81 Tahun Mimbar Umum: Bertahan Menjaga Idealisme, Bukan Sekadar Mempertahankan Usia

Berita Terkait

Khusus Kolom Masrin kali ini, kita tidak sedang membicarakan isu-isu aktual yang belakangan menjadi perhatian publik, sebagaimana biasanya. Ada sesuatu yang terasa lebih dekat untuk direnungkan, yakni tntang perjalanan panjang sebuah media yang telah menjadi bagian dari sejarah pers dan kehidupan masyarakat Sumatera Utara. Ya, Mimbar Umum sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-81

Ternyata ada yang lebih sulit daripada mendirikan sebuah perusahaan pers. Yakni mempertahankannya tetap hidup ketika zaman berubah, ketika pembaca berpindah, ketika sumber pendapatan menyusut, dan ketika teknologi datang mengubah hampir seluruh cara manusia memperoleh informasi.

Pada 6 November 2026, Harian Mimbar Umum genap berusia 81 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya menyimpan catatan tentang pergantian zaman, tetapi juga tentang kesetiaan, pengorbanan, dan idealisme orang-orang yang memilih bertahan di dalamnya.

Lahir pada 6 November 1945, ketika bangsa ini masih berjuang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya penjajahan, Mimbar Umum tumbuh dengan semangat perjuangan. Pers ketika itu bukan sekadar pekerjan mencari dan menyampaikan berita. Ia menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan, membangun kesadaran, dan menyuarakan kepentingan bangsa.

Delapan puluh satu tahun kemudian, bentuk perjuangannya memang berbeda. Tidak lagi berhadapan dengan ancaman penjajahan dalam pengertian seperti masa kelahirannya. Tetapi tantangan untuk mempertahankan idealisme ternyata tidak semakin ringan.

Kita menyaksikan satu per satu surat kabar cetak menghentikan penerbitannya. Ada yang benar-benar menutup usaha, ada pula yang meninggalkan kertas dan bertransformasi sepenuhnya menjadi media digital. Perubahan perilaku masyarakat dalam memperoleh informasi telah membuat industri pers cetak menghadapi tekanan yang luar biasa.

Hari ini, hampir setiap orang membawa sumber informasi di dalam genggamannya. Dengan telepon pintar, seseorang bisa membaca berita dari berbagai penjuru dunia, menyaksikan peristiwa secara langsung, bahkan memperoleh informasi tanpa harus mengeluarkan biaya. Kecepatan media sosial sering kali membuat media arus utama terlihat tertinggal. Oplah koran terjun bebas, sementara kue iklan semakin mengecil.

Di sisi lain, biaya operasional perusahaan pers tidak ikut menghilang malah mendaki. Biaya cetak, perawatan alat kerja, gaji karyawan, distribusi, dan berbagai kebutuhan lainnya tetap harus dipenuhi. Pendapatan yang semakin terbatas harus beradapan dengan beban pengeluaran yang terus berjalan. Inilah kenyataan pahit yang dihadapi banyak perusahaan media cetak, termasuk Mimbar Umum.

Namun, apakah perubahan itu berarti pers profesional kehilangan alasan untuk hidup?
Justru di tengah banjir informasi, kita melihat persoalan yang semakin serius. Media sosial memang menawarkan kecepatan, tetapi tidak selalu menghadirkan kebenaran. Berita bohong, informasi yang dipelintir, gambar hasil manipulasi, hingga kabar yang sengaja direkayasa semakin mudah beredar. Kini, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bahkan mampu menciptakan suara dan video yang membuat seseorang seolah-olah mengatakan sesuatu yang tidak pernah diucapkannya.

Bayangkan jika sebuah video rekayasa AI menampilkan seorang pejabat seolah-olah sedang menyampaikan pernyataan yang tidak pernah dibuatnya. Masyarakat bisa terkecoh, reputasi seseorang bisa hancur, bahkan ketertiban sosial dan kepentingan negara dapat terganggu. Ketika batas antara fakta dan rekayasa semakin kabur, masyarakat membutuhkan media yang tidak sekadar cepat, tetapi juga bertanggung jawab.

Di sinilah pers profesional seharusnya menemukan kembali arti penting kehadirannya. Bukan dengan berlomba menjadi yang paling cepat menyebarkan informasi, melainkan memastikan informasi yang disampaikan benar, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Mimbar Umum memahami bahwa mempertahankan media bukan berarti mempertahankan cara kerja lama. Karena itu, kami juga berupaya beradaptasi. Selain penerbitan cetak, Mimbar Umum hadir melalui e-paper, portal berita mimbarumum.co.id, MimbarUmumTV melalui channel YouTube, serta berbagai platform media sosial. Kami ingin tetap menyapa pembaca, di mana pun mereka berada dan melalui media apa pun yang mereka gunakan.

Tetapi, ada sesuatu yang tidak boleh ikut berubah hanya karena teknologi berganti. Yakni independensi dan keberanian menjaga kebenaran.

Mimbar Umum bertekad untuk tetap menjadi media yang independen, tidak mudah ditundukkan oleh kepentingan kekuasaan maupun tekanan modal. Kami ingin tetap menjadi media yang memberitakan kebenaran, menolak hoaks, dan tidak menjadikan ruang redaksi sebagai alat untuk menyebarkan kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan publik. Kami juga ingin tetap berpihak kepada rakyat, terutama ketika suara mereka tidak cukup kuat untuk didengar oleh mereka yang memegang kekuasaan.

Berpihak kepada rakyat bukan berarti kehilangan independensi. Justru di situlah independensi pers diuji. Pers harus berani mengkritik kekuasaan ketika kebijakan menyimpang, tetapi juga harus objektif ketika kekuasaan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Pers tidak boleh menjadi pengeras suara pejabat, tetapi juga tidak boleh mengorbankan kebenaran hanya demi menyenangkan pembaca.

Namun, perjalanan 81 tahun Mimbar Umum tentu tidak dibangun oleh satu atau dua orang. Ada banyak tangan yang bekerja, banyak pikiran yang disumbangkan, dan banyak kehidupan yang sebagian besar perjalanannya telah dititipkan kepada koran ini.

Sebagian nama para pendahulu kini terpampang di ruang-ruang khusus sebagai bentuk penghormatan. Bahkan, ada yang diabadikan menjadi nama jalan. Mereka telah meletakkan fondasi yang memungkinkan Mimbar Umum masih berdiri hingga hari ini.

Kita juga tidak boleh melupakan para senior yang sampai sekarang masih setia membersamai perjalanan ini. Ada Bapak Jalaluddin yang telah sekitar enam dekade menjadi bagian dari Mimbar Umum. Ada Bapak Zulfikar Tanjung yang juga telah menghabiskan empat puluhan tahun pengabdiannya di bawah payung media ini. Ada Ibu Juli Tarigan di bagian tata usaha yang telah lebih dari tiga dekade menjaga roda administrasi perusahaan tetap berjalan.

Di daerah, ada juga yang sangat senior Pak Ermawi Parinduri, wartawan yang bertugas di Pematangsiantar dan Simalungun. Ia pernah bercerita betapa bangganya menjadi bagian dari Mimbar karena profesi wartawan telah mengatarkannya memperjuangkan pendidikan anak-anak hingga menyelesaikan pendidikan tinggi. Bahkan, sebagian dari mereka kini bekerja di sejumlah instansi pemerintah dengan posisi yang membanggakan.

Ada Pak Burhan Sinulingga di Binjai yang juga tak kalah lama mengabdikan diri. Ada Ibu Nurleni Simbolon, wartawati senior tangguh di Kabupaten Dairi. Meski kini telah menjadi seorang nenek, ia tidak pernah berpikir untuk berhenti menjadi wartawan. Baginya, profesi ini justru membuat dirinya tetap merasa muda dan bersemangat. Ia masih aktif bekerja dan sesekali datang ke kantor Mimbar Umum di Medan, membawa kopi Sidikalang, bahkan terkadang durian dari daerahnya.

Ada pula Bung Suyadi San. Meski kini telah menyandang gelar doktor dan menjadi peneliti di BRIN, ia tidak rela melepaskan keterikatannya dengan Mimbar Umum. Ia tetap menyumbangkan pemikiran melalui tulisan kebudayaan dan mengelola podcast rubrik Mimbar Budaya. Demikian juga Doktor Rasyid yang meskipun kini berbaju akademisi tetap setia menyumbangkan tulisan fi kolom Hidayah setiap hari. Meraka semua luar biasa.

Mereka mungkin memiliki jalan hidup dan pencapaian yang berbeda. Tetapi ada satu ikatan yang membuat mereka tetap kembali kepada Mimbar Umum, yaitu rasa memiliki. Bagi mereka, koran ini bukan sekadar tempat bekerja. Ada kenangan, pengabdian, dan bagian dari perjalanan hidup yang tidak mudah dipisahkan.

Saya sendiri baru menjadi bagian dari Mimbar Umum sejak 1998. Dibandingkan para senior yang telah menghabiskan puluhan tahun pengabdiannya, tentu kontribusi saya masih jauh dari cukup. Tetapi berada di tengah orang-orang seperti mereka memberikan pelajaran bahwa mempertahankan sebuah media tidak cukup hanya dengan kemampuan mengelola bisnis. Harus ada kecintaan, kesetiaan, dan keyakinan bahwa pekerjaan ini memiliki makna sosial yang lebih besar.

Tentu, idealisme tidak bisa berjalan sendirian. Sebuah perusahaan pers tetap membutuhkan dukungan pembaca, mitra usaha, pemerintah, dunia bisnis, dan seluruh pemangku kepentingan. Kami berterima kasih kepada semua pihak yang selama ini masih memberikan kepercayaan dan turut menjaga keberadaan Mimbar Umum. Tanpa dukungan mereka, perjalanan panjang ini tentu akan jauh lebih berat.

Kepada seluruh awak Mimbar Umum, baik di lini keredaksian maupun tata usaha, terima kasih atas kerja keras dan kesetiaan yang mungkin tidak semuanya terlihat. Setiap edisi yang sampai kepada pembaca adalah hasil dari kerja banyak orang. Ada yang menulis, mencari berita, menyunting, mengurus administrasi, menyiapkan produksi, hingga memastikan koran sampai ke tangan pembacanya.

Bapak H.M. Fauzi Lubis (almarhum) semasa masih menjabat sebagai Pemimpin Umum pernah menyimpan harapan agar Mimbar Umum tetap hidup hingga mencapai usia 100 tahun. Kini, kita telah sampai pada usia 81 tahun. Masih ada 19 tahun perjalanan untuk mewujudkan cita-cita itu.

Tetapi, mencapai usia 100 tahun tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan. Lebih penting dari itu adalah memastikan Mimbar Umum tetap memiliki alasan untuk dipercaya dan dibutuhkan masyarakat. Sebab, apa artinya berusia satu abad jika kehilangan independensi? Apa artinya tetap terbit jika tidak lagi berani menyuarakan kebenaran? Dan apa artinya menjadi media jika justru menjauh dari kepentingan rakyat?

Mimbar Umum tidak ingin sekadar menjadi koran tua yang bertahan karena sejarahnya. Kami ingin tetap menjadi media yang hidup karena nilai-nilai yang diperjuangkannya. Media yang tidak tunduk kepada hoaks, tidak kehilangan keberanian mengoreksi kekuasaan, dan tidak melupakan masyarakat yang menjadi alasan pers dilahirkan.

Zaman boleh berubah. Teknologi boleh berganti. Cara orang membaca berita boleh berbeda. Tetapi kebenaran tidak boleh kehilangan tempatnya. Dan suara rakyat tidak boleh kehilangan ruang untuk disampaikan.

Selamat ulang tahun ke-81, Mimbar Umum. Terima kasih kepada para pendiri, para pendahulu, seluruh awak, pembaca, dan mitra yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang ini.

Kita tidak sekadar sedang mempertahankan sebuah koran. Kita sedang menjaga sebuah amanah agar tetap hidup, tumbuh, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum

TINGGALKAN KOMENTAR

Berita Pilihan

Ketika Kewenangan Kehilangan Batas, Penyadapan Pun Menabrak Norma

Ada yang lebih berbahaya daripada penyalahgunaan kekuasaan. Yakni ketika orang yang memegang kekuasaan dan kewenangan merasa dirinya terlalu kuat...