Akankah Koperasi Merah Putih Menjadi Pesaing Rakyat Kecil?

Berita Terkait

Di kampung-kampung, ekonomi rakyat sebenarnya sudah hidup jauh sebelum pemerintah datang membawa berbagai program. Ada warung kecil yang buka sejak subuh. Ada kedai kopi yang menjadi tempat orang bertukar kabar. Ada kios pupuk yang melayani petani. Ada agen gas, agen listrik, penjual pakan ternak, hingga pedagang sayur yang setiap hari berkeliling dari dusun ke dusun.

Mungkin usaha mereka tidak besar. Omzetnya juga tidak membuat orang kaya mendadak. Namun dari usaha-usaha kecil itulah banyak keluarga bisa menyekolahkan anak, membayar kebutuhan rumah tangga, bahkan membangun rumah sedikit demi sedikit.
Mereka adalah ekonomi rakyat yang sesungguhnya.

Karena itu ketika pemerintah menghadirkan Koperasi Merah Putih di hampir seluruh desa, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak diajukan. Apakah koperasi ini akan memperkuat usaha warga yang sudah ada, atau justru menjadi pesaing baru bagi mereka?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tetapi dampaknya bisa sangat besar.
Bayangkan, sebuah warung yang selama bertahun-tahun melayani kebutuhan warga. Lalu hadir sebuah koperasi dengan modal jauh lebih besar, bangunan lebih megah, akses barang lebih mudah, bahkan mendapat dukungan dari berbagai kebijakan pemerintah.
Apakah warung kecil itu mampu bersaing? Belum tentu.

Dalam dunia usaha, yang kuat biasanya akan semakin kuat. Yang lemah harus bekerja lebih keras untuk bertahan. Karena itulah koperasi seharusnya hadir untuk membantu anggotanya menjadi lebih kuat, bukan mengambil ruang usaha yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Saya jadi teringat satu prinsip sederhana dalam gerakan koperasi. Koperasi dibentuk untuk menyelesaikan masalah ekonomi anggota. Bukan menciptakan masalah baru bagi anggota.
Kalau di sebuah desa sudah ada puluhan warung kecil yang hidup dari penjualan sembako, maka seharusnya pemerintah membantu mereka mendapatkan harga barang yang lebih murah, akses modal yang lebih mudah, atau jaringan distribusi yang lebih baik. Bukan malah membuka usaha yang sama lalu berebut pembeli dengan mereka.

Kalau itu yang terjadi, maka koperasi sedang bertanding melawan rakyat kecil yang justru seharusnya dibelanya. Tentu saya tidak mengatakan bahwa semua Koperasi Merah Putih pasti akan berakhir seperti itu.

Semua pihak tentu berharap program ini berhasil. Namun harapan saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kejelasan arah. Koperasi ini sebenarnya ingin menjadi apa? Apakah menjadi rumah bersama bagi usaha-usaha kecil yang sudah ada? Ataukah menjadi pemain baru yang masuk ke lapangan lalu bersaing dengan pemain lama?

Pertanyaan itu penting dijawab sejak awal. Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya keberhasilan sebuah program pemerintah. Yang dipertaruhkan adalah nasib ribuan bahkan jutaan usaha kecil yang selama ini bertahan tanpa banyak sorotan.

Mereka memang tidak pernah diundang ke ruang rapat. Nama mereka juga tidak pernah muncul dalam pidato-pidato besar. Tetapi merekalah yang selama ini menjaga agar ekonomi desa tetap berputar.

Dan jangan sampai, atas nama membangun ekonomi rakyat, kita justru tanpa sadar meruntuhkan ekonomi rakyat yang sudah lebih dulu hidup.

Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Hukum Menjadi Adonan, Kekuasaanpun Kehilangan Nurani?

Ada yang menggelisahkan dalam kehidupan kita belakangn ini. Hukum yang seharusnya menjadi pagar keadilan, terkadang justru diperlakukan seperti karet....