Pukat Harimau Mengganas di Tapsel

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Pukat harimau semakin menyengsarakan nelayan tradisional di Kabupaten Tapanuli Selatan. Keberadaannya yang massif diduga tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga membuat jaring milik nelayan tradisional rusak.

“Tidak saja menghabisi ikan dan udang-udang kecil, namun sampai merusak jaring dan rumpon nelayan tradisonal,” beber Kepala Desa (Kades) Muara Upu, Husnul Amir Harahap menceritakan kondisi nelayan di desa yang ia pimpin.

Imbasnya, katanya perolehan hasil tangkapan ikan nelayan tradisional di Desa Muara Upu itu semakin menurun yang berarti penghasilan para nelayan itu menjadi terganggu.

Menurut Kades Muara Upu, setidaknya ada belasan unit kapal pukat harimau yang beroperasi di perairan Samudra Hindia itu. Maraknya pukat harimau diperkirakan sudah berlangsung sejak tahun 2000-an, bahkan pendapatan (penghasilan ikan dan udang) oleh nelayan dari yang dulunya bisa belasan kilogram, sekarang hanya hanya dapat dicapai sekitar enam 6 kilogram per hari.

- Advertisement -

Menurutnya 81 kepala keluarga di Desa Muara Upu ini bergantung hidup dari laut sebagai nelayan untuk mencari ikan dan udang.

“Sebenarnya seluruh warga sudah merasa keberatan atas kehadiran pukat harimau tersebut, namun kami warga tidak punya daya apa-apa,” ucapnya sembari mengatakan 81 kepala keluarga di Desa Muara Upu ini bergantung hidup dari laut sebagai nelayan untuk mencari ikan dan udang.

Ia berharap ada tindakan tegas dari pihak terkait, misalnya organisasi nelayan tradosional atau pemerintah pusat untuk dapat segera melakukan intervensi menertibkan seluruh pukat harimau dari perairan laut di wilayah pantai barat pulau Sumatera ini.

“Harapan kami seluruhnya tidak ada lagi pukat harimau yang beroperasi disini, demi keberlangsungan hidup ratusan jiwa penduduk Muara Upu,”pungkasnya.

Sejauh ini belum ada laporan atau perhatian pihak Himpunan Nelayan Seluruh Indonrsia (HNSI) dari provinsi kepada para nelayan Muara Upu.”Bisa jadi karena daerah kami terpencil sehingga luput dari perhatian, tetapi bukankah kami rakyat Indonesia dan juga nelayan kecil yang membutuhkan perlindungan,” ujar Amir Harahap prihatin.(011).

Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -

Berita Pilihan

Temui Anggota DPRD Deliserdang, FKPPN Sumut Desak Sub Holding Supportingco Bayar Uang Beras dan Jubelium Pensiunan

mimbarumum.co.id - Pengurus Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Forum Komunikasi Purnakarya Perkebunan Nusantara (FKPPN) Sumatera Utara, yang memiliki legalitas hukum...