mimbarumum.co.id — Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti Gedung Waterland Tamora pada Sabtu (9/5/2026). Sebanyak 89 siswa Islamic Center Ali bin Abi Thalib (IC Abatha) yang terdiri dari SMP IT dan MA Terpadu resmi diwisuda dalam kegiatan Wisuda Tahfiz Al-Qur’an bertema “IC Abatha: Dari Hafalan Menuju Peradaban”.
Bukan sekadar seremoni, kegiatan ini menjadi bukti lahirnya generasi muda penghafal Al-Qur’an yang diharapkan mampu membawa perubahan bagi umat dan peradaban. Para wisudawan tampil dengan capaian hafalan yang beragam, mulai dari 1 juz hingga 30 juz.
Dari total peserta, sebanyak 17 santri menyelesaikan hafalan 1 juz, 43 santri hafal 2 juz, 11 santri hafal 3 juz, 2 santri hafal 4 juz, 5 santri hafal 5 juz, masing-masing 2 santri hafal 6 dan 10 juz, kemudian 1 santri hafal 7 juz, 1 santri hafal 8 juz, 3 santri hafal 9 juz, 1 santri hafal 16 juz, hingga 1 santri berhasil menuntaskan hafalan 30 juz.
Acara berlangsung meriah dan khidmat melalui rangkaian kegiatan seperti Tasmi Al-Qur’an, Uji Publik hafalan, penampilan drama, penyerahan lukisan, taujih, hingga pengumuman wisudawan terbaik.
Direktur Rumah Tahfiz Al-Qur’an IC Abatha, Mukmin Rambe, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi juga menjadi penyelamat bagi para pembacanya di akhirat kelak.
“Semoga Al-Qur’an bisa memberi syafaat kepada kita di hari Yaumil. Orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapat pahala berdasarkan setiap huruf yang dibacanya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para wisudawan agar tidak berhenti setelah wisuda selesai. Menurutnya, menjaga hafalan melalui murojaah merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an.
“Semoga setelah ini kita tetap membaca Al-Qur’an dan terus murojaah agar hafalan dapat melindungi kita dari segala keburukan,” katanya.
Mukmin turut memberi motivasi kepada para orang tua dan tamu undangan bahwa menghafal Al-Qur’an bukan sesuatu yang mustahil.
“Kalau bacaan Al-Qur’annya sudah lancar, menghafal itu sebenarnya mudah. Satu halaman bisa satu jam saja. Dalam Islam tidak ada kata terlambat untuk menghafal Al-Qur’an,” ungkapnya disambut tepuk tangan hadirin.
Sementara itu, Ketua Komite Sekolah, Rahmat, menilai keberhasilan para santri tidak lepas dari sinergi kuat antara sekolah dan orang tua.
“IC Abatha sangat bersinergi dengan orang tua sehingga murid bisa menjadi lebih baik. Fasilitas seperti POMG harus dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan anak,” katanya.
Ia juga menyinggung prestasi lulusan sebelumnya yang dinilai membanggakan.
“Tamatan tahun 2025 sangat luar biasa karena 100 persen lulus ke perguruan tinggi negeri,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala SMP IT Abatha, Ridho Simanungkalit, menyampaikan rasa terima kasih kepada para wali murid yang telah mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah.
“Terima kasih sudah menitipkan anak-anak ke sekolah agar dididik menjadi pribadi berakhlak dan penghafal Al-Qur’an,” ucapnya.
Ridho menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat berjalan tanpa dukungan orang tua. Ia bahkan mengaku bangga ketika bertemu alumni yang masih menjaga nilai-nilai sekolah dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya selalu senang kalau bertemu alumni di masjid. Biasanya langsung saya ajak foto. Itu tanda bahwa nilai dan kebiasaan baik dari sekolah masih dijalankan setelah tamat,” katanya.
Kepada siswa kelas IX, ia berpesan agar tetap menjaga salat di mana pun melanjutkan pendidikan.
“Silakan lanjut sekolah di mana pun, yang penting tetap salat,” pesannya.
Wisuda Tahfiz ini menjadi gambaran bahwa pendidikan Al-Qur’an tak hanya melahirkan hafalan, tetapi juga karakter, kedisiplinan, dan harapan lahirnya generasi Qur’ani yang mampu memberi cahaya bagi masa depan umat.
Reporter: Dzaky


