Ibrahim Terus Berjuang untuk Sembuh

Berita Terkait

Medan, (Mimbar) – Wajah optimis tersirat jelas di wajah Ilham Fauzi, lelaki berusia 30 tahun itu. Senyum guru tahfiz Qur’an pada salah satu sekolah swasta di Medan itu tetap mengembang ramah kepada siapa saja, meski ia sebenarnya sedang dalam keadaan gundah dan sedih karena penyakit Ibrahim.

Malaikat kecilnya yang berusia 10 bulan itu didiagnosis oleh dokter menderita penyakit Atresia Bilier. Penyakit yang menyebabkan kerusakan pada fungsi hati karena saluran empedu yang tidak normal. Dokter mengatakan harus segera dilakukan pencangkokan hati untuk menyelamatkan anak pertamanya itu.

Ibrahim Kholil lahir pada 21 September 2017 lalu dari rahim Siti Auditia (27). Keluarga kecil yang hidup dengan sangat sederhana itu tinggal di Jalan Garu I No.167, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

Saat kelahirannya, kata Ilham, persalinan berjalan dengan normal. Begitupula kondisi permata hatinya itu juga dalam keadaan baik-baik saja. Berat badannya sekira 3,5 kg.

- Advertisement -

“Ibrahim terlihat sehat, tidak ada kelainan pada fisiknya. Sampai memasuki minggu keempat, Ibrahim masih tetap sehat. Berat badan dan perkembangan motoriknya normal,” ucap Ilham, kepada MimbarUmum.com Rabu (1/8/2018) di Medan.

Saat memasuki bulan kedua, katanya ada kejanggalan yang terlihat pada perkembangan Ibrahim mungil. Berat badannya tidak mengalami peningkatan yang normal dan warna kulitnya terlihat menguning.

“Kami pun membawa Ibrahim ke dokter spesialis anak. Melihat keadaan kulit Ibrahim dokter menyarankan untuk dilakukan tes darah dan USG pencernaan. Hasil USG-nya baik, semua organ tubuh pencernaanya normal. Tapi, hasil tes darah menunjukkan ada kejanggalan pada bilirubin Ibrahim, karena mencapai 10,01 (normal 0,18 – 1,23),” bebernya.

Dokter memberikan resep susu untuk menurunkan bilirubinnya, dan hasilnya cukup memuaskan. Warna kuning kulit Ibrahim setelah mengkonsumsi susu khusus itu mulai berkurang, dan berat badannya pun bertambah. Kondisi ini cukup melegakan bagi kedua orangtuanya, walaupun warna kuning kulitnya belum betul-betul hilang, setidaknya berat badan Ibrahim sudah bisa naik lagi.

Memasuki bulan ke enam kulit Ibrahim kelihatan menguning lagi, ditambah batuk yang parah sampai membuat pembuluh darah di matanya pecah. Ilham dan isterinya segera membawa Ibrahim ke beberapa dokter spesialis anak tapi kondisinya tetap memburuk. Matanya tertutupi darah dan BAB-nya pun bercampur darah.

“Berat badannya semakin menurun, perutnya membuncit, dan fisiknya melemah. Sampai pada akhirnya ada yang menyarankan kami untuk memeriksakan Ibrahim pada dokter spesialis anak bagian pencernaan. Kami pun mengikuti sarannya,” terang Ilham lagi.

Saat Ibrahim diperiksa oleh dokter spesialis pencernaan itulah awal ujian yang dianggap keluarga sederhana ini sebagai beban yang sangat besar dan berat. Dari hasil cek darah yang ke dua, dokter memvonis Ibrahim mengidap penyakit Atresia Bilier. Penyakit yang menyebabkan kerusakan pada fungsi hati karena saluran empedu yang tidak normal.

“Tidak puas dengan vonis tersebut, kami membawa Ibrahim ke dokter spesialis anak bagian pencernaan yang lain. Dan ternyata vonisnya sama seperti sebelumnya. Dokter mengatakan harus segera dilakukan cangkok hati sebelum kondisinya semakin memburuk,” ucapnya sedih mengenang kejadian itu.

Tiga bulan berlalu setelah vonis tersebut, kami hanya bisa berdoa dan berusaha mencari alternatif pengobatan lain. Seperti terapi al Qur`an, obat herbal, terapi saraf, dan lain-lain. Namun Allah Ta’ala, katanya belum menghendaki kesembuhan bagi anak kesayangannya itu.

Di tengah keterbatasan kemampuan ekonomi, sejumlah teman-teman Ilham bersimpati dan memberikan bantuan biaya agar membawa Ibrahim ke Malaysia untuk melakukan pemeriksaan ulang, sembari berharap ada diagnosa lain dari para dokter di sana yang bisa lebih meringankan beban keluarga kecil ini.

” ‘Ala qadarillah (sudah takdir), diagnosanya masih tetap sama. Dan ternyata memang benar, kantong empedu Ibrahim sudah tidak normal, tidak seperti ketika di-USG saat usia dua bulan. Kami pun minta penjelasan apa sebenarnya yang menyebabkan Ibrahim bisa diserang penyakit ini. Dan apakah operasi akan memberikan hasil kesembuhan bagi Ibrahim?” jelasnya.

Dari penjelasan dokter, dan melihat kondisi pasien pra operasi dan pasca operasi di Malaysia Ilham dan isterinya merasa semakin berat untuk mengambil langkah operasi cangkok hati bagi bayi laki-lakinya itu. Mereka pun segera bergegas pulang ke tanah air untuk mencari alternatif pengobatan lain.

“Kami tidak menyerah, kami terus berupaya mencari solusi untuk menyembuhkan Ibrahim dengan cara lain. Berdiskusi dengan para orang tua yang anaknya mengalami hal yang sama dengan Ibrahim, atau dengan orang-orang yang divonis harus operasi untuk penyembuhan bayi mereka. Sampai akhirnya kami bertemu dengan Terapis yang bersedia menangani Ibrahim dan mengaku pernah menangani kasus yang sejenis dengan penyakit yang diderita Ibrahim. Kami pun mulai menaruh harapan padanya, semoga ada jalan kesembuhan yang Allah Ta’ala berikan untuk Ibrahim melalui tangannya,” kata Ilham.

Pada akhir bulan Juli lalu, kondisi Ibrahim kian memburuk, nafasnya sesak, dan fisiknya semakin melemah. Melihat kondisi ini pada Ibrahim, mereka langsung memutuskan untuk segera membawa Ibrahim ke Bogor agar segera dilakukan penanganan terapi.

Dengan situasi dan kondisi keuangan yang apa adanya, keluarga sangat sederhana itu berserah diri kepada Allah Yang Maha Pemberi rezeki, kiranya mendapatkan berbagai kemudahan.

“Bismillah tawakkalna ‘alallah. Ummi (isteri Ilham) dan Nenek Ibrahim berangkat mendampingi Ibrahim ke Bogor,” ucapnya.

Seminggu paska keberangkatan Ibrahim bersama ummi dan neneknya, Ilham pun menyusul ke Bogor. Langkah untuk pindah sementara ke Bogor dinilai paling memungkinkan dilakukan, mengingat Terapis yang menangani Ibrahim berdomisili di sana.

Ia terpaksa meninggalkan sementara pekerjaannya sebagai seorang guru tahfiz. Kondisi itu berkonskuensi membuat kemampuan ekonomi keluarga Ilham semakin memprihatinkan. Biaya hidup mereka selama di Bogor dan biaya perawatan Ibrahim kerap mengganggu fikirannya.

Ilham tidak memiliki jalan lain, selain berharap bantuan keluarga mereka juga tidak menutup diri jika ada para dermawan yang berihlas hati memberikan bantuan.

“Saat ini kondisi Ibrahim semakin membaik setelah menjalani terapi. Kuning di bagian mata dan kulitnya sudah berkurang. Sesak nafasnya juga tidak separah saat sebelum diterapi,” ucapnya.

Ilham yakin dengan ikhtiar yang dilakukannya itu. Ia mengimani bahwa Allah-lah Yang Maha Penyembuh, seberat apapun penyakit yang diderita hamba-Nya.

“Pasti ada jalan untuk kesembuhannya. Semoga Ibrahim bisa segera sembuh dan bisa menikmati masa bayinya dengan ceria. Amin ya Mujibassa`ilin,” pungkas Ilham. (02)

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -

Berita Pilihan

Fenomena Equinox Maret 2021, Matahari Berada Tepat di Posisi Zenith

Oleh: Abdul Aziz, Purna Tugas BMKG Medan, MIMBAR - Diperkirakan pada tanggal 21 Maret 2025 mereka yang tinggal di garis...