Jangan Khawatir! IQ Anak Disleksia Bisa di Atas Rata-rata

Berita Terkait

Medan – Disleksia merupakan gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis atau mengeja. Penderita Disleksia biasanya akan kesulitan dalam mengidentifikasi kata-kata yang diucapkan serta mengubahnya menjadi huruf atau kalimat. 

Meskipun seseorang mengidap Disleksia , sebenarnya kondisi ini tidak memengaruhi kecerdasannya. Bahkan Irna Minauli, Psikolog selaku Direktur Minauli Consulting juga mengatakan kalau pengidap Disleksia itu tergolong anak anak yang memiliki IQ rata-rata atau bahkan diatas rata-rata. Hal ini berbeda dengan keterbelakangan mental.

“Disleksia itu berbeda dengan anak yang mengalami keterbelakangan mental (mental retardation) yang ditandai dengan IQ yang di bawah rata-rata (di bawah 70) sehingga mereka bukan hanya mengalami kesulitan membaca namun juga kesulitan berhitung dan masalah akademis yang lainnya,” jelasnya saat diwawancarai oleh Mimbar Umum Online senin (6/1).

Dia menjelaskan kalau kalau anak yang memiliki keterbelakang mental sebenarnya lebih mudah di deteksi masalahnya sejak dini. Hal ini berbeda dengan Anak Disleksia. Jika keterbelakangan mental itu bisa tengkurap umur 3-4 bulan maka anak disleksia biasanya baru diketahui gangguannya saat mereka sudah beranjak sekolah.

- Advertisement -

“Keterlambatan mental lebih mudah dideteksi dibandingkan dengan disleksia. Pada kasus disleksia mereka tumbuh secara normal, namun gangguannya baru terlihat pada saat mereka masuk SD. Ketika anak-anak lain sudah bisa membaca namun mereka mengalami kesulitan untuk mengenali huruf, namun tidak terganggu dalam kemampuan berhitung dan lainnya,” jelasnya.

Namun Irna menyayangkan banyak sikap orang tua menyangkal dengan mengatakan bahwa anaknya mengalami disleksia padahal sebenarnya mengalami keterbelakangan mental. Untuk memastikannya maka perlu dilakukan pemeriksaan inteligensi.

“Kalau IQ-nya di atas 90 dan anak mengalami kesulitan membaca maka kemungkinan dia mengalami disleksia. Namun kalau IQ di bawah 70 maka masuk kategori keterbelakangan mental. Diagnosis ini perlu dipastikan karena akan berpengaruh terhadap terapi yang tepat karena keduanya membutuhkan penanganan yang berbeda,” ucapnya.

Sikap Yang Harus Diambil Orang Tua

Menurut Irna, dalam menghadapi anak penderita disleksia, orangtua harus mampu memahami gangguan yang dihadapi anaknya. Anak tidak perlu dimarahi atau dihukum karena ketidakmampuannya.

Orangtua perlu secara sabar membimbing dan mengarahkan anak. Misalnya, orangtua membantu memperkenalkan huruf dengan cara yang menyenangkan misalnya sambil bernyanyi “b perutnya di depan sedangkan d perutnya di belakang”, meskipun pada beberapa kasus disleksia anak juga mengalami kesulitan orientasi ruang sehingga tidak bisa membedakan mana kiri dan kanan serta mana depan dan belakang.

Selain itu, Irna juga menyampaikan orangtua yang memiliki anak gangguan disleksia agar memberi perhatian khusus pada anak dan membantu anak memahami isi bacaan.

Solusi pendidikan untuk anak dengan disleksia adalah memberi perhatian khusus pada anak dan mengajak teman-temannya untuk membantu anak memahami isi bacaan. Selain itu, anak perlu mendapat pelajaran tambahan atau kursus membaca dengan metoda gestalt dimana anak belajar membaca dengan melihat keseluruhan dan bukan mengeja.

Akan lebih membantu jika dilakukan langsung secara konkrit pada benda-benda tersebut. Misalnya, orangtua membuat tulisan ‘pintu’, ‘jendela’, ‘meja’, dan ‘kursi’. Awalnya tulisan-tulisan tersebut ditempelkan pada benda sesuai dengan huruf. Kemudian, tulisan dicopot dan anak harus menempelkan sesuai dengan huruf yang ada. (Yurika)

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -

Berita Pilihan

15 Program Studi di USU Raih Akreditasi Internasional

mimbarumum.co.id - Menunjang World Class University (WCU), Universitas Sumatera Utara (USU) telah berhasil menjadikan 15 program studi terakreditasi internasional. Kepastian...