Pernahkah Anda melintas di Jalan Besar Tembung hingga ke Jalan Medan-Batangkuis? Kalau Anda penggemar jalan kaki, sebaiknya pikir dua kali sebelum melintasinya. Di jalan itu, keselamatan bukan cuma soal keberanian, tapi juga keberuntungan. Bukan karena ada begal atau preman—walau itu pun kerap terjadi. Tapi karena satu hal paling dasar dalam peradaban jalan raya: tak ada trotoar.
Bayangkan, aspal jalan itu langsung berbatasan dengan parit terbuka, tanpa pembatas, tanpa ruang aman untuk pejalan kaki. Juga tak ada pori agar air hujan bisa meresap ke dalam tanah. Tak ada marka jalan. Tak ada cat putih di tepi. Tak ada batas antara jalur kanan dan kiri. Seolah-olah semua pengendara diizinkan melaju semaunya. Dan begitulah keadaannya.
Terlebih bila angkot melintas. Sudah jadi rahasia umum, para sopir angkutan kota di wilayah ini kerap ugal-ugalan. Mereka berlomba dengan waktu, bukan demi pelayanan, tapi demi mengejar setoran. Di jalanan seperti ini, penumpang yang ingin cepat sampai dan sopir yang ingin cepat penuh bisa jadi kombinasi paling berbahaya—bukan hanya bagi mereka, tapi juga bagi siapa saja yang kebetulan berjalan di sisi jalan.
Belum cukup? Coba amati di setiap persimpangan. Anda mungkin mengira akan menemukan lampu lalu lintas seperti di kota-kota lainnya. Tapi jangan berharap. Di titik-titik krusial, persimpangan justru jadi arena rebutan jalur. Semua kendaraan merasa punya hak untuk lewat duluan. Tak ada sistem. Tak ada petugas. Tak ada sinyal lampu merah. Yang ada hanya suara klakson dan keberanian menekan pedal gas lebih dulu.
Pada jam-jam tertentu, terutama pagi dan sore, kemacetan pun menjadi ritual harian. Ia bukan lagi hal yang luar biasa, tapi sesuatu yang telah dianggap biasa. Seperti adzan di masjid—hanya saja ini adzan dari klakson yang bersahutan, dari deru knalpot yang kelelahan.
Padahal kita bicara tentang wilayah Kabupaten Deli Serdang. Bukan pelosok, bukan pula kabupaten baru. Ini wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan Medan, yang dilewati ribuan kendaraan setiap hari. Tapi infrastruktur dasarnya justru miskin perencanaan, lemah pengawasan, dan nyaris tanpa empati pada pejalan kaki.
Dan sayangnya, Jalan Besar Tembung bukan satu-satunya lokasi yang menyisakan pejalan kaki tanpa ruang aman. Di banyak titik pinggiran Deliserdang di desa maupun kecamatan, trotoar tak pernah direncanakan. Dan jika pun ada, sering kali berubah fungsi menjadi tempat parkir atau lapak pedagang. Pejalan kaki terpaksa berjalan di badan jalan, bukan karena pilihan, tapi karena terabaikan. Ini seakan menjadi cermin nyata bahwa pembangunan lebih berpihak kepada kendaraan ketimbang manusia.
Trotoar itu bukan ornamen. Ia bukan sekadar bagian cantik dari jalan raya. Ia simbol penghargaan terhadap keselamatan manusia. Jika bahkan ruang berjalan kaki tak disediakan, apa artinya pembangunan? Pembangunan untuk siapa?
Kalau di atas jalan saja rakyat tak diberi ruang untuk berjalan aman, bagaimana bisa mereka melangkah dengan yakin dalam hidupnya? Dan jika pada persoalan sejelas ini tak ada tindakan nyata, maka jangan heran kalau rakyat mulai berpikir: mungkin pemerintah memang sedang sibuk membangun jalan-jalan menuju baliho, bukan ke arah keselamatan rakyat.
Islam mengajarkan bahwa keselamatan jiwa (hifzhun nafs) adalah salah satu dari lima maqashid utama syariat. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Barang siapa membunuh satu jiwa, seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Jika satu lubang bisa membuat sepeda motor tergelincir, jika satu ruas jalan bisa merenggut nyawa, dan jika satu trotoar yang hilang bisa membuat seorang anak terjungkal ke parit, maka ini bukan lagi soal teknis pembangunan—ini soal pelanggaran terhadap amanah paling asasi: menjaga keselamatan jiwa.
Dan pemimpin yang abai terhadap keselamatan rakyatnya, sejatinya sedang berjalan di atas jalan yang lebih berbahaya daripada sekadar jalan tanpa trotoar. Ia sedang berjalan di atas jalan yang bisa menjerumuskannya pada pertanggungjawaban akhirat.
Tulisan ini sudah terbit di edisi cetak Koran Mimbar Umum dan platform e-paper https://www.myedisi.com/mimbarumum dengan judul : Menyorot Infrastruktur di Deliserdang: Jalan Tanpa Trotor, Pejalan Kaki Terabaikan



