mimbarumum.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan melalui Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat bekerja sama dengan MSQ Training Motivation dan Badan Silaturahmi Pesantren Sumatera Utara (BSPSU) Kota Medan menggelar Workshop & Upgrading Revitalisasi Dakwah Strategis Pesantren di Era Digital, Sabtu (7/11/2026), di Kantor Wali Kota Medan.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kelembagaan pesantren, memperkuat peran strategisnya dalam dakwah Islam, serta mendorong transformasi dan inovasi dakwah agar mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Kota Medan, KH. Sutan Syahrir, M.A.; Ketua BSPSU Kota Medan, Dr. H. Yose Rizal, S.Ag., M.M.; serta Bendahara Umum MUI Kota Medan, Prof. Dr. H. Watni Marpaung, M.A., yang hadir mewakili Ketua Umum MUI Kota Medan.
Turut hadir mewakili Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, M.M., yakni Staf Ahli Wali Kota Medan Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), Dr. H. Adlan, S.Pd., M.M., serta Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kota Medan, H. Agus Maryono, S.Ag., M.Pd.I.
Workshop ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Motivator Dakwah Nasional KH. Muhammad Fadhli Sudiro, M.H., MSQ; Ketua Limpol yang dikenal sebagai konten kreator nasional; serta Ketua STIT Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara, Assoc. Prof. Dr. Mursal Aziz, M.Pd.I.
Ketiga narasumber membahas berbagai aspek penguatan dakwah pesantren, mulai dari revitalisasi kelembagaan, pengembangan pendidikan strategis, hingga pemanfaatan teknologi digital sebagai instrumen dakwah yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.
Pengembangan dakwah digital tersebut diarahkan agar pesantren mampu mengikuti perubahan sosial dan kemajuan teknologi tanpa kehilangan identitas keislaman serta tradisi luhur kepesantrenan.
Salah satu tindak lanjut yang direncanakan dari kegiatan ini adalah penyusunan buku tentang revitalisasi dakwah strategis pesantren di era digital. Buku tersebut diharapkan dapat menjadi dokumentasi pemikiran sekaligus referensi bagi pengembangan dakwah dan pendidikan pesantren.
Kegiatan ini melibatkan pimpinan dan perwakilan dari 15 pondok pesantren di Kota Medan, yakni Pondok Pesantren Al-Kautsar Al-Akbar, TPI Darul Hikmah, Ta’dib Al-Syakirin, Usman Syarief, Usamah Bin Zaid, Ar-Raudhatul Hasanah, Amrullah Al-Akbar, Hidayatullah, Luqmanul Hakim Salafiyah, Ibnu Aqil, Al-Falah, Sulaimaniyah, As-Sudaniyah, Sejahtera, dan Ulumul Qur’an Medan.
Keterlibatan 15 pesantren tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat komunikasi dan jejaring kelembagaan, sekaligus menghimpun gagasan serta pengalaman dalam pengembangan dakwah dan pendidikan Islam.
Dalam forum tersebut, peserta juga didorong melakukan pemetaan terhadap kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) yang dihadapi pesantren dalam menjalankan peran dakwah di tengah masyarakat digital.
Sejumlah agenda strategis turut menjadi pembahasan, antara lain penguatan pesantren sebagai pusat pendidikan Islam, dakwah, pembinaan umat, dan pemberdayaan masyarakat; peningkatan kompetensi pengelola pesantren; serta optimalisasi media digital untuk kegiatan dakwah, pendidikan, publikasi, dan penguatan citra kelembagaan.
Melalui rangkaian pembukaan, penyampaian materi, diskusi, dan upgrading, kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi bersama sebagai bahan penguatan kebijakan dan program revitalisasi dakwah serta pendidikan pesantren di Kota Medan.
Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Kota Medan berharap kegiatan ini menjadi momentum memperkuat sinergi antara MUI Kota Medan, BSPSU, Pemerintah Kota Medan, dan seluruh pondok pesantren.
Revitalisasi dakwah pesantren di era digital bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai sarana memperluas jangkauan dakwah, meningkatkan kualitas pendidikan, dan memperbesar kontribusi pesantren dalam membangun masyarakat yang religius, berilmu, serta berakhlak mulia.
Dengan penguatan kapasitas kelembagaan dan pemanfaatan teknologi secara tepat, pesantren diharapkan tetap kokoh mempertahankan identitas serta tradisi keilmuannya, sekaligus tampil sebagai lembaga dakwah yang profesional, inovatif, dan responsif terhadap tantangan zaman.
Reporter: Islahuddin Panggabean

