mimbarumum.co.id – Menjelang Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII, panitia menghadirkan acara pemantik bertajuk “Menuju PPN XIII: Diskusi Publik Penyair Asia Tenggara & Pentas Puisi” di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Sabtu (6/9) pukul 09.30–12.00 WIB. Forum ini mempertemukan para penyair lintas generasi dan peneliti sastra untuk mengulas peta puisi mutakhir Asia Tenggara sekaligus membuka panggung bagi karya-karya terbaru.
Gelaran di PDS HB Jassin menghadirkan lima pembicara: Maman S. Mahayana, Riri Satria, Ahmadun Y. Herfanda, Imam Ma’arif, dan Mustafa Ismail. Diskusi dipandu Fikar W. Eda sebagai moderator, sementara Rintis Mulya bertugas sebagai pewara. Dalam suasana hangat, para pembicara membentangkan isu-isu utama: perkembangan puisi kawasan, peran ruang-ruang komunitas, hingga bagaimana teknologi—khususnya kecerdasan artifisial—mencipta tantangan baru bagi proses kreatif penyair.
Acara ini juga berfungsi sebagai pengantar rangkaian PPN XIII yang akan berlangsung 11–14 September 2025 di sejumlah lokasi di Jakarta. Menjelaskan struktur kegiatan, Ketua Panitia PPN XIII Mustafa Ismail menekankan bahwa PPN XIII dirancang sebagai festival bertahap yang membuka ruang diskusi, perayaan, dan partisipasi publik secara luas.
Diskusi yang dimoderatori oleh sastrawan Fikar W. Eda tersebut berlangsung hangat dan penuh gelak tawa, namun tak kehilangan kedalaman. Ahmadun memaparkan peta sastra Asia Tenggara yang dinilainya semakin dinamis. Menurutnya, para penyair di kawasan ini, dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, hingga Vietnam, memiliki concern yang sama: menyuarakan identitas kultural, kegelisahan sosial-politik, dan humanisme dalam bahasa yang khas.
“Kita melihat ada energi yang sangat kuat. Mereka tidak hanya menulis dalam bahasa nasional masing-masing, tetapi juga aktif menerjemahkan karya sastra antarbangsa. PPN XIII nanti akan menjadi puncak dari upaya ini, di mana kami mengundang sejumlah penyair dari negara-negara ASEAN untuk membacakan karya dan terlibat dalam residensi singkat,” papar Ahmadun.
Mustafa Ismail kemudian melanjutkan dengan membahas tantangan praktis. Ia menyoroti perlunya platform yang berkelanjutan untuk mentranslasikan karya-karya tersebut sehingga bisa dinikmati khalayak yang lebih luas.
“Even seperti ini dan PPN adalah pemantik. Tapi yang lebih penting adalah kerja-kerja pendokumentasian dan penerjemahan yang berkesinambungan. Ke depan, kami berharap bisa membuat semilah antologi puisi Asia Tenggara yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan Inggris, sehingga bisa menjadi bahan referensi bagi akademisi dan pecinta sastra,” ujarnya penuh semangat.
Selain diskusi, acara tersebut juga diramaikan dengan pembacaan puisi bergilir oleh 18 penyair. Masing-masing penyair membawakan satu puisinya dengan gaya dan karakter yang unik, menyedot perhatian penuh audiens yang memadati ruang di PDS H.B. Jassin.
Pewara acara, Rintis Mulya, berhasil menjaga alur acara tetap hidup dan engaging. Sementara itu, Endin Q Sas mewakili Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DISPUSIP) DKI Jakarta juga hadir memberikan dukungan, menandakan adanya kolaborasi yang baik antara komunitas sastra dan pemerintah daerah dalam memajukan dunia literasi.
Acara yang dihadiri oleh puluhan mahasiswa, pencinta sastra, dan masyarakat umum ini berhasil menciptakan suasana intelektual yang cair dan bersahabat. Banyak peserta yang aktif mengajukan pertanyaan kepada para narasumber, mulai dari pertanyaan teknis tentang prosedur penerjemahan hingga pertanyaan filosofis tentang peran penyair di era media sosial.
Ahmadun dalam kesempatan itu menegaskan bahwa puisi tetap relevan. “Puisi adalah napas peradaban. Di tengah hingar-bingar informasi digital yang seringkali dangkal, puisi hadir untuk mengingatkan kita pada kedalaman perasaan, pada renungan, pada esensi kemanusiaan. Penyair Asia Tenggara, dengan segala kekayaan budayanya, memiliki modal besar untuk berkontribusi dalam percakapan global tersebut,” tegasnya.
Mustafa menutup pembicaraannya dengan ajakan untuk tidak berhenti pada acara seremonial. “Mari kita jadikan ini sebagai awal. Mari kita bangun jaringan lebih kuat, terjemahkan lebih banyak karya, datangi sekolah-sekolah, dan ajak generasi muda untuk tidak hanya menjadi konsumen sastra tetapi juga pencipta. Tugas kita adalah memastikan bahwa api sastra ini terus menyala dan diteruskan,” pungkasnya.
Dengan ditutupnya diskusi publik ini, jalan menuju PPN XIII semakin terbuka. Semua mata kini tertuju pada pelaksanaan puncak Pertemuan Penyair Nusantara XIII di Jakarta pada pertengahan September mendatang, yang dijanjikan akan menjadi perhelatan sastra yang meriah, penuh warna, dan penuh makna, tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga untuk kawasan Asia Tenggara.
Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi atau mendapatkan informasi lebih lanjut tentang PPN XIII, dapat menghubungi sekretariat yang beralamat di Kantor Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Gedung Ali Sadikin Lantai 14, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Contact person yang dapat dihubungi adalah Imam Ma’arif (0812-1837-7837), Ahmadun Y. Herfanda (0813-1538-2096), Mustafa Ismail (0852-8999-4003), dan Rintis Mulya (0866-6866-7899). Informasi juga dapat diperoleh melalui email [email protected], website ppnxii.iq1, dan akun media sosial @ppnxxx.id.
• Suyadi San


