mimbarumum.co.id – Taman Budaya merupakan ‘rumah’ seniman dan budayawan berperan sebagai selain sebagai sentra, pusat transformasi budaya yang mencuatkan idiom-idiom seni budaya daerah secara nasional bahkan internasional.
Hal itu disampaikan budayawan Dr. Yulizal Yunus pada orasi budaya di panggung ekspresi Forum Perjuangan Rumah Seniman Budayawan (F-PRSB) Sumatra Barat di halaman parkir Taman Budaya Sumatra Barat, Jalan Diponegoro, Padang, Senin (13/2/23).
Penyair Hernawan AN yg juga aktivis F-PRSB dalam siaran persnya kepada mimbarumum.co.id, Selasa pagi (14/2/23), mengatakan, selain orasi budaya, panggung ekspresi menampilkan atraksi barongsai dari HTT dan beragam jenis kesenian lain sejak sore hingga tengah malam.
Koordinator F-PRSB, Rahmat Watira, S.H., kata Hernawan, berkesempatan membacakan teks deklarasi F-PRSB yang menyebut, mengekspresikan kesenian merupakan tindakan yang menjadi bagian dari proses kebudayaan melalui tahapan rasa, karsa, dan cipta. Merenung, meraba rasa, mengolah pikir menuju karsa, menggerakkan motorik menghasil cipta. Semua itu butuh ruang berupa “rumah”.
“Bila rumah terusik, rasa jadi peka, pikiran jadi gundah, dan karya cipta jadi porak-poranda. Bila rumah binasa, mari memohon rida dan berharap kekuatan Allah Yang Maha Kuasa menyatu, berpadu, berjuang membangun rupa,” sebut Rahmat disusul pembacaan puisi Taufiq Ismail, “Negeriku Dimakan Rayap”.
Hernawan juga mengatakan, dalam orasinya, Yulizal Yunus menyebutkan, perjuangan seniman dan budayawan mempertahankan suasana berkesenian di Taman Budaya adalah suatu hal yang patut. Dari Forum Diskusi Terpumpun 22 Desember 2022 di sebuah hotel di Padang, nyaris semua seniman menolak pembangunan hotel di tapak rencana Gedung Kebudayaan Sumatra Barat (GKSB).
Menurut Yulizal Yunus, ada 3-K patut dibaca di tengah transformasi informasi digital begitu cepat, yakni masalah Estetika, Erotika, dan Etika yang harus seimbang. Bila di Taman Budaya didirikan hotel, tentu seniman dikhawatirkan kehilangan kebebasan berkreasi dan berekspresi. Sebab, hotel membutuhkan suasana tenang, jauh dari hiruk-pikuk suara alat kesenian yang sedang berproses.
“Taman Budaya banyak mencatat sejarah, tempat budayawan dan seniman berbincang, mendiskusikan karya seni dan pemikiran kebudayaan Minangkabau,” katanya seraya menyebut beberapa nama seniman/budayawan, dari AA Navis sampai ke generasi milenial, yang ikut mengharumkan nama Sumatra Barat secara nasional hingga internasional.
Untuk itu, tukasnya, mempertahankan Taman Budaya sebagai rumah bagi seniman dan budayawan adalah suatu keniscayaan, karena menjadikan GKSB/Taman Budaya sebagai sumber, sentral untuk memutar sistem seni yang berbungkuskan identitas Minangkabau, “adat” yang mewakili kebudayaan dengan semua sistem yang ada.
Meskipun Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi menyebut bahwa semua itu baru wacana dan tidak akan ada hotel di GKSB, menurut Yulizal Yunus, beritanya telah viral di berbagai media mainstream dan media sosial, karena pihak Dinas BMCKTR telah merancang Zona C Gedung Kebudayaan dialihfungsikan menjadi hotel. Padahal, kawasan Taman Budaya, Museum, dan Taman Melati akan jadi kawasan kebudayaan, tempat berkreasi, dan berekspresi.
Panggung ekspresi F-PRSB Sumbar yang diselenggarakan setiap tanggal 13 di pelataran parkir Taman Budaya ini, diisi oleh seniman dan budayawan Sumatra Barat yang merasa “tagaduah perasaannya” karena rumahnya terganggu.
Selain Barongsai, berbagai grup, komunitas dan simpatisan tampil mengekspresikan kesenian seperti musikalisasi puisi, nyanyi pop, musik tradisi dan modern (band), baca puisi, tari-tarian, melukis spontan, dan pantomime.
Reporter: Zaim Dzaky