Beberapa tahun terakhir, satu hal yang paling sering saya dengar ketika berkunjung ke desa adalah soal pembangunan. Ada yang meminta jalan gang diperbaiki. Ada yang mengeluhkan saluran drainase. Ada yang berharap irigasi diperbaiki. Ada pula yang menunggu jembatan yang belum kunjung selesai.
Semua itu wajar. Karena bagi masyarakat desa, pembangunan bukan sekadar angka dalam laporan.
Pembangunan adalah jalan yang bisa dilalui ketika membawa hasil panen. Pembangunan adalah saluran air yang membuat sawah tidak kekeringan. Pembangunan adalah jembatan yang memudahkan anak-anak pergi ke sekolah. Dengan kata lain, pembangunan desa adalah sesuatu yang langsung dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu saya mulai berpikir ketika mendengar bahwa Dana Desa kini dapat digunakan untuk mendukung Koperasi Merah Putih. Saya tidak sedang mempersoalkan koperasinya. Saya hanya mencoba memahami pilihan yang sedang dibuat.
Bahwa setiap kebijakan pada dasarnya adalah soal memilih. Ketika satu rupiah digunakan untuk satu program, maka rupiah yang sama tidak bisa digunakan untuk program yang lain. Itulah kenyataan yang tidak bisa dihindari.
Dana Desa juga demikian. Jumlahnya terbatas. Kebutuhannya banyak. Karena itu setiap rupiah yang keluar seharusnya benar-benar dipertimbangkan manfaatnya.
Saya lalu membayangkan sebuah desa. Di sana masih ada jalan lingkungan yang rusak. Ada gang-gang yang masih licin berlumpur Ketika datang hujan. Ada drainase yang belum memadai sehingga kerap air menggenang di sana. Ada irigasi yang perlu diperbaiki. Ada kelompok tani yang membutuhkan dukungan. Ada berbagai kebutuhan yang selama ini menjadi bagian dari pembangunan desa.
Lalu sebagian perhatian dan sumber daya desa mulai diarahkan kepada Koperasi Merah Putih. Pertanyaannya sederhana. Apakah itu pilihan yang paling mendesak?
Saya tidak memiliki jawaban yang pasti. Karena setiap desa tentu memiliki kondisi yang berbeda. Tetapi pertanyaan itu tetap layak diajukan. Sebab Dana Desa sejak awal lahir untuk memperkuat desa. Bukan sekadar memperbanyak program. Bukan sekadar mengejar target. Melainkan membantu desa menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
Di sinilah saya melihat pentingnya mendengar suara masyarakat. Karena yang mengetahui kebutuhan desa bukanlah orang yang duduk di kantor yang jauh dari desa. Yang paling mengetahui kebutuhan desa adalah masyarakat desa itu sendiri. Mereka yang setiap hari melewati jalan yang rusak. Mereka yang setiap musim kemarau menghadapi persoalan irigasi. Mereka yang merasakan langsung dampak dari setiap kebijakan pembangunan.
Karena itu menurut saya, pertanyaan terpenting bukanlah apakah Koperasi Merah Putih baik atau buruk. Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah Koperasi Merah Putih merupakan kebutuhan paling mendesak bagi desa saat ini?
Jika jawabannya ya, tentu masyarakat akan mendukung. Tetapi jika masih banyak kebutuhan lain yang lebih mendesak, maka masyarakat juga berhak bertanya. Mengapa prioritasnya harus ke sana?
Pada akhirnya pembangunan selalu soal pilihan. Dan setiap pilihan selalu memiliki konsekuensi. Membangun satu hal sering kali berarti menunda hal yang lain. Karena itu sebelum memutuskan ke mana Dana Desa akan diarahkan, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang perlu dijawab terlebih dahulu. Jika harus memilih, mana yang lebih dulu dibutuhkan warga?
Jalan desa yang lebih baik? Atau koperasi desa yang lebih banyak? Karena jawaban atas pertanyaan itu mungkin akan menentukan arah pembangunan desa kita dalam beberapa tahun ke depan.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://myedisi.com/mimbarumum



