Pedagang Burling, Berjuang Hanya untuk Bisa Bertahan Hidup 

Berita Terkait

  • Potret Kemiskinan Warga Kota Medan (8)

mimbarumum.co.id – Sepuluh tahun berjualan burung keliling (Burling), Daud Chaniago (58), warga Jalan Tuasan, Sidorejo Hilir, Kecamatan Medan-Tembung, Kota Medan, setiap pagi berangkat dari rumahnya menaiki angkutan umum. Ia menjual burung yang ia beli dari temannya.

Kepada Koran MimbarUmum, Daud –boleh jadi satu diantara 193.030 atau 7,92% orang miskin kota Medan berdasarkan data BPS 2021 pada saat penduduk berjumlah 2.435.252– dengan wajah mengguratkan derita hidup, bercerita pengalaman pahitnya berjualan Burling, di Lampu Merah Jalan Imam Bonjol, Medan, Kamis (6/10) tengah hari.

Jenis burung yang ia jual, antara lain jalak (bahasa Yinani Acridotheres javanicus, dikenal juga sebagai jalak kebo, jalak hitam, jalak ungu, dan jalak penyu, spesies burung yang merupakan termasuk familia jalak); dan lovebird (burung cinta, satu dari sembilan burung jenis spesies genus Agapornis = bahasa Yunani “agape” berarti cinta + “ornis” berarti burung).

Harganya juga beragam, mulai dari Rp100 ribu sampai Rp250 ribu per ekor.

- Advertisement -

Karena terbilang mahal, maka jualan Daud pun jarang laku. Pria Minang kelahiran Medan dengan seorang isteri dan dua anak itu, berkisah, “Untuk pendapatan harian, saya tidak bisa bilang berapa. Yang pasti sering pulang ke rumah dengan kantong kosong.”

Saat ditemui duduk di pinggir trotoar, Daud yang berpostur agak gemuk memakai celana panjang dan kaos berwarna gelap serta topi pet merah, “menunggui” dua sangkar burungnya masing-masing berisi tujuh ekor burung jalak dan delapan lovebird. Tak tampak ada seorang pun pelintas di jalan protokol tersebut yang menyambanginya selama 30 menit.

Dengan wajah sendut, Daud bercerita, ia pernah meneteskan air mata dalam perjalanan pulang. Sebab, sudah tiga hari dagangannya tidak ada yang terjual. Sementara, kebutuhan di rumah, seperti membayar listrik, air dan belanja harian, tidak bisa berhenti. Kalau air dan listrik terlambat bayar, pasti diikuti pemutusan.

Dan…., bila ingin menyambung kembali, harus membayar lagi uang penyambungan, seperti baru. Jadi, bagaimana pun apes (sial)-nya, Daud harus berpikir keras agar tetap bisa memberikan belanja kepada sang istrinya, yang hanya bisa berkerja di rumahnya sebagai ibu rumah tangga.

Dengan suara berat, ia menuturkan, kini, di tengah himpitan ekonomi yang makin sulit dan suram, untuk mencari Rp50 saja, misalnya, sangatlah sulit.

Dan…., saat pemerintahan Jokowi menggelontorkan berbagai jenis bantuan –seperti: PKH (Program Keluarga Harapan, BNPT (Bantuan Pangan Non Tunai), BST (Bantuan Sosial Tunai), BLT DD (Bantuan Langsung Tunai Dana Desa), dan bantuan beras 10 Kg– ia sama sekali belum pernah menerima bantuan apa pun.

Maka, ia pun terkadang tidak habis pikir, saat menyaksikan ada warga yang tampak luarnya lebih sejahtera dari dia dan orang seperti dia, tetapi justru ikut mendapatkan bantuan negara.

Saat dicoba tanya apakah dia seperti tidak merasakan ada kehadiran negara dan pemerintah di tengah kehidupan prihatin dia –dan orang seperti dia– sebagai warga Kota Medan yang dipimpin Walikota Bobby Nasution, ia pun menggerakkan tangannya, pertanda: tidak!

Kisah lain, sebelum kedua anaknya bekerja, Daud dan keluarga pernah mengalami masa tersulit dalam hidup. Ini benar-benar terjadi, yakni: Ia dan keluarganya hanya bisa makan nasi dan garam saja.

Daud juga harus membayar iuran BPJS-Kesehatan sebesar Rp25 ribu setiap bulan untuk menjamin kesehatan keluarganya. Ia bercerita, pada 2021, ia menjalani operasi katarak mata, hingga memakan biaya Rp10 juta.

“Untung saya ikut BPJS level terendah. Kalau tidak, dari mana duit untuk operasi. Biayanya mahal sampai Rp10 juta,” katanya.
Saat berjualan di Lampu Merah, Jalan Imam Bonjol, Daud mengaku sering mendapat belas kasihan para pelintas, berupa bantuan beras maupun uang.

Kini ia hanya bisa berharap, agar Allah membuka mata dan hati penguasa Kota Medan agar tetap menganggap manusia juga warga yang hidup serba kekurangan, utamanya untuk membantu kebutuhan pokok, serta berdoa agar kelak Tuhan memberi pemimpin yang lebih pro warga miskin dan terpinggirkan.

Reporter : Deo

Tulisan ini telah diterbitkan Koran MimbarUmum Edisi 7 Oktober 2022.

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -

Berita Pilihan

Komunitas Indonesia Tionghoa Berikan Kursi Roda ke Warga Medan Johor Mengalami Sakit

mimbarumum.co.id - Komunitas Indonesia Tionghoa (KITA) berbagi kasih kepada warga Kelurahan Kedai Durian, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan dengan...