mimbarumum.co.id – Total 111 ton lebih ikan yang mati mendadak di perairan Danau Toba, milik petani Keramba Jaring Apung (KJA) beberapa hari lalu, diduga kekurangan oksigen.
Hal ini dijelaskan Kadis Pertanian Kabupaten Samosir, Viktor Sitinjak, kepada wartawan pasca fenomena yang terjadi dan merugikan warga Rp2 miliar lebih.
Menurutnya, ada 39 masyarakat pemilik KJA yang mengalami musibah itu. “Mayoritas penduduk Desa Tanjung Bunga dan Kelurahan Siogungogung, Kecamatan Pangururan,” ujarnya.
Baca Juga : 25 Orang Terkonfirmasi Positif, Masyarakat Samosir Harus Semakin Disiplin
Dia menambahkan, telah berkoordinasi dengan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Sumatera Utara, untuk penelitian lebih lanjut.
Sementara itu, pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Provsu bersama Kementrian Kelautan, didampingi intansi terkait dari Kabupaten Samosir, yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian Samosir, telah melakukan pengamatan visual di lapangan.
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara (Diskanla Provsu) telah mengambil sampel air serta ikan yang mati di Danau Toba, guna meneliti penyebab pasti kematian massal ikan.
Sampel air dan ikan selanjutnya dibawa ke UPT Laboratorium Pembinaan Mutu Hasil Perikanan Belawan, untuk dilakukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui penyebab kematian massal ikan itu.
Namun, berdasarkan informasi awal, selain faktor kekurangan oksigen, kematian ratusan ton ikan nila itu dipicu bahan organik di dasar perairan khususnya sekitar Keramba Jaring Apung (KJA) naik ke atas perairan (up-welling).
Untuk diketahui, fenomena kematian massal ikan di KJA milik masyarakat Pangururan telah terjadi beberapa kali. Terakhir pada Agustus 2018 lalu.
Reporter : Robin Nainggolan
Editor : Dody Ferdy