JEJAK: Siti Salmah, Menyalakan Pelita Sastra dari Riau untuk Indonesia

Berita Terkait

DI tengah gemuruh dunia yang makin pragmatis, ada sosok yang teguh mempercayai kekuatan kata sebagai penuntun jalan. Dialah Siti Salmah, atau yang akrab disapa Cik Siti—seorang direktur penerbit, pendamping sastra, dan pegiat literasi yang namanya mungkin tidak sering terdengar di media arus utama, namun jejaknya nyata dalam menumbuhkan tunas-tunas sastra, khususnya di Riau dan beyond.

Penulis bertemu Cik Siti di arena Pertemuan Penyair Nusantara ke-13 di Jakarta, 11–14 September 2025. Sebelumnya, bersua di hajatan sastra di Riau, Lampung, dan beberapa tempat lainnya. Perjalanan hidup Cik Siti berawal dari sebuah tempat yang sunyi di Batang Natal, Tapanuli Selatan. Lahir di Tambang Kaluang dan berpindah-pindah hingga ke Aek Kolbung, masa kecilnya diwarnai oleh kesederhanaan dan keterbatasan.

“Saya terlahir dari keluarga yang susah,” kenangnya. Di ‘huta’ (kampung) yang jauh dari keramaian, buku bacaan adalah barang mewah. Namun, justru dalam kesederhanaan itu, benih-benih sastra mulai tumbuh.

Dua sumber utama ‘bahan bacaan’-nya waktu kecil adalah buku harian emaknya yang penuh keluh kesah, dan naskah khutbah Jumat yang selalu dibacakan ayahnya sebelum pergi ke masjid. “Emak akan bercerita pengalaman hidupnya, seringkali dinyanyikan, tak jarang air matanya jatuh,” ujarnya.

Dari sang Ayah, ia belajar kekuatan kata yang menuntun hati; dari sang Emak, ia menyerap kebijaksanaan Melayu lama yang lembut namun sarat makna. Warisan tutur inilah yang kelak menjadi fondasi seluruh gerak hidupnya.

Setelah berpindah ke Riau pada 1990 dan menjadi guru honorer selama 13 tahun, Cik Siti dihadapkan pada pilihan hidup yang berat di tahun 2019. Di puncak pandemi, saat banyak orang mencari kepastian, justru ia memutuskan berhenti mengajar dan menolak tawaran menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Sebab gerak dan kreativitas di dunia seni dan sastra akan sangat terbatas,” tegasnya tentang keputusan yang dianggap ‘aneh’ oleh banyak orang, termasuk keluarga. Dengan keyakinan penuh, ia membangun Salmah Publishing dari nol, tanpa relasi, hanya berbekal passion dan ketekunan berkarya.

“Hambatan finansial bukanlah kekurangan yang harus mematahkan semangat saya,” ujarnya.

Salmah Publishing bukan sekadar bisnis; ia adalah ruang hidup. Di bawah kepemimpinannya, penerbitan ini menjadi jembatan bagi penulis-penulis pemula untuk menerbitkan karya secara profesional, namun dengan sentuhan hangat dan personal. Lebih dari itu, Cik Siti aktif mendampingi sastra anak, menjadi narasumber di berbagai instansi, dan menjadi juri lomba literasi.

“Kak Salmah bukan hanya menerbitkan buku saya, tapi juga menumbuhkan rasa percaya diri untuk terus menulis. Ia membimbing dengan hati, bukan sekadar profesi,” tutur Mardiah, seorang penulis dari Siak, menggambarkan dampak dari pendekatannya.

Melalui Rumah Kreatif Escewe dan Yayasan Berida Tutur yang didirikannya, ia memperluas kontribusi. Rumah Kreatif Escewe fokus pada sastra anak, sementara Yayasan Berida Tutur bergerak di ranah sastra lisan, budaya, lingkungan, dan pendidikan.

Seorang sastrawan, Murparsaulian, menyebutnya: “Siti Salmah adalah perempuan yang konsisten menapaki jalan sastra anak… Di tangannya, semoga masa depan sastera anak menemukan jalan yang lebih baik dan kreatif.”

Siti Salmah bersama anak-anak binaan sastranya.

Kepeduliannya nyata. Bersama guru binaannya di MTsN 2 Kota Pekanbaru, ia bahkan rela mengantar-jemput siswa yang memiliki keterbatasan kendaraan agar bisa belajar sastra. Dari kepedulian inilah lahir Sanggar Literasi Kepayang.

“Terus berbagi hal-hal baik sekecil apapun itu,” itu adalah prinsip hidup yang dipegangnya teguh. Prinsip ini terwujud dalam setiap tindakannya, dari mengelola penerbitan hingga mendampingi anak-anak.

Di waktu senggang, Cik Siti senang menyusuri tempat-tempat sepi, mencari inspirasi dari percakapan sederhana, aroma hujan, atau senyum orang asing. “Saya senang mencatat hal-hal kecil yang sering luput,” akunya. Kekhasannya terletak pada kemampuannya menemukan puisi dalam kehidupan sehari-hari dan kemudahannya bergaul dengan siapa saja, terutama anak muda yang penuh ide.

Impian terbesarnya adalah menjadikan Yayasan Berida Tutur dan Rumah Kreatif Escewe sebagai ruang hidup bagi gerakan sastra, seni, budaya, dan literasi. Ia bermimpi membangun pusat literasi terbuka dan menjalin jejaring lintas daerah dan negara untuk memperkenalkan semangat kebudayaan dan kemanusiaan Indonesia.

“Proses kreatif saya selalu berawal dari pengamatan dan keheningan,” tuturnya tentang cara kerjanya. Baginya, menulis adalah bentuk doa: “perlahan, jujur, dan tak pernah benar-benar selesai.”

Nasihatnya untuk khalayak sederhana namun mendalam: “Peliharalah hati, jagalah kata, dan rawatlah makna.” Di dunia yang serba cepat, ia mengajak kita untuk sesekali berhenti, mendengar suara batin, dan tetap rendah hati dalam belajar.

Warna favorit hitam dan krem, makanan favorit ‘makanan apa saja’, dan tokoh favorit Najwa Shihab, adalah sedikit dari selera personalnya. Namun, warisan terbesarnya adalah keyakinan bahwa bahasa adalah cahaya yang menuntun jalan hidup.

Dari Riau, dengan ketulusan dan kerja nyata, Siti Salmah terus menyalakan pelita sastra, membuktikan bahwa warisan tutur yang dijaganya akan terus hidup dan menginspirasi, satu kata, satu anak, pada satu waktu.

• Suyadi San

Tinggalkan Balasan

spot_img

Berita Pilihan

Sambut HUT ke-62, Golkar Medan Bagikan 3.062 Paket Sembako kepada Masyarakat

mimbarumum.co.id - Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar, DPD Partai Golkar Kota Medan menggelar aksi sosial dengan...