Amri Wujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi Memberhangus Covid-19

Berita Terkait

mimbarumum.co.id – Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang melanda seantero dunia menjadi peristiwa besar mengganggu pelbagai sektor termaksud di antaranya proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi.

Kejadian ini menjadi atensi serius bagi pemangku kebijakan di Perguruan Tinggi untuk menyikapinya dan mencari jalan keluar atau solusi agar bagaimana proses pembelajaran tetap berlangsung sesuai yang diharapkan.

Tentunya ini menjadi tugas bersama untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, di mulai dari hal kecil dari diri sendiri dan orang di sekitar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (Prokes).

Hal tersebut disampaikan Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Dharmawangsa Medan M. Amri Nasution SE, M.Si kepada wartawan, Rabu (30/12/2020) saat dimintai pendapatnya tentang apa yang sudah dilakukan dalam memutus rantai penyebaran wabah Covid-19.

- Advertisement -

“Masa wabah Covid-19 sampai saat ini masih belum usai. Perguruan Tinggi dituntut untuk bisa beradaptasi, berbagai upaya harus dilakukan memutusnya dengan cara bekerjsama dari diri sendiri dan orang di sekitar kita, agar memberikan sumbangsi nyata bagi masyarakat dalam menghadapi pandemi,” kata Amri Nasutioan.

Baca Juga : Mengapa Ulat Bulu? Dr. Rosliani Mengulas Sajak Suyadi San

Amri yang sebelumnya menjabat Ketua Program Studi (Kaprodi) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dharmawangsa Medan menceritakan, bahwa untuk dapat bertahan di masa pandemi, dosen harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, karena sebagai dosen dituntut untuk lebih adaptif dalam menjalani kehidupan kampus.

Berkativitas di ruang berukuran 4 × 4 meter dengan diselimuti pendingin AC dan berjejer beberapa buku tentang Ekonomi. Menurutnya, pembelajaran masa pandemi dosen wajib lebih ekstra menyiapkan bahan ajar yang disampaikan via virtual.

Adanya unsur keterpaksaan untuk perubahan ini juga perlu dilihat sebagai perangsang organisme bagian tubuh atau reseptor lain untuk menjadi aktif sehingga tercapai keadaan yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Dia mengutarakan sebagai akademisi pantang baginya untuk mengibarkan bendera putih sebagai tanda mengalah dengan keadaan di masa Covid, perjuangan harus terus dikobarkan demi mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Tri Dharma Perguruan Tinggi harus diwujudkan di masa Covid, takkan ada bendera putih berkibar. Api merah semangat perjuangan harus terus berkobar caranya, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Hal itu adalah bentuk perjuangan saat ini,” imbuhnya.

Mengusir Covid-19 ini harus bersatu untuk melawannya, memiliki niat dan komitmen menerapkan Prokes. Ini selalu saya tekankan terhadap mahasiswa saat masuk kampus maupun saat berada di luar kampus. Selain itu, upaya yang juga dilakukan di antaranya, melakukan pengembangan inovasi teknologi dan teknologi informasi, serta melalui program belajar secara daring terhadap mahasiswa.

Disebutkan warga Jalan Periuk Medan ini, segala aktivitas akademik yang biasa di kampus, namun saat masa pandemi ini harus dilakukan dari rumah.
Kebijakan dan fenomena pandemi yang dampaknya luar biasa dan terjadi begitu cepat telah memaksa dunia pendidikan tinggi mengubah pola kerja pelayanan dari konvensional menjadi pelayanan berbasis daring.

“Sisi negatif dari sistem pembelajaran daring salah satunya adalah tidak semua mahasiswa memiliki tingkat kepahaman yang sama. Bagi mahasiswa yang rajin dan mudah menyerap informasi maka cara belajar daring akan dengan mudah diserap, namun bagi yang kurang terbiasa dengan cara itu, kemungkinan akan kesulitan menyerap ilmu, bahkan sulit beradaptasi dengan aplikasi teknologi yang digunaka,” tutur Nasution penyandang DAN V Jujitsu.

Ia menyarankan kepada mahasiswanya selalu untuk menghindari kerumunan dapat dilakukan dengan menjaga jarak atau mencari tempat-tempat yang sepi pengunjung. Ditegaskannya, berkumpulnya banyak orang dalam satu tempat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penularan Covid, jika terdapat salah satu orang yang terinfeksi virus.

“Sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia tidak semua orang trend dengan hand sanitizer. Mungkin dulu banyak yang merasa malu apabila sering-sering menggunakan hand sanitizer dan cuci tangan. Kini semua orang tahu apa fungsi dan manfaat cuci tangan yang benar dan menggunakan hand-sanitizer saat pandemi saat ini. Tidak mengherankan hand sanitizer selalu tersedia di dalam saku atau tas bagi masyarakat saat ini,” ucap alumni SMA Amir Hamzah Medan.

Amri yang juga sebagai fungsionaris MPC PP Kota Medan tidak bosan-bosannya menyerukan mahasiswa agar jangan kendor memakai masker saat memasuki kampus dan saat beraktifitas sehari-hari.

Atas dasar itu, pengurus KNPI Kota Medan tersebut, selalu mengimbau seluruh civitas akademika Universitas Dharmawangsa Medan untuk mendukung imbauan pemerintah dan WHO dalam memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 dengan wajib menggunakan masker di lingkungan kampus.

Alumni Pasca Sarjana USU ini memaparkan saat ini Kota Medan memasuki adaptasi kebiasaan baru dan menetapkan penerapan Prokes wajib ditaati oleh seluruh warga kampus selama berada di lingkungan kampus Universitas Dharmawangsa Medan.

“Ini semua dilakukan demi kepentingan orang banyak dan memutus rantai penyebaran Covid-19. Tidak ada alasan untuk tidak menerapkan protokol kesehatan, sudah banyak korban jiwa jangan sampai kita yang menjadi korban selanjutnya, mari kita perjuangkan memberhangus wabah Covid,” tandasnya.

Reporter : Jepri Zebua

Editor      : Dody Ferdy

Tinggalkan Balasan

- Advertisement -

Berita Pilihan

Komunitas Indonesia Tionghoa Berikan Kursi Roda ke Warga Medan Johor Mengalami Sakit

mimbarumum.co.id - Komunitas Indonesia Tionghoa (KITA) berbagi kasih kepada warga Kelurahan Kedai Durian, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan dengan...