mimbarumum.co.id – Ilmuwan Inggris khawatir fungsi vaksin yang sudah ditemukan tak mempan terhadap mutasi baru virus Covid SARS-CoV-2 yang ada di beberapa negara, seperti Inggris dan Afrika Selatan.
Pasalnya, terjadi perubahan yang lebih ekstensif pada bagian tertentu (protein spike) pada virus. Protein spike adalah bagian virus yang digunakan untuk menginfeksi sel manusia.
Selain itu, varian baru virus corona ini memiliki muatan viral yang lebih tinggi dari virus corona yang beredar sebelumnya. Artinya, konsentrasi partikel virus di tubuh pasien lebih banyak. Sehingga, kemungkinan hal ini berkontribusi pada makin mudahnya Covid-19 menular.
Varian baru virus corona penyebab Covid-19 yang lebih menular ini telah terdeteteksi di Inggris dan Afrika Selatan. Selain itu, kasus penularan virus ini terus meningkat dalam beberapa pekan belakangan.
Baca Juga : 40.000 Vaksin Sinovac Covid-19 Tiba di Sumut
Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock pun menyatakan kekhawatiran soal varian baru virus corona yang diidentifikasi di Afrika Selatan.
Profesor Mikrobiologi Selular dari Universitas of Reading, Simon Clarke mengatakan kedua varian mutasi virus corona itu memiliki beberapa karakter yang sama. Namun, mutasi di Afrika Selatan disebut memiliki mutasi tambahan yang patut mendapat perhatian.
Menurutnya, perubahan protein spike virus pada varian baru yang sudah bermutasi itu dikhawatirkan mmebuat virus lebih kebal terhadap keampuhan vaksin.
Varian mutasi terbaru dari Afrika Selatan juga dinilai memiliki mutasi spike protein yang berlipat yang berdampak pada kurang ampuhnya perlindungan vaksin.
“Akumulasi lebih banyak mutasi lonjakan pada varian Afrika Selatan lebih mengkhawatirkan dan dapat menyebabkan beberapa kemunculan dari perlindungan kekebalan, ” ujar Lawrence Young, ahli virologi dan profesor onkologi molekuler Universitas Warwick.
Di sisi lain, CEO produsen vaksin BioNtech Ugur Sahin dan John Bell mengatakan pihaknya sedang menguji apakah vaksin buatannya ampuh menghadapi mutasi varian baru virus corona. Mereka akan menyelesaikan penelitian tersebut dalam waktu kurang lebih enam minggu.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Inggris menyebut hingga saat ini pihaknya tidak memiliki bukti yang menunjukan vaksin Covid-19 tidak akan melindungi varian baru virus Corona.
Belum lama ini vaksin sudah didistribusikan kepada masyarakat, di beberapa negara, untuk menuntaskan sebaran virus yang hampir menewaskan 1,8 juta orang di dunia.
Saat ini sudah ada kurang lebih 60 kandidat vaksin yang tengah menjalani uji klinis. Beberapa vaksin telah diluncurkan dan sudah banyak dipesan beberapa negara, seperti AstraZeneca dan Oxford, Pfizer dan BioNTech, Moderna, Sputnik V Rusia, dan Sinopharm China. (cnn)
Editor : Dody Ferdy