundang atau ibunya?

Pertanyaan tersebut mendapat jawaban yang beragam, termasuk dari Prof. Dr. Mursal Esten, seniman Padang yang dikenal kritis dan Isbedy Setiawan ZS, penyair Lampung yang kreatif. Di antara peserta seminar, ada yang menyatakan bahwa yang durhaka adalah si Malin Kundang, tetapi tidak sedikit yang mencap bahwa ibunyalah yang durhaka kepada anaknya? Benarkah begitu?

Setelah melewati masa satu dasawarsa, ternyata masih ada pula yang mengungkit-ungkit tentang keberadaan nilai tradisi seperti yang termaktub dalam legenda Malin Kundang itu. Kali ini tokoh yang mengetengahkan hal itu adalah Ismet Fanany, cerpenis kelahiran Kotopanjang Batusangkar, 1952. Meskipun kini bermukim di Sidney, Australia, Ismet ternyata ‘masih terasa terusik’ dengan nilai tradisi yang sudah terlanjur dianut oleh masyarakatnya: Sumatra Barat.

Interpretasi seperti di atas akan mencuat ke permukaan manakala kita membaca cerpen “Batu Menangis”, karya Ismet Fanany yang dimuat Kompas Minggu, 25-11-2001. Dalam cerpen tersebut, terdapat muatan nilai insaniah yang perlu dicermati berkenaan dengan problematika nilai tradisi yang telah mengkristal dengan kerangka nilai universal-religius-filosofis yang semestinya dianut manusia secara benar.

Meskipun ditulis di Merbourne, Australia pada musim semi 2001, tetapi latar “Batu Menangis” tampak berkisar di wilayah Sumatra Barat. Hal ini bisa diacu pada latar tempat yang bernama Koto, identik dengan kosakata bahasa Minangkabau. Selain latar tempat, latar sosial budaya pun mengacu ke daerah ‘urang awak’ itu, berkorelasi dengan legenda Malin Kundang, si durhaka yang dipercaya masyarakat berubah menjadi batu setelah disumpahserapahi sang ibu.

Sebelum pembicaraan lebih jauh mengenai nilai tradisi, berikut ini diuraikan sedikit mengenai pengertian legenda. Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi (James Danandjaja. 1997. Folklor Indonesia Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Grafiti). Lazimnya, legenda dikaitkan dengan sebuah tempat atau benda yang nyata adanya sehingga memperkokoh keyakinan pemiliknya. Oleh karena itu, pancaran nilai atau hikmah yang dikandungnya sering menjadi pola budaya yang dianut masyarakat untuk mengarifi sisi tertentu kehidupan mereka.

Mengapa Malin Kundang dianggap anak durhaka? Dikisahkan, ia dicap durhaka karena bersikap kasar terhadap ibunya, seorang perempuan renta yang menyatakan diri sebagai ibunya. Akan tetapi, Malin Kundang menolak mengakuinya. Hal ini terjadi setelah Malin Kundang menjadi kaya raya, sedangkan sang ibu tetap sebagai janda miskin, kotor, dan jelek, sama seperti saat dia melepaskan sang anak pergi merantau.

Karena lara dan luka hatinya yang tiada tara, akibat perlakuan buah hatinya, sang ibu mengutuk Malin Kundang sehingga menjadi batu. Tidak lama kemudian, sang anak yang angkara itu pun berubah menjadi batu. Dalam perspektif Islam (yang dianut mayoritas masyarakat Sumatra Barat), doa seorang ibu untuk anaknya tidak ada hijab atau tiada terdindingi, baik dari sisi positif maupun negatif. Artinya, dalam kolektif tersebut adalah benar hal itu dapat terjadi secara serta merta.

Legenda semacam ini juga tersebar dalam masyarakat Aceh, yaitu kisah tentang “Amat Rhang Manyang”. Sebagai buktinya, menurut yang empunya cerita, adalah sebuah atol atau pulau karang berbentuk kapal terpacak di sebelah utara teluk Krueng Raya, atau di Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar. Belum ada penelitian, mana di antara dua legenda tersebut yang lebih dahulu muncul.

Legenda Malin Kundang di ‘Ranah Minang’ atau Amat Rhang Manyang di ‘Tanoh Rincong’ sering difungsikan oleh orang tua sebagai salah satu alat pengesahan budaya dalam aspek pendidikan bagi generasi penerus. Realitasnya, anak yang nakal-tiada beradat-tiada beradab, khususnya kepada orang tua, di Sumatra Barat lazim dinisbatkan kepada si Malin Kundang atau di Aceh sebagai Amat Rhang Manyang.

Sudah berabad-abad legenda itu diyakini sebagai kejadian yang sesungguhnya serta dipatuhi dimensi nilai yang dikandungnya. Hampir tidak terdengar ada anak negeri yang coba menggugat hal itu. Mungkin takut durhaka; takut mengurangi rasa hormat kepada ibu yang telah melahirkan, memelihara, dan mencintai anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi, rasanya tidak patut juga hal itu dibiarkan ‘mengotori’ alam pikiran generasi terkini.

Dalam sudut pandang yang manusiawi, bukankah kita perlu bertanya, mengapa seorang ibu tega mendoakan anaknya menjadi batu? Bukankah anak adalah ‘darah dagingnya’? Pertanyaan ini terwadahi dalam cerpen “Batu Menangis”. Terdapat gambaran sebuah generasi terkini, mewakili tokoh anak kecil, Israfil –yang juga representasi pengarang dan pembaca kritis—menggugat nilai edukatif-etis yang sudah berabad-abad dipelihara dengan sakralnya dalam berbagai legenda yang menyimpang dari ajaran kebenaran.

Sebuah suasana yang sangat bagus terlukis dalam “Batu Menangis”. Cerpen ini mengisahkan dialog tokoh utama Nuraini (ibu) dengan anaknya, Israfil tentang sebuah batu besar yang berdiri tegak di sebuah tebing. Karena desakan sang anak yang tampaknya sangat cerdas (anak masa kinikah?), diceritakanlah kisah tentang batu tersebut dari awal hingga akhir.

Ismed Fanany sangat cerdas membingkai analogi kisah Malin Kundang dengan kisah sebuah keluarga kecil yang miskin: terdiri atas seorang ibu, janda ditinggal cerai suami dan seorang anak perempuan yang lambat laun tumbuh menjadi gadis pemalas, pesolek, angkuh, dan tak tahu diuntung. Mereka sering bertengkar: si anak hanya tahu menghabiskan uang hasil keringat ibunya, sedangkan si ibu sering mencaci-maki sang anak yang ‘kurang ajar’.

Malapetaka itu datang saat ibu dan anak menuju pasar. Karena ibunya tua dan kotor, sang anak tidak mau berjalan beriringan. Ia malu. Saat itu muncullah seseorang (malaikat) menanyakan kepada si anak, siapakah yang berjalan di belakangnya. “O, itu. Itu pembantu saya.” Mendengar ucapan si anak, sang ibu hatinya terluka. Dalam kegamangannya ia meminta kepada Tuhan agar menghukum anaknya. Anak itu pun berubah menjadi batu.

Mendengar kisah tersebut, Israfil, tokoh anak dalam “Batu Menangis “ belum padam rasa ingin tahunya:

“Kalau badan berubah menjadi batu, sakit ya, Bu?”

“Tentu. Itu hukuman bagi anak yang durhaka itu.”

Nuraini menjelaskan bahwa durhaka berarti tidak patuh atau tidak mematuhi perintah, bisa perintah orang tua atau perintah Tuhan. Namun, Israfil terus bertanya, andaikata ia tidak patuh kepada sang ibu (Nuraini), apakah sang ibu akan mendoakannya supaya dihukum Tuhan. Ibunya selalu menjawab: kamu anak yang baik; kamu pasti tidak akan durhaka. Namun, itu bukanlah jawaban yang diinginkan Israfil.

“Ya, ini kalau. Kalau anak Ibu durhaka, bagaimana?” Karena ditanya terus, Nuraini menjawab dengan cara yang menurutnya sudah bijaksana: “Ibu tidak akan berdoa Tuhan memurkainya. Ibu akan berdoa, supaya Tuhan menolongnya.” “Mengapa?” balik Israfil. “Karena aku sayang kepadamu, Is. Kepada semua anak Ibu.”

Jawaban Nuraini ini, kiranya merupakan sebuah konsep nilai yang harus ditransformasikan kepada sang anak sejak dini. Tokoh Nuraini telah berani mengemukakan sebuah gagasan yang berlawanan dengan tradisi yang tumbuh dalam masyarakatnya yang dikuasai oleh nilai legenda yang berseberangan dengan akal sehat dan tradisi religiositas.

Konsep kasih sayang dan belaian cinta kasih dalam dialog edukatif yang diperkenalkan Nuraini, perlulah diperkenalkan sejak dini. Dengan kata lain, jauhilah anak-anak dari penjejalan hukuman moral yang amoral-dogmatis-represif. Sebab, bukankah anak yang cerdas akan bertanya, kalau Tuhan saja masih membuka pintu taubat, mengapa manusia sebagai makhluk Tuhan tidak?

Dalam irama yang rasional, cinta orang tua, cinta Tuhan, dan dalam alam berpikir kritis dan kreatif, yang sekilas tergambar dalam “Batu Menangis”, si anak kecil itu (juga adalah kita) akhirnya mengerti bahwa Tuhan memerintahkan ibu dan anak untuk saling menyayangi; bukan saling tidak mau mengalah. “Kalau begitu, ibu anak yang menjadi batu itu, paling durhaka ya, Bu.” begitu tanya Israfil, sang anak, sebuah pertanyaan yang diajukan mewakili kita.

Dari sisi lain, “Batu Menangis” mengimplikasikan, mungkin saja seorang ibu (orang tua) akan menjadi tergugat di hadapan Tuhan kelak, jika dialah yang menyebabkan seorang anak menjadi durhaka. Sebab, bukankah anak yang dilahirkan ke dunia ini bagaikan kertas putih? Orang tualah yang menjaga agar kertas itu berisi catatan-catatan mulia, bukan catatan-catatan durhaka dan nista. Oleh karena itu, sebuah kesalahan tidak serta merta harus ditanggung oleh seseorang, jika kesalahan tersebut merupakan akumulasi dari banyak proses dan banyak pihak yang menyebabkannya. Ini perlu dipopulerkan agar setiap orang tahu cara berpikir bijak dan tidak hanya merasa tahu, tetapi juga –yang amat penting—tahu merasa.

Walaupun gaung gugatan telah lahir dan akan terus lahir, tetapi sebuah nilai tradisi negatif yang terlanjur mengakar akan sulit dihilangkan. Namun, ini tidak berarti bahwa kita tidak mencintai nilai tradisi. Kita pun tidak boleh arogan menyalahkan begitu saja nilai itu tanpa apresiasi yang mendalam. Adalah bijaksana seperti kreativitas yang diperlihat Ismet Fanany. Di tangannya, nuansa gugatan terhadap nilai tradisi leluhurnya tidak terasa bombastis, walau mampu memalingkan kita, sang pembaca, ke alam sadar untuk menggapai dan memaknai nilai-nilai kehidupan yang hakiki. *

• Penulis: Mohd. Harun al Rasyid, pegiat sastra dan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

• Editor: Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Saat Penegak Hukum Memegang Senjata, Siapa yang Mengawasi?

Kita mulai lagi membicarakan tentang UU Perampasan asset. Dan pada kali ini kita sudah sampai pada satu persoalan penting....