Natuna: Ketika Sastra Lokal Hampir Padam di Beranda Negeri (2)

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Angin laut Cina Selatan berhembus pelan menembus jendela ruang kelas SMA Negeri 1 Bunguran Timur. Di dalamnya, Adinda—guru seni budaya yang juga penari tradisional—sedang mengajarkan gerak tari Melayu Natuna kepada belasan siswi. Tapi hari ini, ia tidak hanya mengajar gerak. Ia mengajar ingatan.

“Dulu, setiap pantun dan syair yang ditarikan punya makna. Sekarang, anak-anak lebih hapal lagu asing daripada gurindam dari nenek moyang mereka sendiri,” ujar Adinda kepada Tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB) yang penulis pimpin ditaja Dana Indonesiana tahun anggaran 2025, Senin (13/4/26).

Adinda bukan sekadar guru. Ia adalah salah satu dari sedikit pelaku budaya yang masih setia merawat tari-tarian dan teks lisan Natuna. Menurutnya, sastra lokal Natuna—yang kaya akan pantun, gurindam, cerita rakyat, dan mantera tradisional—kini berada di ambang kepunahan.

“Kami mengajar tari, tapi di balik tari ada cerita. Dan di balik cerita, ada bahasa. Jika bahasanya mati, maka sirna pulalah Natuna dari peta kebudayaan nasional.”

Menyelamatkan Sastra Lewat Gerak

Sebagai guru seni di sekolah yang berada di jantung Kota Ranai, Adinda merasakan langsung bagaimana generasi muda Natuna perlahan kehilangan akar sastra lokalnya. Anak-anak lebih akrab dengan konten digital lintas negara daripada legenda Pulau Serindit atau cerita tentang Demang Megat yang diyakini sebagai leluhur Natuna.

Namun Adinda tidak tinggal diam. Ia mulai menyusun metode pengajaran tari yang tidak hanya menekankan gerak, tetapi juga narasi sastra yang menyertainya. Setiap gerak tangan dalam Tari Zapin Natuna, katanya, sejatinya adalah terjemahan dari bait-bait pantun perantauan.

“Saya bilang ke murid-murid: ‘Kalian tidak sedang menari. Kalian sedang membacakan puisi dengan tubuh.’”

Adinda juga aktif mengoleksi naskah-naskah lisan dari para tetua yang tersisa di kampung-kampung tua seperti Sedanau dan Air Kolek. Dari situlah ia menemukan fakta mengejutkan: lebih dari 60 persen cerita rakyat Natuna belum pernah dituliskan. Hanya hidup di ingatan segelintir orang tua yang usianya di atas 70 tahun. Namun, Adinda sering kolaborasi dengan Ryannaldo Noorhidayat.

Penjaga Cerita yang Mulai Sepi Pendengar

Jika Adinda menjaga sastra lewat tubuh, maka Ryannaldo Noorhidayat menjaganya lewat kata dan dokumen. Pemuda asli Natuna ini adalah salah satu dari sedikit anak muda yang secara serius mendokumentasikan cerita rakyat dan sejarah lisan Natuna yang nyaris punah. Ia penggagas pendirian Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Melayu Natuna (Kompas Benua). Komunitas ini terus bergerak di bidang pencarian sejarah dan pelestarian budaya khususnya di Natuna.

“Komunitas ini menjadi wadah bagi para pemuda dan masyarakat bersama-sama melestarikan budaya dan sejarah yang ada di Natuna,” kata Ryannaldo di bawah sinar terik Umahsakih, Ahad (12/4/26).

Ryannaldo menjadi narasumber kunci bagi Tim dalam memahami bagaimana struktur sastra lokal Natuna—yang bercampur antara bahasa Melayu klasik, istilah maritim, dan pengaruh asing—hampir tidak terdokumentasikan secara sistematis. Ia mengaku tengah berencana menerbitkan buku cerita rakyat Natuna, meneruskan pendahulunya, B.M. Syamsuddin.

“Saya hanya anak kampung yang takut kehilangan cerita. Karena kalau cerita hilang, maka Natuna hanya akan dikenal karena gas alamnya, bukan karena budayanya.”

Mengapa Sastra Lokal Natuna Nyaris Punah?

Dari percakapan dengan Adinda dan Ryannaldo, serta penelusuran dokumen Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang (2008), setidaknya ada empat penyebab utama kepunahan sastra lokal Natuna:

1. Tidak ada tradisi tulis – Sebagian besar sastra Natuna hanya ditransmisikan secara lisan. Tidak ada naskah tertulis yang terpelihara secara kolektif.

2. Minimnya muatan lokal di sekolah – Meski Kurikulum Merdeka pernah memberi ruang, faktanya materi sastra lokal Natuna hampir tidak tersedia.

3. Generasi muda lebih terpapar budaya asing – Akses internet dan kedekatan geografis dengan negara tetangga mempercepat erosi bahasa dan sastra.

4. Tidak ada regenerasi pelaku budaya – Adinda dan Ryannaldo termasuk generasi langka. Kebanyakan tetua sastra telah meninggal tanpa mewariskan ceritanya.

Harapan di Tengah Keprihatinan

Meski suram, Adinda dan Ryannaldo masih menyisakan optimisme. Adinda kini sedang mengembangkan sanggar tari berbasis cerita rakyat di Ranai. Tidak hanya mengajarkan gerak, tetapi juga membacakan teks asli pantun dan syair sebelum anak-anak menari. Ia percaya bahwa sastra bisa hidup kembali jika dibungkus dalam bentuk yang relevan dengan generasi Z.

Ryannaldo, di sisi lain, mulai menggunakan media sosial untuk membagikan cerita rakyat Natuna dalam bentuk video pendek. Dengan gaya bercerita yang santai namun penuh data, ia perlahan-lahan membangun komunitas pecinta sejarah lokal.

“Saya tidak ingin menjadi pahlawan. Saya hanya ingin, ketika nanti anak saya lahir, ia masih bisa mendengar cerita tentang Pulau Serindit dari mulut orang Natuna, bukan dari Wikipedia dalam bahasa Inggris,” ujar Adinda sambil tersenyum.

Natuna tidak kehilangan sastra karena tidak punya cerita. Natuna kehilangan sastra karena generasinya tidak lagi diajarkan cara mendengarkan. Adinda dan Ryannaldo adalah dua orang yang masih membisikkan kata-kata lama di tengah badai modernisasi.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Jelajah Kuliner Etnik FORKALA Medan Cicipi Nikmatnya Masakan Khas Jogja

mimbarumum.co.id - Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat (FORKALA) Kota Medan menggelar kegiatan bertajuk 'Jelajah Kuliner Etnik' di Warung Jogja...