Bung Hatta Menjawab (1)
mimbarumum.co.id – Buku “BungHatta Menjawab” yang diterbitkan Penerbit GunungAgung – Jakarta, 1978, berisi banyak hal tentang bagaimana Indonesia merdeka serta dibangun kemudian.
Kontennya, tanya jawab antara ekonom Dr H Zainul Yasni lahir di Sumatera Barat – meninggal 13 Juni 1996 dalam durasi setahun sejak 1977 dengan BungHatta (Dr HC Drs H Mohammad Hatta, 12 Agustus 1902 – 14 Maret 1980), negarawan utama, proklamator kemerdekaan Indonesia bersama BungKarno, ekonom, “Bapak Demokrasi” serta “Bapak Koperasi” yang menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia pertama.
Penulisannya kemudian disempurnakan Darsjaf Rahman, seorang tokoh sastra Indonesia.
Buku tersebut diterbitkan ketika BungHatta berulang tahun ke-76 pada 12 Agustus 1978.
Cuplikan wawancara –terkait ekonomi, koperasi dan koperasi versus komunisme– dimuat dalam 3 seri bersambung karena dipandang masih sangat relevan sebagai sumber pemikiran dan inspirasi dewasa ini, serta di kemudian hari.
Misalnya, apakah setelah 76 tahun merdeka negeri ini dalam kenyatannya makin mendekati cita-cita pendiri republik ini, dulu, yakni antara lain: Melindungi segenap bangsa Indonesia; memajukan kesejahteraan umum (termasuk bidang ekonomi); dan mencerdaskan kehidupan bangsa? Atau, sebaliknya justru makin jauh?
Dr H Zainul Yasni:
BAGAIMANA asal-usul perumusan UUD pasal 33 dan tafsiran resminya, bahwa yang dimaksud dengan “perekonomian disusun atas kekeluargaan” itulah koperasi.
Bung Hatta:
LATAR belakangnya adalah pandangan kami, waktu itu kami menjadi mahasiswa di Eropa, melihat ekonomi di Indonesia. Kita lihat di masa itu bahwa ekonomi yang di atas dipegang sama sekali oleh orang kulit putih. Ekonomi yang pertengahan hampir 90% dipegang oleh orang Cina. Jadi yang dipegang oleh orang Indonesia ialah yang kecil. Segala yang kecil!
Terang tidak mungkin yang kecil-kecil itu bisa jadi kuat dengan gayanya sendiri.
Maka kami pelajari masalah ini di sana. Bersama Dr Samsi kami meninjau perkembangan koperasi di Skandinavia, seperti di Denemarken, Sweden dan Norwegia.
Semuanya itu menambah keyakinan kepada kami, bahwa pedagang kecil dan petani kecil serta semua yang serba kecil, dapat dibantu dan diperkuat dengan koperasi.
Itulah, maka setelah kami kembali ke Indonesia kami anjurkan di majalah-majalah ditulis tentang koperasi.
Di masa sebelum perang sekembali kami dari Eropa, masih dalam masa penjajahan, kami mulai melaksanakan koperasi sebagai percobaan dalam rangka salah satu usaha perdagangan nasional.
Di Sawah Besar, Jakarta tempat saya tinggal dulu, kami mulai dengan koperasi konsumsi, mengingat di Inggris ternyata berhasil sekali koperasi konsumsinya dalam usaha anggota-anggota bersama-sama untuk memperoleh barang konsumsi dengan harga yang murah.
Prinsip utamanya adalah bahwa anggota-anggota membeli pada koperasi sendiri.
***
TOKO-toko Cina di sekitarnya merasa ketinggalan dan merasa terpotong jalannya.
Mereka tahu bahwa koperasi baru berdiri dan tentunya para anggotanya belum paham betul akan hakikat koperasi tersebut.
Orang-orang Cina itu mencoba mempertahankan diri dengan membanting harga.
Para anggota tertarik dan membeli ke sana.
Akibatnya koperasi yang baru itu ditinggalkan lagi dan koperasi hancur.
Sifat kita mau semuanya berlalu cepat.
Mulai saat itu insyafkah saya, bahwa tidak tepat mulai dengan koperasi konsumsi.
Seperti di Inggris waktu itu yang koperasi konsumsinya sangat maju.
***
DALAM pada itu Dr Soetomo di Jawa Timur memulai dengan koperasi kredit (simpan pinjam), dan ternyata lebih berhasil.
Meskipun dalam paham dasar koperasi waktu itu lebih mendalam tertanam di Jawa Barat dari Jawa Timur.
Tetapi karena taktik Cina tadi untuk menghancurkan koperasi, perkembangan koperasi konsumsi itu terhambat.
Dan karena itu saya anjurkan untuk menggiatkan koperasi simpan pinjam seperti di Jawa Timur.
Tetapi belum sempat berjalan, saya sudah ditangkap Belanda dibuang ke Digul.
Tetapi kawan-kawan dari pergerakan nasional yang tinggal, dan meneruskan perjuangan, banyak mempergunakan koperasi sebagai salah satu alat perjuangan politik untuk kemerdekaan.
***
SESUDAH kemerdekaan, koperasi terus kita laksanakan terutama sejak tahun 1947, koperasi simpan pinjam maju dengan baik.
Rusli Rahim dari Jawatan Koperasi waktu itu membinanya dengan baik.
Latihan dan ide koperasi ditanamkan lebih dulu.
Peraturan tentang waktu peminjaman dipegang teguh, sehingga perkembangan koperasi simpan pinjam itu berjalan dengan baik dan maju.
Akan tetapi sejak Iskaq jadi Menteri Perekonomian dan yang dengan tegas ia katakan bahwa ia hendak mengembangkan “kapitalis-kalitalis” Indonesia dengan sistem Benteng Groupnya, maka praktis hanya Jawatan Koperasi saja yang memikirkan koperasi.
Kebijaksanaan Menteri Perekonomian sendiri waktu itu tidak menolong dan apalagi mengembangkan koperasi.
Kemudian di waktu Orde Lama koperasi dijadikan alat politik Nasakom.
Tenaga-tenaga inti koperasi yang masih tertinggal di dalam Pemerintahan dan tubuh koperasi itu sendiri, satu persatu disingkirkan.
Catatan:
(1) Pasal 33 ayat (1) UUD 1945 menegaskan bahwa “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.” Maknanya sangat dalam. Sistem ekonomi yang dikembangkan seharusnya tidak basis persaingan, serta atas asas yang sangat individualistik.
(2) Dr Samsi Sastrawidagda (lahir: Solo, 13 Maret 1894 – wafat 1963) adalah Menteri Keuangan Pertama Indonesia. Ia menempuh pendidikan ekonomi dan hukum negara di Sekolah Tinggi Dagang (Handels-hogeschool) di Rotterdam.
Gelar akademik terakhir yang didapat tahun 1925 adalah gelar Doktor dengan disertasi De Ontwikkeling v.d handels politik van Japan. Selama di Rotterdam, ia dikenal sebagai pemukul gong dalam perkumpulan gamelan pribumi.
(3) Dr Soetomo atau Soebroto 30 Juli 1888 – 30 Mei 1938 tokoh pendiri Budi Utomo, organisasi pergerakan pertama Indonesia. Soebroto mengganti namanya menjadi Soetomo saat masuk ke sekolah menengah.
Pada 1903, Soetomo menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), Batavia. Bersama kawan-kawan dari STOVIA inilah Soetomo mendirikan perkumpulan Budi Utomo, pada 1908.
Setelah lulus pada 1911, ia bekerja sebagai dokter pemerintah di berbagai daerah di Jawa dan Sumatera. Pada 1917, Soetomo menikahi perawat Belanda.
Pada 1919 sampai 1923, Soetomo mendapatkan beasiswa dan melanjutkan studi spesialis kedokteran di Universitas Amsterdam.
Selama kuliah, Soetomo ikut berkegiatan di Indische Vereeniging.
Soetomo juga sempat dipilih menjadi ketua Indische Vereeniging periode 1921–1922.
(4) Iskak Tjokroadisurjo 11 Juli 1896 – 11 September 1984 politisi Indonesia, pakar hukum. Ia salah satu tokoh pendiri PNI di Bandung, 4 Juli 1927 (ketika itu masih bernama Perhimpunan Nasional Indonesia) bersama Soekarno, Mr Sartono, Mr RS Budhyarto Martoatmodjo, Mr Sunario Sastrowardoyo, Dr Samsi Sastrawidagda, Ir Anwari, dan dr Tjipto Mangoenkoesoemo sekaligus menjabat sebagai sekretaris dan bendahara pertama perkumpulan tersebut.
Pada masa kemerdekaan, ia pernah memangku jabatan sebagai Residen Banyumas dan Walikota Surakarta saat perang fisik kemerdekaan, Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Sukiman-Suwiryo 1951-1952, Anggota Konstituante mewakili PNI dan Menteri Perekonomian dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo-I 1953-1955.
Ketika menjabat Menteri Perekonomian, ia mencetuskan ide sistem ekonomi Ali-Baba, yaitu suatu sistem ekonomi yang berusaha untuk membangkitkan wiraswasta lokal (pribumi) Indonesia.
Ia lahir di Ngepeh, Ngoro, Jombang pada 11 Juli 1896. Setelah menyelesaikan Sekolah Kehakiman 1917, ia melanjutkan ke bagian hukum Universitas Leiden, Belanda dan lulus pada tahun 1925 dan kemudian ia menjadi pegawai kehakiman 1917-1922 dan sebagai pengacara di Surabaya 1925. (bersambung)
Tulisan ini telah diterbitkan di Koran MIMBAR UMUM Edisi Rabu, 15 Desember 2021