Band Kosakata: Harmoni Nada di Tengah Kesibukan Badan Bahasa

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Di antara kesibukan menyusun kamus, meneliti bahasa daerah, dan merumuskan kebijakan kebahasaan, ternyata terselip sebuah harmoni yang unik. Dari ruang-ruang kerja Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, lahir sebuah grup musik yang menyandang nama yang sangat akrab di telinga para linguis: Kosakata.

Band yang beranggotakan pegawai Badan Bahasa ini bukan sekadar kelompok musik biasa. Mereka adalah bukti nyata bahwa semangat berkesenian dan dedikasi pada tugas negara dapat berjalan beriringan. Di balik alunan keyboard, gitar, bass, dan drum, tersimpan cerita tentang perjuangan, keswadayaan, dan komitmen untuk turut memajukan bahasa Indonesia melalui medium musik.

Wawan Prihartono, salah satu personel yang memainkan keyboard untuk Band Kosakata, dengan semangat menceritakan awal mula berdirinya grup ini.

“Mimpi untuk memiliki band di internal Badan Bahasa sebenarnya sudah ada sejak lama, kira-kira sekitar tahun 2015-2018, diinisiasi oleh almarhum Bapak Sugiono, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Bahasa dan Sastra. Sayangnya, pada waktu itu banyak kendala sehingga mimpi itu belum bisa terwujud,” kenang Wawan saat diwawancarai di sela-sela kesibukannya melayani ahli bahasa ranah hukum, Kamis (18/9/25).

Namun, keinginan kuat untuk bermusik tidak pernah padam. “Akhirnya, sejalan dengan keinginan yang kuat dari beberapa rekan, satu per satu kendala itu kami coba atasi. Kami pun sepakat membentuk sebuah band dan memilih nama ‘Kosakata’,” tambahnya.

Pemilihan nama tersebut, menurut Wawan, bukanlah tanpa alasan. Kosakata adalah istilah teknis yang sangat lekat dengan dunia mereka dini adalah identitas kami. Harapannya, band ini bisa menjadi perekat, tidak hanya bagi para personelnya, tetapi juga untuk seluruh entitas di Badan Bahasa, dan tentu saja turut membantu menyukseskan berbagai program lembaga,” ujarnya.

Awal yang Penuh Tantangan dan Semangat Swadaya

Perjalanan Band Kosakata di awal pembentukannya tidaklah mulus. Kendala klasik yang dihadapi hampir semua band pemula: tidak memiliki alat musik yang memadai. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat mereka.

“Pada masa-masa awal, kami benar-benar swadaya. Masing-masing personel membawa alat musik pribadi ke kantor untuk latihan. Keyboard saya bawa, gitar dibawa yang punya, begitu juga dengan peralatan lainnya. Kami latihan di sela-sela waktu istirahat atau setelah jam kerja,” cerita Wawan.

Komitmen untuk tetap tampil juga diuji. Setiap kali mendapat undangan untuk perform, seperti dalam acara internal Badan Bahasa atau even kebahasaan, Band Kosakata selalu berusaha tampil maksimal dengan peralatan seadanya, sambil tetap membawa nama Badan Bahasa dengan bangga.

“Ketekunan dan keseriusan kami akhirnya mendapat perhatian dari pimpinan Badan Bahasa. Alhamdulillah, respons mereka sangat positif. Badan Bahasa kemudian menyediakan seperangkat alat musik lengkap beserta studio untuk kami gunakan. Ini benar-benar memacu semangat kami untuk lebih berkembang lagi,” ujar Wawan dengan wajah berbinar.

Mungkin tantangan terbesar bagi Band Kosakata bukanlah soal alat musik, tetapi bagaimana menyelaraskan jadwal latihan dengan kesibukan masing-masing personel yang luar biasa.

Wawan, yang sehari-harinya sibuk dengan layanan ahli bahasa ranah hukum, mengakui bahwa mengatur waktu adalah seni tersendiri. Setiap personel punya tugas jabatan yang berbeda-beda dan sangat padat.

“Seperti saya yang berkutat dengan istilah-istilah hukum, Furqon (vokalis) yang sibuk dengan urusan kepegawaian, Ocha dan Dinar (vokalis) yang handle perencanaan, Sulaiman (bass) dengan urusan kerumahtanggaan, Oka dan Fahrul (drummer) dengan tata laksana, serta Mawan dan Fahmi (gitar) yang sibuk dengan keamanan dan kearsipan. Jadwal kami sangat tinggi,” sebut mantan pegawai Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara itu.

Lantas, bagaimana mereka mengatasinya? Kuncinya adalah komitmen dan komunikasi. Mereka harus benar-benar mengatur waktu seefisien mungkin.

“Prinsip kami, menjalankan tugas jabatan adalah yang utama, tetapi bermusik juga adalah passion yang tidak bisa kami tinggalkan. Kami berusaha mencari celah waktu di sela-sela kesibukan itu, bisa saat jam makan siang, atau setelah pulang kerja, untuk sekadar latihan kecil-kecilan atau merencanakan materi lagu,” paparnya.

Membangun chemistry antarpersonel yang memiliki jadwal superpadat memang tidak mudah. Butuh waktu dan kesabaran. Namun, bagi Wawan dan kawan-kawan, proses itu justru menjadi perekat yang memperkuat solidaritas mereka tidak hanya sebagai rekan kerja, tetapi juga sebagai rekan satu band.

Corong Budaya dan Bahasa Melalui Musik

Band Kosakata tidak hanya eksis untuk memenuhi hobi bermusik anggotanya. Mereka memiliki visi yang lebih besar: menjadi corong dan mitra Badan Bahasa dalam menyebarluaskan bahasa dan sastra Indonesia.

“Kami sering diundang untuk tampil dalam berbagai acara yang diselenggarakan oleh atau bekerja sama dengan Badan Bahasa. Seperti dalam peringatan Hari Korpri, Rembuk Nasional, Malam Sastra, bahkan acara solidaritas seperti Solidaritas Sastrawan Nusantara untuk Palestina, dan Pertemuan Penyair Nusantara,” jelas Wawan.

Dalam setiap penampilannya, Band Kosakata tidak hanya membawakan lagu-lagu populer, tetapi juga menyelipkan pesan-pesan kebahasaan. Terkadang, mereka juga mengaransemen ulang lagu-lagu daerah atau menampilkan karya-karya musik yang liriknya memiliki nilai sastra tinggi.

“Ini adalah cara kami berkontribusi. Melalui musik, kami ingin menunjukkan bahwa bahasa Indonesia itu tidak kaku, tetapi hidup, dinamis, dan bisa dirayakan dalam berbagai bentuk seni. Kami ingin mendekatkan bahasa kepada masyarakat, terutama generasi muda, dengan cara yang lebih menyenangkan,” tuturnya.

Ke depan, Wawan dan seluruh personel Band Kosakata berharap grup mereka bisa terus konsisten dan berkembang. Mereka ingin terus berkarya dan bisa lebih sering tampil, tidak hanya di acara internal, tetapi mungkin juga di even-even yang lebih besar.

“Kami juga punya keinginan untuk suatu saat nanti bisa merekam karya kami sendiri, mungkin single atau mini album, dengan lagu-lagu yang bertema kebahasaan dan kebudayaan,” ungkap Wawan penuh harap.

Yang paling penting, bagi Wawan, adalah bagaimana Band Kosakata dapat terus menjaga semangat kebersamaan dan menjadi inspirasi bagi unit kerja lainnya.

“Kami membuktikan bahwa di tengah kesibukan yang sangat padat sekalipun, jika ada kemauan dan komitmen, hobi, dan passion, tetap bisa kita jalani. Bahkan, itu bisa menjadi energi positif yang mendukung produktivitas kerja kami sehari-hari,” bebernya.

Band Kosakata adalah potret kecil dari semangat gotong royong dan kreativitas anak bangsa di lingkungan birokrasi. Mereka adalah bukti bahwa bahasa dan musik adalah dua bahasa universal yang mampu menyatukan orang dari berbagai latar belakang, menciptakan harmoni indah antara tugas negara dan panggilan jiwa.

• Suyadi San

 

Tinggalkan Balasan

spot_img
spot_img

Berita Pilihan

Sultan Deli XIV: Pembangunan Rendah Karbon Keniscayaan, Kolaborasi Multi-Pihak Jadi Kunci

mimbarumum.co.id - Sultan Deli XIV, Seri Paduka Tuanku Mahmud Arya Lamantjiji Perkasa Alam Shah, menegaskan bahwa Pembangunan Rendah Karbon...