mimbarumum.co.id – Pengerjaan proyek pelebaran jalan lingkar Pulau Samosir sepanjang 123 kilometer dinilai kurang profesional. Padahal, idealnya proyek multy year itu diharapkan meningkatkan konektivitas dan mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KPSN) Danau Toba.
“Namun penanganan proyek itu sepertinya asal asalan, tanpa memperhatikan keselamatan dan kenyamanan warga setempat,” kata Marko Sihotang kepada mimbarumum.co.id, Rabu (15/5/19).
Marko yang diketahui warga yang berdomisili di sekitar lokasi proyek itu mengatakan proyek reservasi dan pelebaran jalan nasional yang dilakukan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) II Medan, Ditjen Bina Marga itu telah menyebabkan genangan air di beberapa titik proyek.
“Beberapa kubangan itu ada di daerah Buhit, Desa Pardugul dan Kecamatan Pangururan,” sebut Marko.
Ia mengharapkan pelaksanaan proyek khususnya Paket 1 Paket 1, Preservasi dan Pelebaran Jalan Pangururan – Ambarita – Tomok – Onan Runggu sepanjang 75,90 Km dengan nilai kontrak tahun jamak sebesar Rp 367,21 miliar itu dikerjakan dengan tidak main-main.
“Ini menyangkut nyawa masyarakat, karena rentan kecelakaan dan akan menggangu kesehatan kalau dibiarkan berlama-lama,” tegasnya.
Mantan anggota DPRD Samosir itu meminta kontraktor paket 1, PT PP dan PT Seneca mengerjakan proyek dengan profesional dan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat sekitar proyek.
“Kalau pekerjaan galian yang mengakibatkan kubangan itu tidak diselesaikan secepatnya, kita akan ajak warga melakukan aksi memancing di sana,” tuturnya.
Karena menurutnya, kubangan di beberapa titik lokasi proyek telah menjadi genangan air, ibarat kolam pancing.
Kemudian diungkapkan Marko, pekerjaan preservasi dan pelebaran Jalan Lingkar Pulau Samosir untuk item pembangunan tembok penahan tebing untuk mengurangi risiko longsor di sekitar ruas jalan, perlu lebih transparan.
“Ada temuan kita di lapangan, di satu titik dengan kondisi sama, sebagian di cor besi tapi di bagian lain hanya pasang batu,” pungkasnya. (RN)