mimbarumum.co.id – Dalam riuh rendah Konferensi Internasional Kesusastraan (KIK) ke-34 Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) 10–13 Oktober 2025 di Surabaya, Jawa Timur, sosok Ibnu Wahyudi tampak tenang menyimak salah satu sesi diskusi. Pria yang akrab disapa Kang Iben ini merupakan seorang akademisi, sekaligus sastrawan dan perupa yang sedang menyelami inspirasi dari dunia kata. Dalam kesempatan pertemuan di sela acara, dia bercerita tentang pameran yang baru saja dia gelar bersama rekan-rekannya, sebuah perhelatan seni rupa yang menyiratkan ikatan kuat pada sebuah kota di Jawa Tengah: Boyolali.
Bersama tiga perupa lainnya—Lilik Subekti, Adi Surya Triwibowo, dan Ary Okta—Kang Iben menggelar pameran bertajuk “Nuansa Rupa” di Palakali Creative Art Space & Gallery, Depok. Pameran yang berlangsung dari 21 September hingga 18 Oktober 2025 itu, dibuka Minggu (28/9/2025).
“Ada semacam nostalgia dan kebanggaan kolektif yang kami coba tuangkan,” ujar Kang Iben, menjelaskan benang merah yang menghubungkan keempat perupa.
Tiga di antaranya, termasuk dirinya, adalah putra asli Boyolali, sementara Ary Okta, yang berasal dari Pacitan, telah menjadi bagian dari keluarga besar Boyolali melalui ikatan pernikahan. Ikatan geografis dan emosional inilah yang menjadi roh dari pameran ini.
Dibuka Sang Profesor, Dihadiri Tokoh Seni Nasional
Sebuah kehormatan bagi pameran ini ketika peresmiannya dibuka secara langsung oleh Prof. dr. Hadi Pratomo, M.P.H., Dr.PH, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (foto). Yang istimewa, Prof. Hadi juga merupakan putra daerah Boyolali, kelahiran Kecamatan Sawit dan alumni SMPN 1 Boyolali.
“Beliau adalah contoh bahwa spirit Boyolali tidak hanya melahirkan seniman, tetapi juga ilmuwan di berbagai bidang. Kehadiran beliau menjadi pengikat yang sempurna antara dunia seni dan akademis, sekaligus mengukuhkan bahwa akar budaya kita adalah sumber inspirasi yang tak pernah kering,” papar Kang Iben, yang terlihat masih bersemangat mengingat momen pembukaan.
Keistimewaan acara pembukaan tidak berhenti di sana. Pameran ini juga berhasil menarik perhatian dua tokoh seni rupa nasional: Efix Mulyadi, pengamat dan penulis seni dari harian Kompas, serta pelukis ternama, Ireng Halimun. Kehadiran mereka memberikan apresiasi dan nilai lebih bagi pameran yang digelar di luar pusat seni rupa utama seperti Jakarta atau Yogyakarta ini.
“Alhamdulillah, kedatangan Mas Efix dan Mas Ireng memberikan energi positif. Ini menunjukkan bahwa karya-karya kami mendapat perhatian, dan bahwa ruang seni seperti Palakali memiliki tempatnya sendiri dalam peta seni rupa Indonesia,” ujar Kang Iben.
Dari Abstrak hingga Ekspresionisme
Secara total, lebih dari 25 karya dipamerkan, terdiri dari lukisan dan karya instalasi. Sebagai perupa dan juga pendidik seni serta penyair yang telah bertahun-tahun berkarya, Kang Iben dan kawan-kawan menampilkan kematangan artistik mereka. Karya-karya yang dominan bergaya abstrak dan ekspresionis, membiarkan imajinasi penikmatnya menari bebas menafsirkan setiap goresan dan bentuk.
“Kami tidak ingin terkungkung oleh representasi yang rigid. Abstraksi dan ekspresionisme memberi kami kebebasan untuk menuangkan emosi, memori, dan ‘nuansa’ tentang Boyolali yang mungkin tidak kasat mata, tetapi sangat terasa dalam jiwa,” jelasnya.
Pameran yang terbuka untuk umum dan gratis ini tidak hanya menyajikan karya visual. Acara pembukaannya dimeriahkan oleh musikalisasi puisi dari grup Sasina UI, pembacaan puisi, serta sejumlah acara kreatif lainnya, menciptakan sebuah perhelatan seni yang lengkap dan meriah.
Seni sebagai Pengikat dan Napas Kreatif
Bagi Kang Iben, pameran seperti “Nuansa Rupa” adalah sebuah keharusan. Di tengah kesibukannya sebagai seorang pendidik dan praktisi seni, berkumpul dan berpameran bersama rekan-rekan sematangnya adalah semacam proses regenerasi energi kreatif.
“Kami semua sudah punya jalannya masing-masing. Tapi ketika berkumpul, ada semacam dialog kreatif yang terjadi. Kami saling menginspirasi, mengkritik, dan mengingatkan bahwa seni adalah perjalanan yang tidak pernah selesai,” tuturnya.
Pameran ini, lanjutnya, juga menjadi bukti bahwa seniman dari daerah seperti Boyolali memiliki suara dan cerita yang unik untuk dibagikan. Ia berharap, “Nuansa Rupa” dapat menginspirasi perupa muda di daerah untuk terus berkarya dan berani menampilkan identitas kedaerahannya tanpa rasa inferior.
Sebelum mengakhiri percakapan untuk kembali menghadiri sesi KIK, Kang Iben berpesan, “Seni rupa, seperti sastra yang sedang dibahas dalam konferensi ini, adalah bahasa universal. Tapi ia selalu berangkat dari yang lokal, dari pengalaman personal dan kultural yang paling dekat dengan kita. Dari Boyolali, kami ingin bicara pada dunia.”
Dan, dalam setiap goresan warna dan bentuk di Palakali, pesan itu telah terucap, mengundang siapa saja untuk menyelami nuansa rupa dari sebuah kota yang hangat dan penuh kenangan. Setidaknya, hal itu juga terlihat pada goresan penanya dalam buku antologi puisi “Nonversasi” yang diberikan kepada penulis (foto).

• Suyadi San


