mimbarumum.co.id – Produktivitas kerja kerap kali dinilai hanya dari angka capaian target harian. Padahal, faktor keselamatan dan kesehatan kerja (K3), baik di sektor kantor modern maupun di lapangan informal, memegang peranan vital terhadap performa perusahaan dan kualitas hidup pekerja.
Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi di Columbia Asia Hospital Medan, dr. Muhammad Rizqi Nasution, MKK, SpOk, menekankan bahwa investasi pada kesehatan kerja bukan sekadar formalitas administratif.
Upaya pencegahan penyakit akibat kerja (PAK) dan cedera ergonomis jauh lebih efisien dibandingkan biaya medis serta kerugian produktivitas akibat pekerja yang tidak fit.
Banyak gangguan fisik pekerja kantor, seperti Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau saraf terjepit, berawal dari posisi duduk yang keliru dan kurangnya peregangan. Biaya medis untuk penanganan operasi tulang belakang dapat mencapai ratusan juta rupiah, belum termasuk kehilangan produktivitas selama masa pemulihan.
Untuk mencegah hal tersebut, penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara resmi di lingkungan kerja sangat diperlukan, seperti Modifikasi Ergonomi. Diantaranya, penggunaan tatakan mouse pad bergelombang untuk penyangga siku serta penyangga laptop agar posisi layar sejajar dengan pandangan mata.
Kemudian, lakukan peregangan berkala dengan pemberlakuan sesi peregangan singkat 1–2 menit pada jam kerja tertentu (seperti jam 10 pagi) fokus pada area leher, bahu, dan kaki.
Selain itu, dr. Rizqi menyoroti fenomena presenteeism, kondisi di mana karyawan tetap hadir di tempat kerja namun tidak dapat berfungsi optimal karena sedang sakit atau mengalami gangguan kesehatan fisik maupun metabolik (seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi).
“Kondisi metabolik tidak hanya meningkatkan risiko penyakit kronis, tetapi juga dapat menurunkan konsentrasi, daya tahan tubuh, hingga kemampuan seseorang dalam menjalankan pekerjaannya secara optimal,” jelas dr. Rizqi.
Pengawasan Risiko di Sektor InformalTantangan K3 tidak hanya terjadi di korporasi, tetapi juga pada sektor pekerja informal seperti petani. Berbeda dengan industri perkebunan terpadu yang memiliki regulasi takaran racun ketat, banyak petani mandiri mencampur pestisida hanya berdasarkan insting (feeling) dan menyemprot tanpa Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.
Paparan pestisida tanpa perlindungan masker, kacamata pelindung, baju lengan panjang, dan sarung tangan dapat menyebabkan masalah jangka panjang, mulai dari kerusakan retina mata, masalah pernapasan, hingga gangguan sistem saraf.
Sebagai bentuk pencegahan, Columbia Asia Hospital Medan menghadirkan layanan kedokteran okupasi komprehensif bagi korporasi dan pekerja ini. Meliputi Medical Check-Up (MCU) Berbasis Risiko. Pemeriksaan rutin minimal satu kali dalam setahun yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan.
Kemudian penilaian lingkungan kerja dengan melakukan evaluasi langsung di lokasi kerja untuk mengukur tingkat kebisingan, kesesuaian ergonomi, hingga risiko psikososial (stres dan kecemasan kerja).
Dilakukan juga penilaian medis untuk menentukan kelayakan pekerja kembali beraktivitas pasca-operasi, sakit berat (seperti stroke), atau kecelakaan kerja secara obyektif tanpa mendiskriminasi kemampuan fisik pekerja.
Mengutip prinsip Mens Sana in Corpore Sano, dr. Rizqi mengingatkan bahwa menjaga kebugaran tubuh adalah tanggung jawab personal setiap pekerja agar tetap produktif dan berguna bagi keluarga maupun tempat bekerja. “Jangan jadikan hidup sehat hanya sebagai validasi gaya hidup atau sekadar mengikuti tren. Jadikan hidup sehat sebagai kebutuhan dasar (basic needs). Gunakan fasilitas jaminan kesehatan yang diberikan perusahaan untuk pencegahan dan pemeriksaan rutin, bukan tunggu sakit baru berobat,” tegasnya.
CEO Columbia Asia Hospital Medan, dr. Stella Sheyren Sumampow, MARS., CDCAP., CHAE., CPCCP, turut menambahkan bahwa perusahaan perlu memandang kesehatan pekerja sebagai investasi langsung terhadap produktivitas dan performa profit korporasi.
“Menjaga kesehatan karyawan bukan hanya upaya melindungi individu, tetapi juga investasi yang berdampak pada keberlanjutan dan produktivitas perusahaan,” katanya.
dr Stella bilang, melalui layanan kesehatan kerja yang komprehensif, mencakup medical check-up, deteksi dini risiko metabolik, serta pendampingan kesehatan berkelanjutan, Columbia Asia Hospital Medan ingin menjadi mitra dunia usaha dalam membangun tenaga kerja yang sehat dan produktif.
Reporter :Â Siti Amelia


