mimbarumum.co.id – Sejumlah tokoh masyarakat dan intelektual Sumatra Utara mendeklarasikan Forum Pengawal Pengamalan Pancasila (FP3), Senin (17/11/2025), di AOBI Cafe Knowledge and Art, Jalan Singgalang No. 2, Medan. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi kehidupan kebangsaan Indonesia pasca Pemilu/Pilpres 2024, yang dianggap mencerminkan masalah besar dalam perjalanan demokrasi dan penyimpangan dari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan 1945.
Deklarasi yang berlangsung pukul 16.00 WIB ini dihadiri sejumlah tokoh terpandang Sumatra Utara, serta mewakili Pemerintah Kota Medan, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Medan, Drs. Ody Dody Prasetyo, M.S.P. Acara ini digagas dan diundang oleh tiga inisiator utama, yaitu Daudsyah Munthe, Syarifuddin Siba, dan Irwansyah Nasution.
Dalam sambutannya, salah satu inisiator, Syarifuddin Siba, menyampaikan pidato yang menjadi dasar pemikiran deklarasi ini, yang disebut sebagai “Konvensi Jalan Singgalang”. Siba menegaskan, telah terjadi masalah besar dalam demokrasi Indonesia.
“Banyak fakta yang selama ini tersimpan dalam ruang gelap politik mulai satu persatu terungkap. Banyak produk konstitusional yang dibuat ternyata telah menyimpang dari cita-cita luhur Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945,” ujarnya.
Siba lebih lanjut mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kekuasaan selama satu dekade terakhir secara diam-diam telah mendegradasi nilai-nilai Pancasila. “Bahkan, ada upaya untuk mengubah sila-sila dalam Pancasila itu sesuai dengan vested interest kekuatan politik yang tengah memegang amanah konstitusi,” tegasnya.
Menurutnya, Pancasila sebagai amanat Pembukaan UUD 1945 harus dijunjung tinggi sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara yang nyata dan transparan.
Inisiator lainnya, Daudsyah Munthe, dalam kesempatan yang sama menekankan pentingnya revitalisasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyoroti, pengamalan nilai-nilai Pancasila telah tergerus oleh dinamika politik dan arus globalisasi.
“P4 tidak lagi menjadi perilaku bangsa Indonesia terutama generasi muda yang mulai terpengaruh dengan arus globalisasi dan modernisasi yang melanda hampir seluruh sendi kehidupan bangsa,” papar Munthe. Ia berharap FP3 dapat menjadi wadah untuk mendorong dan membantu pemerintah dalam menerapkan kembali nilai-nilai Pancasila.
Syahyan Asmara, tokoh lain yang hadir dan memberikan dukungan, menambahkan, deklarasi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah gerakan panjang. “FP3 harus menjadi pengawal yang kritis namun konstruktif, memastikan Pancasila tidak hanya menjadi slogan, tetapi hidup dalam setiap kebijakan dan tindakan penyelenggara negara,” ujar Asmara.
Kehadiran pemerintah daerah dalam acara ini ditandai dengan sambutan dari Drs. Ody Dody Prasetyo, M.S.P., yang mewakili Wali Kota Medan. Dalam sambutannya, Ody menyambut baik inisiatif masyarakat ini dan menegaskan komitmen Pemerintah Kota Medan untuk mendukung pengamalan Pancasila.
“Pemerintah Kota Medan mengapresiasi langkah strategis ini. Pancasila adalah roh yang mempersatukan kita. Badan Kesbangpol siap bersinergi dengan FP3 untuk menyusun program-program konkret yang bisa menyentuh seluruh lapisan masyarakat, dari tingkat Lingkungan hingga kantor pemerintahan,” ajaknya.
Deklarasi yang berlangsung dengan khidmat ini diakhiri dengan pembacaan ikrar bertajuk “Konvensi Jalan Singgalang” diikuti seluruh peserta yang hadir untuk mengawal dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Forum ini berkomitmen untuk tidak hanya menjadi wadah diskusi, tetapi juga merancang aksi-aksi nyata, seperti penyuluhan, seminar, dan program pendidikan kewarganegaraan, khususnya untuk generasi muda.
Dengan dideklarasikannya FP3, para inisiator dan tokoh masyarakat Sumatra Utara berharap dapat mengembalikan Pancasila pada khittahnya sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa, menangkalkan segala bentuk penyimpangan, dan memastikan cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud. Gerakan ini menjadi penanda kebangkitan kesadaran kolektif untuk menjaga warisan luhur founding fathers di tengah turbulensi politik dan tantangan zaman.
• Suyadi San


