mimbarumum.co.id – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat stimulus kebijakan makroprudensial untuk mendorong kredit atau pembiayaan perbankan.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan 4 stimulus makroprudensial yang telah dirancang. Pertama meningkatkan efektivitas implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong kredit atau pembiayaan perbankan kepada sektor-sektor prioritas yang memiliki daya ungkit besar terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Yakni melalui pemetaan secara berkala atas sektor-sektor prioritas dan penguatan koordinasi dengan Pemerintah, otoritas keuangan, perbankan dan pelaku usaha,” jelas dia dalam paparan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang disiarkan langsung melalui channel Youtube, Selasa (30/1/2024).
Menurutnya, implementasi KLM telah memberikan tambahan likuiditas ke sektor keuangan sebesar Rp 165 triliun per posisi Desember 2023, atau meningkat sebesar Rp 56 triliun sejak penerapan KLM pertama kali di 1 Oktober 2023.
Lalu yang kedua, menurunkan rasio Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM) sebesar 100 bps dari 6% menjadi 5% untuk Bank Umum Konvensional (BUK). Yakni dengan fleksibilitas repo sebesar 5%; dan rasio PLM syariah sebesar 100 bps dari 4,5% menjadi 3,5% untuk Bank Umum Syariah/Unit Usaha Syariah (BUS/UUS), dengan fleksibilitas repo sebesar 3,5%, yang berlaku efektif sejak 1 Desember 2023.
“Penurunan ini ditujukan untuk memberikan fleksibilitas pengelolaan likuiditas oleh perbankan dalam penyaluran kredit/pembiayaan dan mendorong pendalaman pasar keuangan, yang berlaku efektif sejak 1 Desember 2023,” jelasnya.
Ketiga, lanjutnya, melanjutkan pelonggaran rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor properti dan melanjutkan pelonggaran ketentuan Uang Muka Kredit/Pembiayaan Kendaraan Bermotor menjadi paling sedikit 0% untuk semua jenis kendaraaan bermotor baru, dengan tetap memerhatikan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko.
“Dan keempat mempertahankan rasio Countercyclical Capital Buffer atau CCyB sebesar 0%; dan Rasio Intermediasi Makroprudensial atau RIM pada kisaran 84-94%,” tandasnya.
Reporter : Siti Amelia


