Hakekat berqurban adalah kekuatan diri menyembelih hawa nafsu. Hawa nafsu menumpuk kekayaan, sehingga dikuasai oleh harta, hingga nafsu jabatan yang terkadang melupakan rambu dan nilai nurani. Sehingga menjadikan manusia lebih hina dari binatang ternak.
Daging Qurban dalam kontek ketaqwaan bukan diserahkan kepada Allah. Tetapi, nilai utama yang di lihat Allah adalah ketaqwaan sang pelaku qurban, sehingga ia mampu menjadikan Qurban bagian atau sarana mendekatkan diri kepada Allah. Karena, nilai Qurban itu
sebenarnya dimulai dari keikhlasan.
Dewasa ini, kita menyaksikan bahwa sangat banyak peserta Qurban yang tak mengerjakan sholat. Ada tukang potong dan panitia qurban juga tak sholat. Bahkan, dilaporkan ke saya ada juga pelaksana qurban yang tak sholat dan tak puasa Ramadhan. Akhirnya, ia tertipu
dengan godaan syaithan. Mengerjakan yg sunnah, meninggalkan yang wajib.
Sebaliknya, ada yang rajin sholat tapi tak giat menabung untuk qurban.akhirnya, sepanjang hidupnya tak berqurban. Hanya puas menjadi panitia dan penerima daging qurban. Seharusnya,
dua sisi kontradiktfi ini disatukan. Diseimbangkan antara ibadah sosial ibadah wajib kepada Allah.


