Oleh : Jepri Agus Damai Zebua, S.Pd
#Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Pengumuman itu telah disampaikan dalam penutupan pidato Jokowi dalam Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Rabu (1/6/2016) (detik.com)
Konsekuensi dari pengumuman itu, maka seantero penduduk negeri ini paska pengumunan tersebut hingga kini memperingati tanggal 1 Juni itu sebagai Hari Lahir Pancasila. Beragam cara memperingatinya, ada yang dengan menyelengarakan upacara bendera di setiap sekolah, instansi pemerintah dan diberbagai lokasi lainnya.
Peringatan dilakukan itu, setidaknya untuk mengenang jasa para pahlawan dalam merumuskan dasar negara Rpublik Indonesia.
Hanyala Pancasila yang pantas menjadi dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia sudah terbukti mampu mempersatukan manusia beraneka ragam Suku, Agama, Ras dan Golongan.
Disertai makna Bhinneka Tunggal Ika, yang mempunyai arti yang sangat mempersatukan yaitu, “Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”. Ditambah lagi dengan kultur budaya ketimuran yang dianut, menjadikan masing-masing rakyat Indonesia semakin berbudaya.
Pancasila terdiri dari dua kata, yakni “Sila” yang artinya dasar atau asas, dan “Panca” yang artinya lima. Dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.” (Mengutip Bung Karno).
Demikian bunyi dari Pancasila, :
1.Ketuhanan Yang Maha Esa
2.Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap
3.Persatuan Indonesia
4.Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
5.Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Sebagai Ideologi
Pancasila menjadi ideologi yang wajib dipegang rakyat Indonesia dalam mewujudkan toleransi sesama manusia dan akan dibarengi terwujudnya manusia yang humanisme. Keragaman, kebersamaan, kerukunan, kesetaraan, kebudayaan dan kebangsaan menjadi ciri khas Indonesia, seharusnya.
Pancasila sudah tidak dapat lagi dibendung di hati rakyat Indonesia yang multi etnis. Ia telah tumpah ruah mengalir di aliran darah setiap rakyat Indonesia dan telah menjamur di tulang persendian rakyat Indonesia.
“Merah darah ku. Putih tulang ku. Itulah rakyat Indonesia.”
Menurut penulis, bukan suatu ketepatan warna-warna itu di sematkan, seraya hanya estetika semata. Warna itu melambangkan keberanian dan kesucian, bahkan warna yang melambangkan bendera Indonesia itu mampu membangkitkan jiwa nasionalisme setiap orang yang melihatnya. Begitu sangat memesona apalagi saat dikibarkan dan diiringi lagu Indonesia Raya, tidak diragukan lagi pancaran pesonanya yang membangkitkan semangat persatuan.
Bangsa yang besar tidak akan melupakan perjuangan para pahlawan tempo dulu yang merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. Kita telah merdeka dan akan memasuki usia kemerdekan 76 tahun, untuk mencapai usia kemerdekaan itu, tidak terlepas dari semangat Pancasila yang mengimani setiap rakyat Indonesia.
Burung Garuda menjadi lambang negara Republik Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 66 Tanggal 17 Oktober 1951. Tetapi telah berlaku sejak tanggal 17 Agustus 1950. Berbentuk Burung Garuda yang di dadanya tergantung Perisai “Lima Simbol” yang disebut Pancasila. 1. Nur cahaya di ruangan tengah berbentuk bintang yang bersudut lima. 2. Kepala banteng sebagai lambang tenaga rakyat. 3. Pohon beringin tempat berlindung. 4. Tali rantai bermata bulat dan persegi. 5. Kapas dan padi sebagi tujuan kemakmuran.
Perisai-perisai itulah yang mengangkat martabat Indonesia dimata dunia. Sejak tempo dulu hingga saat ini, kelima perisai itu telah cukup untuk menjadikan pondasi yang kokoh bernegara, tidak perlu ditambah atau dikurang.”Pancasila harga mati.” Memiliki kepercayaan akan Tuhan, beradap, bersatu, mufakat dan berkeadilan. Apakah masih adalagi tandingan kelima prisai itu? Semoga tidak ada.
Jangan Tergoyah Globalisasi
Perspektif masing-masing individu rakyat Indonesia jangan tergoyahkan oleh era globalisasi yang bercampur baur dengan perspektif barat. Kehidupan hedonisme, kehidupan instan dan kehidupan tak berbudaya. Seyogyanya ketiga poin tersebut tidak dianut di bumi pertiwi ini karena telah melenceng dari ideologi Pancasila.
Pandangan hidup hedonisme tidak mencerminkan individu memiliki ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, hanya memikiri kesenangan (tidak memiliki Tuhan).
Kehidupan yang instan menjadikan tidak taunya individu mensyukuri atas apa yang telah diperoleh, karena memperolehnya dengan cara mudah. Kehidupan tak berbudaya menjerumuskan individu akan kesukaran tidak memperoleh penghormatan atau penghargaan sosial, dari orang lain.
Hanyalah Pancasila yang bisa mempersatukan bangsa ini dan sudah teruji selama puluhan tahun. Maaf, penulis tidak dapat memungkiri adanya gesekan-gesekan kecil yang terjadi di masyarakat, seperti halnya pertikaian antar suku, ras, antar golongan bahkan mulai menjurus ke antar agama.
Semuanya itu fakta terjadi di Indonesia, menjadi dinamika berbangsa dan bernegara. Namun patut di apresiasikan kita (Indonesia) mampu keluar dari zona yang begitu dilematis dan mencekam.
Masyarakat tidak perlu gusar dengan dinamika yang terjadi, karena founding father “Bapak Bangsa Indonesia” telah mengkaji secara filsafat akan nasib regenerasi rakyat Indonesia, yang akan mengalami gesekan antar sesama, maka dari itulah dibuatkannya Pancasila sebagai pedoman untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, pekerjaan, sosial, rumah ibadah dan sebagainya.
Gesekan Itu Hanya Bunga Cinta
Jika Pancasila diimplementasikan dalam kehidupan, gesekan itu hanyalah bunga-bunga cinta dan kasih yang akan membuat individu yang bergesekan semakin dekat (bersaudara), karena hakikinya kita semua bersaudara. Kita patut berbangga diri memiliki founding father yang begitu bijaksana dalam menyiapkan dasar negara. Bahkan sampai mengingatkan kita dimasa lalu mereka (pahlawan), akan hari ini, pentingnya persatuan bangsa.
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih susah karena melawan bangsamu sendiri.” kata Ir.Soekarno.
“Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakain, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?” Ir. Soekarno Pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945.
Apakah kita mau bersusah-susahan untuk melawan bangsa kita sendiri?
Bangsa kita terlalu besar dan kaya akan sumber daya alam, kita harus menjaganya dari campur tangan penjajah modern yang saat ini sedang berlangsung menjajah (telah kita sadari, namun tak bisa menghempangnya).
Sebaiknya kita tidak perlu lagi ada gesekan atau melawan bangsa kita sendiri, bukankah telah diingatkan oleh Bapak Bangsah Indonesia. “Kita akan susah jika melawan bangsa sendiri”.
Nirwana dunia sejatinya adalah impian setiap insan yang bernafas, namun akan mengarah kepada kesesatan apabila tidak diterapkannya Pancasila di setiap aspek kehidupan.
Manusia menjadi radikalisme dalam menentukan arah pandang kehidupannya, baik dalam organisasi, kebudayaan dan keagamaan. Ia akan melakukan tindakan radikal demi kepentingan hak segelintir orang, tanpa memikirkan kepentingan hak orang banyak.
Kita melihat peristiwa yang terjadi baru-baru ini, bom bunuh diri terjadi di pintu gerbang Gereja Katedral, Jalan Kajaolalido, MH Thamrin, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Ahad pagi 28 Maret 2021. Akibat ledakan tersebut, 20 orang keamanan dan jemaah gereja luka-luka, tulis Tempo.co.
Apakah pantas disebut seoarang manusia (pelaku) yang dengan “niat” tega mencabut nyawa sesama manusia? Untuk tujuan apa? Kepentingan siapa? Orang yang seperti ini (pelaku) ketika ia menempuh pendidikan dapat dipastikan tidak menyerap ke dalam pikirannya pengetahuan akan pengamalan Pancasila apalagi pengamalan akan Agama?
Wajib Bersyukur
Sebagai manusia makhluk yang diciptakan paling sempurna diantara ciptaan Tuhan lainnya, kita wajib bersyukur dengan segala apa yang telah Ia berikan kepada kita. Tak perlu bersungut-sungut menjalani kehidupan ini. Apalagi melakukan tindakan yang radikal.
Sebagai generasi penurus kita seharusnya banyak-banyak bersyukur, karena tidak lagi melewati masa sukar. Kita tidak lagi berperang untuk mengusir para penjajah, tidak seperti pahlwan tempo dulu yang berperang dan rela mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan. Tidak lagi gelap-gelapan saat belajar atau beraktivitas, tidak seperti tempo dulu masih mengunakan lampu sentir, sekarang telah ada penerangan melalui PLN (walaupun bayar mahal). Tidak susah payah lagi mendapatkan informasi karena telah adanya TI (Teknologi Informasi).
Tiga Indikator
Menjadi pertanyaan, mengapa masih ada saja oknum yang terlalu “jenius” melakukan bom bunuh diri, yang sudah jelas merugikan dirinya, keluarga, korban dan otomatis melawan bangsanya sendiri.
Asumsi penulis, tiga indikator yang mendasari bom bunuh diri dilakukan oleh pelaku yakni, 1. Tidak pahamnya pelaku akan nilai-nilai Pancasila, apalagi agama. 2. Tuntutan ekonomi, pelaku diiming-imingi materi untuk melakukan bom bunuh diri, atas kepentingan segelintir orang. 3. Atau, menurut perspektif pelaku tersebut, melakukan bom bunuh diri adalah jalan menuju nirwana, dengan mengorbankan nyawa orang lain sebagai tumbal.
Jika indikator yang dipakai pada bagian ketiga, dapat dipastikan pelaku tersebut orang yang menyembah berhala, bukan Allah. Karena baik diajaran Agama Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budah dan Konghocu tidak dibenarkan menghilangkan nyawa sendiri dan nyawa orang lain.
Pancasila Harga Mati
Lewat peringatan 1 Juni hari lahirnya Pancasila, mari kita merajut kembali tali kasih persaudaraan yang mulai terputus. Biarkan masalah perindividu di tanggung oleh individu itu sendiri. Tidak perlu membawah SARA.
Diskriminasi SARA harus diberanguskan dari Bumi Nusantara, tunjukan bahwa kita rakyat Indonesia yang merdeka berlandaskan ke Tuhanan, artinya segala yang kita perbuat tidak melenceng dari ajaran Agama masing-masing, yang kita yakini.
Sebagai bangsa yang besar dan majemuk, kita bukan tipikal orang yang bertindak atau berfikir ortodok. Kita sudah sangat matang dalam bersikap, terbukti dari identitas kita yang dikenal dunia akan budaya ketimuran dan berlandaskan Pancasila sebagai dasar berbangsa dan bernegara. Mari kita tingkatkan persatuan/persaudaran. Pancasila harga mati. Merdeka!
- Penulis adalah Alumnus Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah jurusan Bimbingan & Konseling dan Jurnalis Mimbar Umum.