mimbarumum.co.id – Kritikus sastra Maman S. Mahayana secara terbuka menyatakan penolakan dan keprihatinannya terhadap proses penentuan kandidat penerima BRICS Literature Award yang dinilainya tidak transparan dan penuh kejanggalan. Pernyataan sikap ini dilayangkan menyusul rencana pengumuman daftar pendek tiga nama calon penerima penghargaan dari Indonesia.
BRICS yang didirikan 16 Juli 2009 adalah singkatan dari Brazil, Russia, India, China, South Africa, yaitu kelompok negara berkembang yang memiliki peran besar dalam perekonomian global. Kelompok BRICS saat ini menjadi simbol kekuatan ekonomi baru sebagai penyeimbang dominasi negara Barat dalam tatanan ekonomi dunia.
Indonesia resmi bergabung BRICS, 6 Januari 2025, menandai langkah strategis untuk memperluas pengaruh dalam ekonomi global dan mendiversifikasi mitra strategisnya. Selain Indonesia, masuk pula Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab.
Pada November 2024, Moskow menjadi tuan rumah Forum Nilai-Nilai Tradisional BRICS (BRICS Traditional Values Forum) yang dihadiri anggota-anggota yang tergabung dalam BRICS.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan kepada Mimbar Umum Online, Minggu (26/10/2025), Maman menguraikan kronologi panjang yang bermula pada Februari 2025. Saat itu, dia dihubungi oleh seorang asisten dari panitia BRICS Literature Award atas rekomendasi Victor Pogadaev, seorang Indonesianis asal Rusia. Maman menyatakan kesediaannya untuk menjadi juri, meski awalnya belum sepenuhnya memahami ekspektasi dari pihak BRICS.
“Pada 7 Mei 2025, nomor ponsel saya dimasukkan ke dalam grup WhatsApp ‘BRISC Literacy Jury Team’ oleh Vania Djohan Salim, yang mengklaim diri sebagai perwakilan Indonesia untuk BRICS,” jelas Maman. Di dalam grup itu, terdapat beberapa nama yang dikenalnya, seperti penyair Anwar Putra Bayu dan Dr. Bondan Kanumoyoso, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Anwar kemudian mengundurkan diri dengan alasan kesehatan.
Sebagai seorang akademisi yang memahami bobot tanggung jawab sebagai juri, Maman berulang kali mengusulkan agar dewan juri mengadakan pertemuan langsung. Tujuannya, untuk membahas kriteria, mekanisme seleksi, dan pertanggungjawaban moral serta kultural dalam memilih wakil Indonesia untuk penghargaan bergengsi tingkat internasional tersebut.
“Pemberian penghargaan sastra BRICS bagi Indonesia bukanlah persoalan sederhana. Ini mewakili sebuah bangsa besar yang heterogen. Kita harus memilih karya seseorang yang pantas, berkualitas, reputasional, dan merepresentasikan semangat bangsa,” tegas Maman. Namun, usulannya untuk bertemu secara fisik tak kunjung direalisasikan oleh pihak koordinator.
Kejanggalan mulai terasa ketika pada 20 Mei 2025, Maman menerima 16 nama calon yang diusulkan. Dia mengaku terkejut karena beberapa nama di dalamnya dinilai belum akrab di kancah sastra Indonesia. Merespons hal ini, dia pun mengajukan sejumlah pertanyaan kritis tertulis perihal dasar pemilihan, batas usia, kriteria, argumentasi karya, dan bentuk pertanggungjawaban juri. Pertanyaan-pertanyaan ini, menurutnya, penting sebagai landasan akademis dan kultural.
Daftar Calon yang Berubah-Ubah dan Misterius
Situasi semakin keruh ketika daftar calon terus berubah tanpa kejelasan. Pada 22 Juli 2025, Maman mendapat kiriman daftar nama dari lima negara. Untuk Indonesia, hanya tercantum dua nama: Ikasaka Banu dan Intan Paramaditu. “Penulisan (fonem) nama yang (juga) tidak konsisten,” sebut Maman.
Kekhawatirannya memuncak ketika pada 23 Oktober 2025, dia menerima undangan Konferensi Pers BRICS Literature Award yang akan mengumumkan tiga nama kandidat dengan urutan: (1) Denny JA, (2) Iksaka Banu, dan (3) Intan Paramaditha.
“Adanya penambahan dari dua nama menjadi tiga nama dengan urutan yang juga berubah, menunjukkan ada sesuatu yang dapat menjadi pertanyaan besar. Bahkan, sangat mungkin memantik kontroversi yang tidak produktif,” papar Maman.
Maman menegaskan, proses yang tidak jelas ini membuatnya tidak bisa bertanggung jawab secara moral dan intelektual. Dia menekankan ketidaktahuannya tentang siapa saja yang terlibat dalam keputusan final, apa kapasitas dan autoritas mereka, serta bagaimana mekanisme pertanggungjawabannya kepada publik sastra Indonesia.
“Berdasarkan pertimbangan di atas, saya menolak ketiga nama tersebut; Iksaka Banu, Intan Paramaditha, dan Denny JA, untuk diajukan sebagai calon penerima BRICS Literature Award. Selain saya tidak memilih nama-nama itu, juga masih banyak nama lain yang lebih layak diajukan,” tegas Maman dengan lugas.
Di akhir pernyataannya, Maman S. Mahayana mendesak pihak-pihak terkait untuk berhati-hati dan mempertimbangkan kembali keputusan ini. Dia menuntut transparansi penuh mengenai proses penentuan dewan juri, kriteria seleksi, dan pertanggungjawaban juri kepada publik. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kontroversi yang lebih luas dan dampak yang kontraproduktif bagi dunia sastra Indonesia di kancah internasional.
• Suyadi San



[…] Maman S. Mahayana Soroti Proses Tak Transparan Seleksi Kandidat Penghargaan Sastra BRICS […]