Oleh: Zaim Dzaky San
mimbarumum.co.id – Pemilihan umum atau yang lebih dikenal dengan istilah Pemilu merupakan suatu ajang yang dinanti dan dilakukan setiap 5 tahun sekali di negeri tercinta kita, Indonesia. Rakyat Indonesia yang sudah mempunyai KTP wajib melakukan pencoblosan dan memilih wakil rakyat serta presiden untuk memimpin Indonesia 5 tahun ke depan.
Namun biasanya, ajang Pemilu tersebut selain dinanti masyarakat, bisa juga menjadi awal perpecahan bangsa. Masyarakat saling membela pilihannya dan menyerang lawan pilihannya.
Hal itu sudah terjadi sejak awal diadakannya Pemilu. Selalu saja ada isu-isu, penyebaran hoax dan fitnah, serta ujaran kebencian saat menjelang Pemilu.
Selain itu, budaya Pemilu di Indonesia sejak di masa kampanye pasti menyinggung agama, uang, serta mengenai silsilah keluarga.
Padahal, Indonesia bermayoritas Agama Islam. Namun kelakuan masyarakatnya sangat bersimpang dengan agama yang dianutnya, mau itu Islam, Kristen, atau yang lainnya.
Biasanya, masyarakat akan mengungkit mengenai rekam jejak Paslon yang maju. Mereka terlalu menghiperbolakan mengenai kehidupan-kehidupan yang dijalani masing-masing paslon. Masyarakat akan mati-matian membela pilihannya tersebut dengan berbagai cara, apalagi di media sosial. Di Medsos, banyak terjadi perdebatan antara masyarakat di seluruh penjuru Nusantara. Perdebatan mereka melupakan tentang Pancasila, melupakan tentang Bhineka Tunggal Ika, dan melupakan tentang UU serta Sumpah Pemuda demi sebatas Pemilu yang menyebabkan timbulnya akar perpecahan bangsa.
Faktanya, saat mereka mati-matian membela dan mendukung pilihan Paslonnya, banyak dari mereka yang membuat hoax. Hoax-hoax itu disebarkan melalui Medsos seperti Instagram, Tiktok, dan Whatsapp.
Ironisnya, Paslon yang maju ke ajang Pemilu terkadang ada yang menyebarkan ujaran kebencian selama kampanye. Banyak yang meneriakkan tentang kekurangan Paslon lawannya. Tidak heran mengapa masyarakatnya juga banyak menyebarkan ujaran kebencian.
Padahal, diadakan Pemilu ini seharusnya menjadi awal menuju Indonesia menjadi lebih baik lagi. Masyarakat diharapkan menentukan pilihannya dengan damai serta tentram. Serta para Paslon dan Caleg harus menjaga Pemilu ini tetap menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika.
Dengan adanya Pemilu, Indonesia harus menjadi lebih baik dari kemarin. Sebab Pemilu diciptakan untuk mencari wakil rakyat agar memimpin negara tercinta ini agar bisa mensejahterahkan rakyat. Bukan membuat adu domba sehingga masyarakat menjadi korban.
Masyarakat harus mengambil sisi baiknya para calon yang maju di Pemilu. Ambil yang terbaik dari yang terbaik. Jangan mengambil yang terburuk dari yang terburuk. Dengan begitu, Indonesia akan menjadi negara terbaik di muka bumi ini.
Kemudian, selama Pemilu berlangsung, masyarakat harus menyerahkan hasilnya ke KPU dan mempercayai Bawaslu untuk ajang tersebut. Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh orang-orang yang ahli dan terlatih di bidang itu (mengumpulkan suara). Jangan sekali-kali mengatakan kurang puas atau menyebarkan hoax lagi. Itu menjadi awal perpecahan bangsa.
Semua sudah ada tugasnya masing-masing. Masyarakat harus menilai dan menentukan pilihannya, calon yang maju harus meyakinkan masyarakat agar memilihnya dengan menggunakan etika, dan KPU harus dengan adil dan teliti mengumpulkan suara pilihan masyarakat Indonesia di Pemilu ini.
Mari tetap kawal Pemilu ini menjadi Pemilu yang damai, buang sebuah hal-hal yang bisa membuat keributan. Ingat, Indonesia dikenal dunia dengan masyarakatnya yang ramah. Jangan menghancurkan identitas budaya Indonesia yang sudah lama ada hanya sebatas Pemilu semata.(*)