Pergantian Kapolda Sumatera Utara sudah terjadi. Irjen Pol. Sonny Irawan menggantikan Irjen Pol. Whisnu Hermawan Februanto pada awal Oktober. Kini, setelah hampir dua pekan, pertanyaan berikutnya mulai relevan, apa yang sudah dikerjakan Kapolda baru?
Kita tidak perlu buru-buru memberi nilai. Tetapi kita juga tidak harus menunggu berbulan-bulan untuk mulai mengamati arah kepemimpinannya.
Ada beberapa perkembangan yang patut dicatat.
Pada 12 Oktober, polisi membongkar dan membakar enam barak yang diduga menjadi tempat transaksi dan penggunaan narkoba di Desa Serbajadi, Kecamatan Sunggal, Deli Serdang. Seorang pria diamankan. Dua paket sabu dan sejumlah alat isap turut disita.
Sehari sebelumnya, barak-barak itu mungkin masih menjadi tempat transaksi. Kini bangunannya sudah dibongkar. Ini tindakan konkret. Tetapi pekerjaan belum selesai. Polisi masih harus memastikan lokasi tersebut tidak kembali menjadi tempat peredaran narkoba.
Di bidang narkoba, Polrestabes Medan juga mengumumkan penangkapan seorang terduga kurir dan penyitaan 450 bungkus vape yang diduga mengandung narkoba pada 8 Oktober. Namun, penyelidikan kasus ini sudah berjalan sejak September. Karena itu, pengungkapan tersebut tidak bisa serta-merta disebut sebagai hasil kebijakan baru Sonny.
Begitu pula dalam kasus begal. Tiga remaja ditangkap pada 8–9 Oktober dalam penyelidikan perampasan sepeda motor di Percut Sei Tuan. Peristiwa kejahatannya sendiri terjadi pada 28 September.
Artinya, ada pekerjaan penegakan hukum yang berjalan pada masa awal Sonny bertugas. Namun, kita harus membedakan hasil kerja jajaran kepolisian dari kebijakan baru yang secara khusus digagas Kapolda.
Lalu, apa arah yang sedang dibangun? Pada 13 Oktober, Sonny memaparkan dua program yang relevan dengan persoalan keamanan Sumatera Utara.
Pertama, Gerakan Masyarakat Tolak Narkoba atau Germas Tolak Narkoba. Program ini dirancang untuk melibatkan masyarakat dari tingkat desa hingga lingkungan RT dan RW, melalui pencegahan, pengawasan, serta penindakan.
Kedua, KOMPAK atau Kolaborasi Pemberantasan Kejahatan Jalanan. Program ini menyasar begal, tawuran dan premanisme.
Arah tersebut relevan dengan persoalan yang dihadapi masyarakat Sumatera Utara. Tetapi program yang diumumkan belum sama dengan masalah yang terselesaikan.
Untuk narkoba, masyarakat tidak cukup melihat barak dibongkar. Mereka ingin tahu apakah jaringan pemasoknya terungkap, apakah bandar ditangkap, dan apakah lokasi serupa benar-benar berhenti beroperasi.
Untuk begal, masyarakat tidak cukup mendengar kabar penangkapan. Mereka ingin bisa berkendara pagi atau malam tanpa dihantui rasa takut.
Untuk tawuran, masyarakat tidak cukup melihat polisi datang setelah bentrokan terjadi. Mereka membutuhkan pencegahan yang mampu melindungi anak-anak dan lingkungan tempat tinggalnya. Di sinilah ukuran kepemimpinan Sonny akan terlihat.
Kita juga perlu mencatat bahwa sampai pertengahan Oktober, belum cukup bukti untuk menyimpulkan adanya perubahan angka kejahatan akibat kepemimpinan baru ini. Khusus untuk tawuran, hasil penindakan yang bisa diatribusikan langsung kepada program barunya juga belum terlihat jelas dalam pemberitaan yang tersedia.
Ini bukan berarti tidak ada pekerjaan. Ini berarti kita perlu menunggu hasil yang lebih terukur. Sonny baru memulai tugasnya. Ia layak diberi waktu. Tetapi masyarakat juga berhak menagih janji.
Berapa banyak lokasi narkoba yang berhasil ditutup secara berkelanjutan? Apakah jaringan pengedar semakin sulit bergerak? Apakah begal dan tawuran menurun? Apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan polisi?
Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab melalui data dan pengalaman warga, bukan hanya konferensi pers. Sebab pergantian Kapolda bukan sekadar pergantian nama di papan jabatan. Arahan sudah disampaikan. Program sudah diperkenalkan. Sejumlah tindakan sudah dilakukan. Tetapi perubahan baru layak disebut nyata ketika masyarakat merasakan hasilnya.
Kapolda baru sudah datang. Sekarang, Sumatera Utara menunggu bukti.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform digital e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum


