Tahun Baru Islam: Saatnya Perempuan Menjadi Penggerak Peradaban Umat

Berita Terkait

Penulis: Nidya Lassari Nusantara

Tahun Baru Islam kembali hadir. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kata hijrah kembali ramai diperbincangkan. Sebagian memaknainya sebagai perubahan penampilan. Sebagian lainnya mengaitkannya dengan peningkatan ibadah. Semua itu tentu bagian dari hijrah. Namun, hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW sesungguhnya jauh lebih besar daripada sekadar perubahan pribadi.

Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari).

Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat bukan sekadar perpindahan langkah kaki dari Makkah menuju Madinah. Hijrah adalah perpindahan cara pandang, dari kehidupan yang mengikuti aturan buatan manusia menuju kehidupan yang tunduk pada aturan Allah SWT. Hijrah bukan hanya perubahan tempat, tetapi juga perubahan arah berpikir dan arah kehidupan.

Karena itu, hijrah tidak cukup dipahami sebatas pelaksanaan ibadah ritual semata. Hijrah juga menuntun seorang Muslim untuk memandang kehidupan dengan perspektif Islam. Cara memandang politik, ekonomi, pendidikan, sosial, hingga peran manusia di muka bumi harus berlandaskan akidah dan syariat yang diturunkan Allah SWT.

Nyatanya, dunia sedang tidak baik-baik saja. Di Indonesia, korupsi masih menjadi penyakit yang sulit diberantas, praktik riba semakin mengakar, dan ketahanan keluarga menghadapi berbagai tantangan. Di belahan dunia lain, rakyat Gaza terus hidup dalam penderitaan. Umat Islam di berbagai wilayah juga menghadapi tekanan dan penindasan yang berkepanjangan.

Allah SWT berfirman: “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak akan menemukan ketenangan ketika menjauh dari petunjuk Allah SWT. Karena itu, hijrah tidak cukup berhenti pada level pribadi. Hijrah juga harus melahirkan kesadaran untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan yang lebih luas.

Dalam perubahan itulah perempuan memiliki peran yang sangat penting.

Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptakan perempuan sebagai penonton sejarah. Sejak awal dakwah Islam, perempuan telah mengambil bagian dalam perjuangan. Sayyidah Khadijah ra. menyambut dakwah Rasulullah SAW dengan dukungan, pengorbanan, dan keteguhan hati. Sumayyah membuktikan bahwa mempertahankan kebenaran terkadang membutuhkan pengorbanan yang besar, bahkan hingga nyawa.

Perempuan hari ini pun seharusnya mengambil peran yang sama. Bukan menjadi penonton perubahan, tetapi menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Hijrah ideologi dimulai dari kesadaran untuk memahami Islam secara mendalam, lalu menanamkannya kepada generasi berikutnya.

Peran itu dapat dimulai dari rumah. Seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dari tangan seorang ibu lahir generasi yang kelak akan mewarnai masyarakat. Karena itu, perempuan perlu membekali diri dengan pemahaman akidah, syariah, dan sejarah Islam agar mampu melahirkan generasi yang kokoh dalam keimanan.

Di era digital, ruang kontribusi perempuan semakin luas. Media sosial tidak harus menjadi tempat menghabiskan waktu tanpa arah. Sebaliknya, ia dapat menjadi sarana dakwah, menyebarkan ilmu, serta mengajak masyarakat kepada nilai-nilai Islam.

Perempuan bukan hanya pelengkap perubahan. Perempuan adalah pondasi peradaban. Sejarah telah membuktikannya. Ummu Haram binti Milhan ikut dalam ekspedisi dakwah yang membawa Islam ke wilayah baru. Indonesia juga memiliki sosok Laksamana Malahayati yang menunjukkan keberanian dan kepemimpinan dalam menghadapi penjajah.

Karena itu, perempuan masa depan tidak boleh mengecilkan perannya. Cerita seorang ibu tidak hanya tentang dapur, sumur, dan kasur. Dari rumah-rumah yang dipenuhi iman, ilmu, dan kesadaran akan tanggung jawab umat, lahirlah generasi yang mampu membawa perubahan.

Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui semangat hijrah. Bukan hanya hijrah pribadi menuju ketaatan, tetapi juga hijrah menuju peran yang lebih besar dalam membangun peradaban.

Sebab dari rahim rumah yang berpikir cemerlang, akan lahir generasi Islam yang mampu memberi cahaya bagi dunia.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.” (QS. Al-Baqarah: 218).

Wallahu a’lam bishawab.

 

 

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Keracunan Massal MBG Akibat Salah Kelola Negara

Oleh: Yanti Ummu Namira Keracunan massal akibat MBG bukan lagi insiden teknis, menunjukkan kegagalan negara secara sistemik. Terjadi di beberapa...