Dokter PPDS FK USU Pengabdian Masyarakat di Daerah Tertinggal Nias Utara

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mencatatkan perjalanan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang medis di Tano Niha Pulau Nias, khususnya Di Kabupaten Nias Utara,  wilayah yang lahir dari pemekaran Kabupaten Nias di tahun 2008.

Kondisi geografis yang tersebar juga memengaruhi akses terhadap tenaga medis spesialis. Banyak pasien yang sebelumnya harus dirujuk ke Kota Gunungsitoli atau bahkan ke Medan untuk memperoleh layanan kesehatan lanjutan.

Bagi dr. Trinidia Lubis, M.Ked(OG), PPDS Fakultas Kedokteran USU yang baru usai menjalani masa residensi di Pulau Nias, suasana di kepulauan tersebut sangat mengesankan bersama beberapa temannya sesama PPDS FK USU ditempatkan pada wilayah yang berbeda. 

Ia bertugas di RS dr M Thomsen Gunungsitoli, rumah sakit rujukan utama di Kepulauan Nias. Sementara teman-temannya yang lain, dr. Ricky Bonatio Hutagalung, dr. Devinda Villarsi, dr. Edgar Anthony Petra Sihite dan dr.Margareth Duma Sari Sirait bertugas di RS Tafaeri, Lotu, Kabupaten Nias Utara.

Selama tiga bulan, terhitung dari awal Maret 2026 lalu, mereka bertugas sebagai dokter spesialis yang menyandang nama Fakultas Kedokteran USU dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

“Tantangan bertugas di sini yang awalnya kami pikir akan sangat menyulitkan, ternyata tidak demikian. Ada beberapa kendala untuk komunikasi dengan para pasien yang umumnya menggunakan bahasa daerah, namun itu bisa diatasi dengan bantuan para perawat yang membantu menerjemahkan dan keluarga pasien yang cukup kooperatif,” tutur dr Trinidia.

Di RSUD dr. M. Thomsen Gunungsitoli, jumlah kasus yang ditangani pada bagian obgyn tergolong tinggi. Berdasarkan pernyataan dr Trinidia, dalam satu bulan rumah sakit ini dapat menangani sekitar 35 operasi sesar (Sectio Caesarea) dan tujuh hingga delapan tindakan histerektomi atau pengangkatan rahim. 

Sementara di RS Tafaeri Nias Utara, teman saya justru mengalami tantangan yang lebih besar, karena di sana tidak ada bank darah.

Sehingga tindakan medis yang dilakukan harus benar-benar dipertimbangkan. Maka pasien dari Nias Utara sering harus dikirim ke Gunungsitoli karena ketiadaan darah,” imbuh dr Trinidia.

Menariknya, bukan karena daerah tersebut kekurangan dokter. Karena di RSUD Tafaeri Nias Utara sebenarnya telah ditempatkan dokter PPDS Obgyn dan Anestesi dari FK USU. Namun keterbatasan fasilitas, terutama belum tersedianya bank darah dan kemampuan ICU yang masih terbatas, membuat sebagian kasus harus dirujuk ke Gunungsitoli.

Dalam satu bulan, sekitar enam hingga tujuh pasien dirujuk dari Nias Utara ke RSUD dr. M. Thomsen. Bahkan, ada pula pasien yang datang langsung tanpa melalui mekanisme rujukan sesuai prosedur.

Dari seluruh pengalaman selama bertugas di Nias, ada satu kisah yang paling membekas di ingatan Trinidia. Ketika seorang ibu datang ke rumah sakit pada dini hari dalam kondisi syok akibat mengalami perdarahan pascapersalinan. 

Saat tiba di IGD, tubuhnya telah pucat, tekanan darah tidak lagi dapat diukur, dan mengalami syok berat. Trinidia bersama tim medis lainnya segera melakukan tindakan penyelamatan. Luka berhasil ditangani. Meski seluruh upaya telah dilakukan, pasien akhirnya tidak dapat diselamatkan. 

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (FK USU) dan Pemerintah Kabupaten Nias Utara telah resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada awal Maret 2026 sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sebelumnya dalam pengembangan pelayanan kesehatan di daerah tertinggal dan kepulauan, termasuk Pulau Nias. 

Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah pemberian prioritas kepada dokter putera asli daerah yang berkomitmen mengabdi kembali di Nias untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di FK USU dengan pembiayaan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Program ini telah berjalan selama satu tahun dan hingga saat ini FK USU telah menerima tujuh dokter putera asli Nias, empat di antaranya berasal dari Nias Utara yang mengambil program spesialisasi di bidang Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Bedah, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Radiologi. 

Saat ini Nias Utara memiliki 11 puskesmas rawat inap yang tersebar di seluruh kecamatan dan satu rumah sakit daerah, yaitu RSUD Tafaeri yang menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan kabupaten.

FK USU bersama RSUD Tafaeri dan Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Utara sebelumnya juga telah melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung di RSUD Tafaeri Desa Lolofaoso, Kecamatan Lotu, Kabupaten Nias Utara, pada Maret 2026 lalu.

Pengabmas yang dilakukan oleh para dosen FK USU tersebut meliputi pemeriksaan antenatal dan ultrasonografi (USG) bagi ibu hamil, pemeriksaan/skrining batu empedu, pemeriksaan pemeriksaan Hb dan KGD sewaktu bagi masyarakat, serta pelatihan kegawatdaruratan bagi tenaga kesehatan RSUD Tafaeri.

Dr Inke Nadia selaku ketua kegiatan menegaskan, tujuan dari digelarnya pengabdian masyarakat tersebut untuk memperkenalkan kepada masyarakat Nias Utara, di mana saat ini pelayanan kesehatan di RSUD Tafaeri tidak lagi hanya sebatas dokter spesialis anak, tetapi juga sudah didukung oleh tenaga kesehatan dari fakultas kedokteran USU, yang mencakup spesialis penyakit dalam, anestesi, obstetri dan ginekologi serta patologi klinik. 

Di ujung utara Pulau Nias, sebuah pesan sederhana kembali ditegaskan bahwa pembangunan kesehatan bukan hanya soal gedung dan peralatan, melainkan tentang menghadirkan harapan, menjaga kehidupan, dan memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam memperoleh layanan kesehatan yang layak.

Reporter :  M Nasir

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

FISIP USU PKM di Sekolah Parulian 1 Medan Dorong Optimalisasi Tata Kelola Sekolah Berbasis Digital

mimbarumum.co.id - Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Skema Perintis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP...