Dosen Tak Hanya Transfer Ilmu, Juga Menanamkan Nilai Moral

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Dosen tidak seharusnya hanya berperan sebagai penyampai ilmu pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai moral kepada mahasiswa. Di tengah kondisi moral generasi muda yang dinilai semakin memprihatinkan, pendekatan pendidikan yang menekankan aspek kemanusiaan dan kasih sayang dinilai sangat diperlukan.

Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Prof. Dr. Mesiono, M.Pd, saat membuka secara resmi Workshop Kurikulum Berbasis Cinta yang dilaksanakan di Hotel Madani, Medan, Kamis, kemaren.

Dalam sambutannya, Prof. Mesiono menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik. Menurutnya, perguruan tinggi juga harus mampu melahirkan lulusan yang memiliki integritas, akhlak mulia, serta kepekaan sosial.

“Dosen seharusnya tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan kepada mahasiswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral. Kondisi moral hari ini cukup memprihatinkan. Karena itu, kurikulum berbasis cinta sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan,” ujarnya.

Ia mengatakan, berbagai persoalan sosial yang terjadi saat ini, seperti menurunnya sikap saling menghormati, meningkatnya perilaku individualistik, hingga maraknya berbagai bentuk kekerasan, menjadi tantangan serius bagi dunia pendidikan tinggi.
Karena itu, kata Mesiono, Fakultas Ilmu Sosial UINSU berkomitmen membangun kurikulum yang lebih humanis dan responsif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan.

“Workshop ini merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk membangun kurikulum yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada nilai-nilai toleransi serta kasih sayang.

Pendidikan harus mampu menghadirkan suasana belajar yang menghargai perbedaan, menumbuhkan empati, dan memperkuat persaudaraan,” katanya.

Menurut Mesiono, kampus harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi seluruh sivitas akademika untuk bertumbuh, berdialog, dan mengembangkan potensi diri.

“Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan peradaban. Pendidikan yang berlandaskan cinta akan melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan moral yang kuat,” ujarnya.

Workshop tersebut menghadirkan narasumber Dr. Rahmat Hidayat yang memaparkan pentingnya implementasi kurikulum berbasis cinta dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Dalam paparannya, Dr. Rahmat Hidayat mengungkapkan bahwa konsep kurikulum berbasis cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menempatkan kasih sayang, penghargaan terhadap martabat manusia, serta penguatan karakter sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran.

“Pendidikan yang hanya menekankan aspek transfer pengetahuan tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan zaman. Diperlukan paradigma baru yang mampu menghadirkan suasana pembelajaran yang humanis, inklusif, dan penuh kasih sayang,” ujarnya.

Ia menambahkan, kurikulum berbasis cinta tidak berarti mengurangi standar akademik, melainkan memperkuat dimensi afektif dalam proses pembelajaran sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang baik.

Menurut Dr. Rahmat, dosen memiliki posisi strategis dalam mewujudkan kurikulum tersebut. Dosen diharapkan dapat menjadi teladan bagi mahasiswa, baik dalam sikap, perilaku, maupun etika akademik.

“Keteladanan dosen menjadi kunci utama. Mahasiswa tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan dosen di kelas, tetapi juga dari sikap dan perilaku dosennya sehari-hari,” katanya.

Workshop Kurikulum Berbasis Cinta tersebut diikuti oleh sejumlah dosen di lingkungan Fakultas Ilmu Sosial UINSU. Turut hadir dalam kegiatan itu Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial UINSU, Dr. Retno, beserta sejumlah dosen dari berbagai program studi.

Melalui kegiatan tersebut, Fakultas Ilmu Sosial UINSU berharap dapat melahirkan model pembelajaran yang tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, moral, semangat toleransi, dan kepedulian sosial yang kuat sesuai dengan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Reporter : Dr. Rasyid

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

91 Persen Dosen UMA Tersertifikasi Tahun 2026 Tingkatkan Mutu Akademik

mimbarumum.co.id - Universitas Medan Area (UMA) terus memperkuat mutu akademik melalui peningkatan profesionalisme tenaga pendidik. Hingga gelombang kelulusan Sertifikasi Dosen...