mimbarumum.co.id – Anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Gerindra, Romo H. R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum mengungkapkan, sistem pemilu mengamanatkan pemilihan presiden langsung oleh rakyat dengan one man one vote (satu orang satu suara), telah memicu potensi perpecahan bangsa Indonesia.
Sehingga adanya wacana pemilihan presiden kembali kepada MPR nampaknya makin menguat untuk dipertimbangkan oleh DPR/MPR, karena melihat potensi perpecahan dan mengancam keutuhan NKRI.
Baca Juga : Tim Hukum Prabowo Ajukan 51 Bukti Gugatan Pilpres ke MK
Hal itu disampaikan Romo dalam siaran persnya diterima mimbaumum.co.id, Senin (2/12/2019). Romo menjelaskan itu menjawab pertanyaan warga disela-sela pelaksanaan dan pertemuan Sosialisasi 4 Pilar kepada ratusan peserta tergabung dalam Forum Silaturrahmi Emak-Emak Muslimah Indonesia di Medan, kemarin.
Pada sosialisasi tersebut, Romo didampingi Ketua Rumah Aspirasi Romo Center Ir. Tosim Gurnig mengatakan, sejak awal kemerdakaan sampai runtuhnya orde baru sistem yang dianut adalah demokrasi yang mengamanatkan kepada MPR untuk mengangkat dan memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden serta Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dalam sidangumum MPR yang dilakukan setiap 5 tahun sekali.
“Bahwa ada wacana agar kembali kepada MPR nampaknya makin menguat untuk dipertimbangkan oleh DPR/MPR melihat potensi perpecahan dan mengancam keutuhan NKRI yang dapat mendapat Indonesia bubar seperti Uni Soviet dan Negara-negara disemenanjung Balkan seperti Yugoslavia terpecah menjadi Bosnia,Slovenia,Herzegovina,Serbia dan lainnya,”papar Romo.
Dikatakan, kekhawatiran ancaman perpecahan oleh sistem pemilihan presiden secara langsung juga ditambah dengan mahalnya biaya pemilu yang menyerap APBN.
Sementara keuangan Negara ditopang oleh ketergantungan kepada hutang luar negeri yang terus membengkak membuat kedaulatan Negara dan bangsa menjadi lemah, dan membuat posisi tawar pemerintah sangat mengikuti keinginan dan kepentingan Negara donor (penjajahan di era modern sedang berlangsung.
Selain membahas soal pilpres langsung, Romo juga menjawab pertanyaan warga yang beranggapan bahaa Agama Islam dan Pancasila terus menerus selalu dibenturkan. Begitu juga soal isu radikalisme secara spesifik diarahkan untuk menyudutkan umat Islam di Indonesia. (mal)