Belajar dari Merdekanya Bilal bin Rabah

Berita Terkait

Penulis: Nidya Lassari Nusantara

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Bilal disiksa dengan cara dibaringkan diatas pasir yang panas dibawah terik matahari dan kemudian diletakkan batu besar diatas dadanya. Umayyah memerintahkan Bilal untuk meninggalkan Islam tetapi Bilal tetap menyatakan “Ahad, Ahad”. Ahad yang berarti Allah itu satu.

Budak Umayyah bin Khalaf yang berasal dari Habasyah (Ethiopia) ini dibebaskan Abu Bakar as Shiddiq. Setelah merdeka dari tuannya dan memeluk agama Islam. Tidak serta Merta membuat Bilal langsung hidup bahagia karena semasa masih di Mekah dan dakwah Islam belum diterima.

Orang-orang yang mengikuti ajaran yang dibawa Rasulullah mengalami penyiksaan luar biasa. Bukan hanya para budak tetapi juga para pembesar seperti istri Rasulullah Khadijah binti Khuwailid yang harus mengalami kemiskinan dan kelaparan disebabkan pemboikotan yang dilakukan kafir Quraisy.

Perjalanan meraih kemerdekaan yang cukup panjang bagi siapa saja yang mengikuti agama Allah yang dibawa oleh cucu pemegang kunci Ka'bah, Muhammad. Sampai semua derita perlahan menyongsong kebahagiaan saat suku Aus dan Khajraz berbaiat kepada Rasulullah dan atas pembinaan dakwah intensif oleh duta Rasulullah, Mushab bin Umair. Penduduk Madinah yang dikenal dengan kaum Anshar meminta Rasulullah memimpin Madinah dan menjadikan syariat Allah sebagai kedaulatan negara.

Bilal bin Rabah juga menjadi pasukan perang Uhud dan perang Badar yang fenomenal menjadi perang pertama yang dimenangkan umat Islam. Rasulullah memproklamirkan berdirinya Negara Islam secara politik.

Bilal, seorang mantan budak dipilih Rasulullah untuk mengumandangkan adzan bukan hanya sekedar perintah untuk menegakkan sholat tetapi bermakna adzan sebagai informasi bahwa detik itu Rasulullah Saw diangkat menjadi kepala negara. Posisi yang tidak diserahkan kepada Pembesar seperti Umar, Abu bakar, Ali bin Abi Thalib atau tokoh lainnya. Setelah itu, Rasulullah mempersatukan kaum Anshar dari Madinah dan Kaum Muhajirin dari Mekah dengan persatuan akidah. Rasulullah mencontohkan sedari awal bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan harus bersikap adil.

Satu waktu, usai salat subuh, Rasulullah pernah bertanya kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling bermanfaat yang telah kamu lakukan setelah memeluk Islam. Karena semalam aku mendengar suara langkahmu di depanku di surga.” Lantas Bilal bin Rabah menjawab sesuai hadis riwayat Abu Hurairah Radiallahu Anhu, Aku tidak pernah melakukan suatu amalan yang paling bermanfaat setelah menjadi muslim selain aku selalu berwudu dengan sempurna pada setiap malam dan siang, kemudian melakukan salat sunnah dengan wudu itu sebanyak yang Allah kehendaki.
Kemerdekaan yang menenangkan tidak hanya dirasakan dimasa Rasulullah masih hidup.

Bahkan seorang muslimah bernama Lubna berasal dari Spanyol juga merasakan kemerdekaan yang sentosa, adil dan makmur. Setelah merdeka, Lubna menjadi muslimah berpendidikan tinggi menjadi ahli literasi, matematika dan pustakawan negara di masa pemerintahan Abd Ar Rahman III.

Sungguh kemerdekaan seperti inilah kemerdekaan yang dinginkan setiap manusia disebuah negara. Bukan cuma teriak merdeka tetapi nyatanya masih terjajah. Layakkah merasa merdeka bila sumber daya manusia terancam, angka pengangguran yang tinggi, tingginya jumlah kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan, sumber daya alamnya dikuasai negara lain?

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Tabligh Akbar Kota Medan Membludak, Eka Putra Zakran Paparkan Peran Strategis PDM dalam Sukseskan Muktamar ke-49 Muhammadiyah

mimbarumum.co.id – Tabligh Akbar dan Pengukuhan Korps Muballigh Muhammadiyah (KMM) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Kota Medan yang digelar Pimpinan...