Disimpulkan “Bunuh Diri” dengan Zat Sianida, Keluarga Bripka Arfan Saragih Kecewa dan Sedih

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Misteri kematian Bripka Arfan Saragih anggota Polres Samosir yang jenazahnya ditemukan pada Senin, Februari 2023 lalu di Simullop, Kelurahan Siogungogung, Pangururan meninggalkan duka mendalam bagi pihak keluarga.

Bripka Arfan Saragih dimakamkan di kampung orangtuanya Desa Pagar Janji, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun 7 Februari 2023, tanpa upacara kedinasan.

Ketika itu pihak Polres Samosir sudah mengklaim kematian suami Jeni Simorangkir itu akibat bunuh diri, padahal hasil otopsi dari Rumah Sakit Bayangkara Medan belum keluar.

Acara pemakaman sempat tegang, pihak keluarga dan pelayat yang memadati rumah duka, hampir mengusir utusan Polres Samosir yang hadir di acara pemakaman.

- Advertisement -

Ayah almarhum Bripka Arfan, Fince Saragih yang masih diselimuti duka mendalam dan dalam keadaan sakit, merasa kecewa karena tidak dilakukan dengan upacara, sebagaimana biasanya di kepolisian.

Hal ini diungkapkannya kepada mimbarumum.co.id, Selasa (14/3/2023) ketika pihak keluarga diundang Polres Samosir menghadiri konferensi pers.

Klaim polisi penyebab kematian Arfan Saragih pada saat acara pemakaman itu, menurut Fince Saragih masih prematur.”Belum ada hasil otopsi, anak saya langsung dinyatakan bunuh diri,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

Kesedihan keluarga kembali meledak, ketika Polres Samosir menggelar konferensi pers, dengan menyimpulkan hasil otopsi penyebab kematian Bripka Arfan Saragih adalah bunuh diri dengan zat sianida.

Sebelum konferensi pers, keluarga Bripka Arfan Saragih yakni, istri Jeni Simorangkir bersama orangtua Fince Saragih Binne Purba dan kerabat lainnya, dengan tegang mendengar penjelasan pihak kepolisian.

Kapolres Samosir AKBP Yogie Hardiman didampingi, Ahli Forensik dr Ismurozal dan Kasubdit Labfor Polda Sumatera Utara AKBP Hendra Ginting memaparkan penyebab kematian secara detail.

Ahli Forensik dr Ismurozal menjelaskan, setelah dilakukan pemeriksaan luar dan dalam kepada sesosok jenazah laki-laki panjang badan 170 cm, rambut hitam lurus, dijumpai warna kemerahan di kepala bagian belakang dan telinga kiri, kemudian warna kemerahan pada dahi kiri.

“Saya juga menjumpai keluar cairan berwarna merah kehitaman pada kedua lubang hidung, bibir berwarna biru kehitaman, kedua ujung jari tangan berwarna kebiruan, luka lecet pada kiri bawah, memar kulit kepala belakang bawah,” bebernya.

Menurut dia, hasil pemeriksaan tambahan menyimpulkan penyebab kematian korban adalah lemas akibat masuknya cairan ke saluran makan hingga lambung dan saluran nafas.

“Disertai adanya perdarahan pada rongga kepala akibat merokok dan jantung, itu yang saya jumpai pada korban, waktu saya lakukan pemeriksaan luar dan dalam,” imbuhnya.

Sementara Kasubid Labfor Polda Sumatera Utara AKBP Hendri Ginting merinci, realitas dan fakta yang dari hasil para ahli, baik dokter ahli otopsi, master kimia dan penyampaian terkait digital forensik handphone yang ditemukan di TKP, disimpulkan bahwa dugaan kuat kematian korban adalah dengan meminum racun berupa zat sianida.

“Masuk ke dalam lambung sehingga mengakibatkan terganggu fungsi pernafasan,” sebutnya.

Setelah mendengarkan uraian penyebab kematian kematian Bripka Arfan Saragih, pihak keluarga korban melalui kuasa hukumnya Dolin Siahaan, diberikan kesempatan bertanya oleh pihak Kepolisian.

“Berdasarkan penyelidikan, darimana didapatkan zat sianida, siapa pemesanan dan penjualnya?” tanya dia. Namun, hal ini belum mendapatkan jawaban yang terinci.

Selanjutnya, keluarga Bripka Arfan Saragih yang masih diselimuti duka mendalam, meninggalkan Mapolres Samosir dengan rasa kecewa.

Pantauan mimbarumum.co.id, sejak pagi hari, karena undangan Polres Samosir pukul 10.00 Wib, pihak keluarga menunggu di warung dengan sabar.

Tapi, tak satupun pihak Polres Samosir yang mendatangi orangtua Bripka Arfan Saragih untuk memasuki Mapolres, sampai konferensi pers digelar sekira pukul 14.00 Wib.

Momen Sebelum Konferensi Pers

Kejadian memilukan dan menarik perhatian para jurnalis terjadi ketika istri dan orangtua Bripka Arfan Saragih memasuki Mapolres Samosir, jelang konferensi pers.

Fince Saragih yang dalam kondisi sakit dipapah oleh kerabat dekatnya, ibu almarhum menumpahkan kesedihan dengan ratapan tangis.

Jeni Simorangkir kepada wartawan mengatakan, sudah membayar uang sebesar Rp. 750 juta, terkait permasalahan pajak kendaraan di Samsat Pangururan.

“Kita bahkan sudah menjual satu unit rumah tinggal yang berada di Desa Sianting-anting, Kecamatan Pangururan,” sebutnya sedih.

Ia menambahkan, bersama almarhum suaminya sudah meminjam uang ke pihak Bank dan sudah disetorkan ke pihak Samsat Pangururan.

Jeni yang masih trauma akibat kematian suaminya mengungkapkan, sampai sekarang belum mempercayai kematian suaminya. “Anak-anak juga masih mengganggap bahwa bapak masih hidup,” kata dia sedih.

Diterangkan juga, sebelum kematian Arfan Saragih, mereka berupaya meminjam uang sampai menjual rumah. “Tapi yang terjadi setelah uang terkumpul, justru suami saya ditemukan meninggal,” sebutnya lagi.

Reporter: Robin Nainggolan

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -

Berita Pilihan

InJourney Sukses Gelar Aquabike Jetski World Championship 2024, Bangkitkan Ekonomi Lokal dan Perkuat Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Dunia

mimbarumum.co.id – Event olahraga air berskala dunia, Aquabike Jetski World Championship yang berlangsung di Danau Toba selama 13-17 November...