mimbarumum.co.id — Serikat Perusahaan Pers (SPS) Provinsi Aceh memanfaatkan momentum Halal Bihalal bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi sebagai titik awal mempertegas arah besar: menembus panggung internasional.
Kegiatan yang digelar di Aula 3 In 1, Lambhuek, Banda Aceh, Rabu (8/4/2026), berlangsung hangat dan penuh keakraban. Namun di balik suasana tersebut, tersimpan pesan kuat tentang masa depan pers Aceh.
Pelaksana Tugas (Plt) Ketua SPS Aceh, Muktarrudin Usman, secara terbuka menyampaikan ambisi besar organisasi yang dipimpinnya.
“Ke depan, kita harus berani menatap dunia—membangun jejaring dan kerja sama hingga ke level internasional,” tegasnya.
Menurutnya, capaian SPS Aceh selama ini menjadi modal penting untuk melangkah lebih jauh. Dalam beberapa tahun terakhir, SPS Aceh tercatat sukses menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional dan peringatan HUT SPS 2025, serta meraih predikat SPS terbaik nasional selama dua tahun berturut-turut.
Namun bagi Muktarrudin, prestasi tersebut bukan garis akhir.
“Boleh jadi kita terlihat sederhana, tetapi dengan kerja keras dan kebersamaan, kita mampu bersaing di tingkat nasional,” ujarnya.
Ia menegaskan, kekuatan utama SPS Aceh terletak pada soliditas internal. Karena itu, momentum Halal Bihalal dijadikan ruang memperkuat kebersamaan di tengah tantangan industri media yang semakin kompleks.
“Silaturrahmi ini bukan sekadar tradisi, tapi fondasi kekuatan organisasi,” katanya.
Dalam kesempatan itu, tausiyah yang disampaikan Tgk Fauzan turut memberi perspektif moral terhadap dunia pers. Ia mengingatkan bahwa profesi jurnalistik bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah yang menuntut kejujuran.
“Sejak masa Rasulullah, sudah ada sahabat yang dipercaya membawa kabar. Ini menunjukkan pentingnya peran pers,” ujarnya.
Di tengah arus perubahan digital yang kian cepat, SPS Aceh menyadari tantangan ke depan tidak ringan. Pers dituntut tetap profesional, independen, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Muktarrudin pun mengingatkan para pengusaha media untuk memegang prinsip sederhana namun mendasar.
“Kita harus pegang prinsip S3 plus: silaturrahmi, serius, dan sabar,” tuturnya.
Dari pertemuan sederhana itu, satu pesan menguat: Aceh tidak ingin hanya menjadi penonton dalam percaturan media global. Langkah menuju panggung internasional mulai disusun—pelan, tapi pasti.
Reporter : Ngatirin/rel


