mimbarumum.co.id – Sungguh memprihatinkan nasib petani di Kabupaten Samosir, khususnya petani padi yang mayoritas gagal panen akibat musim kering berkepanjangan.
Saat Pemkab Samosir berupaya membantu petani padi dengan menyebar pompa air ke berbagai desa, untuk meringankan beban petani, para legislator justru asyik perjalanan dinas ke pulau Jawa.
Gedung DPRD Kabupaten Samosir di Komplek Perkantoran Parbaba terlihat kosong melompong, ketika sejumlah wartawan hendak konfirmasi tak satupun anggota dewan di kantor.
Sekretaris DPRD Samosir, Marsinta Sitanggang, saat dikonfirmasi wartawan (10/3/2020) melalui pesan WhatsApp, menyebutkan, bahwa Komisi I DPRD berangkat ke Banyumas-Jawa Tengah, sementara Komisi II dan Komisi III ke Bandung-Jawa Barat.
Baca Juga : Petani di Samosir Resah, Harga Pupuk Bersubsidi Melebihi HET
Dijelaskannya, Komisi I berangkat ke Banyumas untuk mempelajari tentang pendidikan dan kesehatan. Sementara Komisi II berangkat studi banding tentang Pengelolaan Perikanan Darat ke Bandung dan Komisi III study banding tentang Pengelolaan Air Bersih ke Bandung.
Marsinta menjelaskan, para wakil rakyat itu berangkat pada Senin (9/3/2020) dan akan pulang hari Sabtu depan (14/3/2020).
Menanggapi sikap legislatif yang dinilai kurang mempedulikan nasib petani Samosir yang dilanda kekeringan, pegiat lembaga swadaya masyarakat, Pardiman Limbong mengatakan, sangat menyesalkan sikap DPRD Samosir.
“Idealnya para legislatif peduli dan pro aktif melihat situasi masyarakat, saat ini Pemkab Samosir telah berupaya keras mengatasi musim kering ini,” tegasnya.
Dia menyebutkan, para anggota dewan seyogyanya dapat merasakan penderitaan para konstituennya di perkampungan. “Untuk mendapatkan air minum saja, pemerintah telah membantu warga dengan mengantar air ke pedusunan,” sesalnya.
Pardiman berharap, DPRD dan Pemkab Samosir harus saling melengkapi dalam program pembangunan daerah. “Apalagi pada saat masyarakat petani mengalami penderitaan gagal panen,” sebutnya.
Ia menekankan, sebagai perwakilan masyarakat di DPRD perlu memiliki etika dan rasa sosial merasakan penderitaan masyarakat.
Reporter : Robin Nainggolan
Editor : Dody Ferdy