mimbarumum.co.id – Salah satu cara terbaik dalam mengelola perusahaan pers tetap eksis dalam era digitalisasi ini adalah dengan melakukan perubahan. Karena bidang ini tidak terlepas dari perkembangan digitalisasi.
Hal ini disampaikan Ketua Serikat Perusahaan Pers (SPS) Cabang Sumut, H. Farianda Putra Sinik SE dalam acara Workshop Pra UKW SPS Sumut dan PWI Sumut bertema Meningkatkan Kompetensi Wartawan yang Profesional, Beretika dan Bermartabat di Le Polonia Hotel Medan, Kamis (28/7/2022).
“Perusahaan pers yang biasanya terbit dalam bentuk cetak kini mulai menguranginya dan beralih menggunakan platform online. Bahkan, sekarang ini, 77 persen iklan dikuasai media online,” tuturnya menjadi panelis dalam diskusi bertema Tantangan SPS Sumut dalam Era Digitalisasi.
Kata Ketua PWI Sumut ini, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap surat kabar harian menurun. Hasil penelitian Dewan Pers, yang percaya terhadap surat kabar harian 36,3 persen, dan kepada media siber 37,2 persen.
“Hasil penelitian tersebut menggambarkan realitas yang dihadapi media pers di era digital sekarang. Dan fakta bahwa persentase pembaca koran atau surat kabar harian menurun, merupakan realitas yang tidak bisa dibantahkan,” ungkapnya.
Kemudian, Sekretaris Serikat Perusahaan Pers (SPS) Cabang Sumut, Rianto Ahgly SH menuturkan banyak hal yang sangat dibutuhkan untuk menjadi seorang pimpinan redaksi dalam sebuah media siber/online. Ada ketentuan-ketentuan yang berlaku selain membuat pemberitaan yang tetap memenuhi unsur-unsur jurnalistik.
Apalagi, sambungnya, di era digital berbagi media bermunculan. Bahkan, yang sangat luar biasa bukan media online, tapi media sosial. Berita di media sosial ini rentan terhadap hoaks.
“Ini sangat berbahaya bagi media online yang sering mengutip media sosial. Karena rentan terjerat masalah hukum,” ujarnya menjadi panelis dalam diskusi bertema UKW dalam Perspektif Media Online.
Makanya, jelas pria yang akrab disapa Anto Genk ini, wartawan dituntut memiliki kemampuan dasar jurnalistik tetapi juga harus mampu menguasai teknik tata bahasa yang efektif dan cerdas. Yakni dalam memecah sebuah informasi menjadi berita yang menarik dan dipahami pembaca.
“Terutama wartawan media siber/online yang memiliki waktu singkat. Karena berita yang dimuat disiarkan langsung secara cepat,” terang Ketua Jaringan Media Siber (JMSI) Sumut ini.
Anto Genk juga menyampaikan kemirisan lantaran baru sedikit media online, khususnya di Sumut yang hanya 100 media siber terverifikasi Dewan Pers.
Sementara Ketua Dewan Kehormatan PWI Sumut Drs M Sahrir MIKom mengungkapkan, kemudahan teknologi membuat wartawan sekarang semakin malas. Karenanya dia mengajak wartawan meningkatkan kompetensi, menjadi lebih profesionalisme.
“Makanya untuk menjadi anggota PWI, harus lulus UKW. Sehingga lebih profesional,” tutur Alumni S-2 Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) ini.
Reporter : Siti Amelia