“Status ini memang sudah dikeluarkan oleh IUCN sejak awal 2000an dan jumlah badak sejak saat itu terus menurun drastis,” kata dia di Jakarta, Jumat saat diskusi publik dengan tema Selamatkan, Lindungi, Tingkatkan Populasi Badak Indonesia.
Ia menyebutkan sebelum dikeluarkan status terancam punah pada badak, jumlah populasi ini mencapai 400 ekor pada 1998 dengan keseluruhannya merupakan badak Sumatera yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan.
Hal itu berbanding terbalik dengan data saat ini di dua pulau yang sama. Terkait jumlah, terdapat kurang dari 80 badak Sumatera yang masih tersisa.
Baca juga :Â Warga Berdatangan Saksikan Seekor Tapir
“Jumlah ini diperoleh dari survei yang kemudian diperkirakan pada angka yang paling mendekati. Untuk data pasti belum ada,” katanya.
Begitu pula dengan jenis kelamin serta persentase sebaran badak tersebut juga belum diketahui.
Terkait populasi badak yang kian terancam, Anwar meminta pemerintah, pegiat lingkungan serta pemangku kepentingan lainnya mengambil langkah tegas.
Baca Juga :Â Badak jawa jantan Manggala mati di TN Ujung Kulon
Sementara itu, Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Tandya Tjahjana mengatakan pemerintah terus berupaya menyelamatkan populasi badak di Indonesia.
KLHK, kata dia, terus bekerja dengan berbagai instansi di antaranya perguruan tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pegiat lingkungan, pemerintah daerah dan sebagainya untuk menyelamatkan populasi badak.
Hal yang paling penting dilakukan ke depan yaitu terus melakukan penyelamatan dan memindahkan badak ke tempat yang lebih nyaman. Menurut kajian para ahli, badak termasuk spesies yang cukup sensitif untuk dilakukan pengembangbiakan.
“Upaya penyelamatan badak tidak mudah dan butuh kerja sama dengan berbagai pihak,” katanya. (ant)