mimbarumum.co.id – Program pembangunan daerah dengan pengelolaan manajemen desa adat, sangat perlu di kawasan Danau Toba, khususnya Kabupaten Samosir.
Hal itu dijelaskan Plh Bupati Samosir, Jabiat Sagala kepada mimbarumum.co.id, Selasa (23/3/2021) di sela pelaksanaan Bimtek Manajeman Pengelolaan Desa Adat se-Kawasan Danau Toba, yang digelar di Hotel JTS Parbaba, Kecamatan Pangururan.
“Pengelolaan manajemen desa adat, akan menopang program pembangunan daerah,” tukasnya.
Ia mengungkapkan, membangun desa adat perlu kehati-hatian, menghargai dan melestarikan tradisi yang dijalankan oleh para generasi terdahulu.
“Desa adat harus bisa menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan desa yang lebih spesifik dan mandiri, dimanajemen dengan tradisi lokal,” imbuhnya.
Dikatakan Jabiat, desa akan maju apabila masyarakatnya menjalankan dan melestarikan budaya leluhurnya, menjaga arsitektur bangunan adatnya, melestarikan sistem pengolahan lahan berdasarkan konsep luhur Tri Hita Karana.
“Yakni keseimbangan hubungan antara Tuhan, manusia dan lingkungannya,” kata Plh Bupati Samosir itu.

Pemerintah Kabupaten Samosir mengapresiasi pelaksanaan bimtek se kawasan Danau Toba yang diadakan di daerah ini.
“Keberadaan desa-desa adat di seputaran Danau Toba masih banyak dengan pola dan prinsip hidup nilai-nilai kearifan lokal,” sebut Jabiat lagi.
Maka menurutnya, dengan menjaga keberadaan desa adat secara langsung akan membantu terjaganya kelestarian budaya dan kearifan lokal.
Pelaksanaan bimtek diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Pelestarian Nilai Budaya Wilayah Kerja Provinsi Aceh-Sumatera Utara.
Jabiat membuka secara resmi kegiatan yang bertujuan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di desa itu.
Hadiri Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh Ironi Dewi Wanti, Kepala Museum Nasional Sri Hartini, Kepala Desa Panglipuran, Bali yang berprestasi sebagai peringkat 2 terbersih di dunia.
Reporter: Robin Nainggolan
Editor : Masrin